Peristiwa

Begini Klarifikasi KPK Terkait Hoaks Terhadap Pegawainya dan Novel Baswedan

Juru Bicara KPK Febri Diansyah

Jakarta (beritajatim.com) – Beberapa waktu belakangan ini beredar gambar dan foto yang dipandang bentuk serangan dan penyebaran informasi tidak benar dan dapat membentuk wacana negatif tentang KPK dan pegawai KPK Novel Baswedan.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, terdapat foto hitam-putih yang memperlihatkan Penyidik KPK, Novel duduk dengan Gubernur DKI Anies Baswedan saat di sebuah masjid seusai sholat. Foto itu kemudian dikaitkan-kaitkan seolah-olah berimplikasi dengan sebuah lembaran yang tertulis “Tanda Bukti Penerimaan Laporan/Informasi Dugaan TPK”.

“KPK memastikan dua hal tersebut tidak berhubungan,” kata Febri, Kamis (3/10/2019) malam.

Dia juga menegaskan, pengaduan masyarakat bersifat tertutup dan diproses di Direktorat Pengaduan Masyarakat yang berada di bawah Kedeputian PIPM. Ini merupakan kedeputian yang terpisah dengan tempat Novel bertugas, yaitu: Direktorat Penyidikan pada Kedeputian Bidang Penindakan. Sehingga, tidak memungkinkan bagi seorang Penyidik untuk mengetahui apalagi mempengaruhi proses telaah dan analisis di Direktorat Pengaduan Masyarakat. “Setelah kami cek, peristiwa dalam foto tersebut terjadi setelah sholat pada awal Juni 2017,” kata Febri.

Menurut Febri, saat itu Novel masih dalam proses perawatan mata setelah operasi di Singapura. Sebagaimana diketahui, Novel diserang dengan siraman air keras usai sholat subuh pada 11 April 2017 lalu. Seari kemudian, Novel dilarikan ke RS di Singapura untuk mendapatkan tindakan medis. Artinya pada awal Juni 2017 itu, Novel masih berada dalam perawatan intensif.

“Ada banyak pihak yang mengunjungi atau membesuk Novel di Singapura, termasuk Anies Baswedan yang masih memiliki hubungan saudara dengan Novel,” ujar Febri.

Akan tetapi, lanjut Febri, dengan dibentuknya framing seolah-olah hubungan saudara dan foto tersebut mempengaruhi penanganan perkara di KPK, Febri memastikan hal tersebut tidak terjadi.

Karena di KPK terdapat aturan yang tegas tentang anti konflik kepentingan. Ada larangan di Undang-undang hingga aturan kode etik KPK.

“Jika ada pihak dalam perkara memiliki hubungan keluarga dengan pegawai KPK yang menangani kasus tersebut maka pegawai wajib menyatakan dan mundur dari tugas tersebut,” katanya.

Kemudian, Foto Novel di bandara saat ia akan berangkat ke Singapura untuk melakukan pengobatan mata. Febri kembali menegaskan, saat itu sejak 19 September 2019 Novel melakukan pengobatan di sebuah klinik di Singapura. Saat itu dilakukan CT Scan terhadap mata Novel dan ditemukan pendarahan dalam retina, sehingga perlu dilakukan beberapa tindakan. Hal ini berpengaruh terhadap penglihatan Novel.

Kemudian diedarkan kembali hoaks yang beredar saat pansus Angket berjalan, seperti: keterangan salah satu tersangka di KPK yang terkait dengan kasus suap terhadap Ketua Mahkamah Konstitusi, bahwa seolah-olah ada seseorang yang menyerahkan indekos 50 kamar di Bandung sebagai tukar guling perkara. Informasi ini juga sudah kami klarifikasi sebelumnya bersamaan dengan sejumlah informasi bohong yang diedarkan saat itu.

“Kami percaya masyarakat akan hati-hati dan rasional dalam mencerna Informasi yang beredar, apalagi saat ini Informasi palsu dengan berbagai cara diproduksi untuk tujuan-tujuan yang tidak benar,” kata Febri. [hen/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar