Peristiwa

Begini Kepedulian SSC Surabaya Terhadap Anjal

Surabaya (beritajatim.com) – Komunitas yang resmi didirikan pada 5 Juni 2011 ini aktif bergerak di bidang pendidikan dan sosial khususnya bagi anak jalanan (Anjal) Kota Surabaya. Save Street Child Surabaya atau lebih akrab di kalangan komunitas disebut SSC Surabaya.

SSC Surabaya diprakarsai oleh 7 orang pendiri. Awalnya, mereka melakukan komunikasi hanya lewat media sosial Twitter. Komunitas ini didasari oleh masalah anak jalanan di kota kota besar yang cukup banyak pada saat itu, Surabaya salah satunya.

“Awalnya dibentuk oleh 7 orang, tapi sekarang mereka sudah tidak bisa ikut mungkin karena kesibukan masing-masing,” ujar Advin, ketua SSC Surabaya, Kamis (18/7/2019).

Anggota komunitas ini bersifat volunteer. Artinya bebas untuk segala usia, latar belakang, dan pekerjaan. Perekrutan anggota berkala diadakan 3 bulan sekali atau kadang 6 bulan sekali. Mahasiswa, pekerja, atau yang sudah berumahtangga semua boleh ikut dan bergabung dengan SSC Surabaya.

“Kebetulan untuk bulan ini (Juli), kami melakukan perekrutan dan sudah penutupan juga, untuk pendaftar ada sekitar 140-an,” katanya menambahkan.

SSC, lanjut Advin, sebenarnya pertama kali dibentuk di Jakarta pada bulan Mei. Namun melihat banyaknya kasus anak jalanan di Surabaya, akhirnya dibentuklah SSC Surabaya. Hampir setiap kota besar ada komunitas SSC. Semua itu hanya bersifat jaringan, tidak ada induk organisasi atau semacamnya.

SSC Surabaya bergerak fokus dalam pendidikan, sosial, hak anak, dan juga ada pemberian beasiswa. Dalam komunitas ini, anak jalanan disebut sebagai ‘anak merdeka’. Itu salah satu tujuan SSC untuk memerdekakan hak-hak anak jalanan di Surabaya ini.

Advin menjelaskan, ada beberapa agenda rutin komunitas ini. Semisal, Jumat Sehat yakni acara rutin digelar setiap hari Jumat malam untuk sekedar berbagi keceriaan dengan minum susu kotak dan biskuit bersama. Ada 4 titik lokasi antara lain, JMP, Rangkah, Ambengan Selatan, Gemblongan. “Untuk Jumat ini (12/7/2019) digelar di JMP,” ungkap pria 28 tahun ini.

Agenda lain seperti pengajaran (Pengajar Keren) sebutan khusus komunitas SSC Surabaya, rutin diadakan di beberapa titik lokasi tempat anak-anak jalanan berkumpul. Diantaranya di Taman Bungkul, sekitar persiapan Ambengan, JMP, pemukiman kumuh Stasiun Gubeng, dan Taman Paliatif.

“Program beasiswa diadakan sebuah ‘Open Donatur’ di internet, bagi siapa saja yang mau berpartisipasi. Dari total 150 anak jalanan yang terhimpun, hampir 30 anak disekolahkan gratis oleh SSC Surabaya. Total 150-an anak tersebar di tujuh lokasi di Surabaya. Sebanyak 30 diantaranya mendapatkan beasiswa sekolah formal dari TK hingga SMK,” ucap Advin.

Pendanaan atau biaya operasional dari komunitas ini semuanya bersifat sukarela atau donasi seikhlasnya. Pihak SSC menjelaskan bahwa tidak pernah mengajukan bantuan materil ke pemerintah seperti Dinas Sosial. Pemerintah secara tidak langsung sudah menyediakan fasilitas tempat berkumpul untuk komunitas ini yang berupa taman.

“Satu tahun pertama banyak dapat tentangan dari orang tua anak jalanan, tapi makin kesini mereka semua makin paham pentingnya pendidikan,” jelasnya.

Memang menjadi hambatan tersendiri saat pertama, kebanyakan orang tua dari anak jalanan menentang dan tidak setuju. Namun sekarang mereka mulai terbuka dan support terhadap SSC Surabaya. Makin banyak pula anak jalanan yang bergabung.

Advin berharap, kedepannya makin banyak komunitas serupa hadir di Surabaya. Juga makin banyak orang yang peduli dengan anak jalanan. Karena masalah anak jalanan tidak bisa diselesaikan hanya seorang, butuh bantuan banyak orang. “Semoga masih ada orang yang mau berbagi,” jelas Advin. [mfr/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar