Peristiwa

Santri Dianiaya Hingga Meninggal, Ponpes Akui Kecolongan dan Minta Maaf

Didampingi kuasa hukum Ponpes Mamba'ul Ulum klarifikasi dan minta maaf pernyataan sebelumnya. [Foto : misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Melalui kuasa hukumnya, Pondok Pesantren (Ponpes) Mamba’ul Ulum meminta maaf atas pernyataan sebelumnya yang mengatakan bahwa tidak ada penganiayaan hingga menyebabkan salah satu santrinya meninggal. Ponpes mengaku kecolongan dalam hal ini.

Kuasa hukum Ponpes Mamba’ul Ulum, Agus Salahudin mengatakan, pihak pondok sama sekali tidak pernah membantah atau menutup-nutupi masalah tersebut. “Jadi pada waktu itu kejadiannya sangat singkat. Gus Didin waktu itu ke RS ketika mendapatkan laporan dari anak-anak,” ungkapnya, Sabtu (24/8/2019).

Masih kata Agus, pihak pondok menanyakan ke santri terkait kejadian tersebut. Namun pihak santri menjelaskan bahwa ada santri terjatuh dari lantai II. Karena ingin memberikan pengobatan lebih cepat sehingga langsung membawa ke RS tanpa menanyakan kembali kejadian yang sebenarnya.

“Gus Didin tanya ke santri, mungkin karena takut ditanya oleh pengasuh pondok kemudian santri secara langsung menjawab korban jatuh dari lantai II. Setelah itu Gus Didin tidak memperhatikan apa-apa lagi tapi pihak pondok langsung mengurusi anak tersebut agar segera ditangani RS,” katanya.

Sehingga, lanjut Agus, proses pengobatan santri bisa cepat ditangani. Namun fakta di lapangan berbeda. Saat wartawan ke Ponpes yang berada di Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, pengasuh pondok perempuan, Anisatul Fadillah memberikan keterangan sesuai dengan keterangan santri.

“Akan tetapi fakta berbeda sehingga saat keluar dari RS, wartawan datang,  Ning Dila (Anisatul Fadillah, red) langsung ngomong. Omongan Ning Dila berdasarkan atas keterangan para santri. Pondok belum tahu kejadian sebenarnya, disinilah terjadi simpang siur kejadian tersebut,” ujarnya.

Sehingga pihak ponpes meminta maaf sebesar-besarnya atas pernyataan tersebut. Menurutnya, 68 tahun Ponpes Mamba’ul Ulum berdiri belum pernah sekali terjadi penganiayaan hingga menyebabkan korban tewas. Agus menambahkan, tidak ada ponpes di seluruh Indonesia mengajarkan tentang anarkisme.

“Terkait pengawasan seluruh sudah mengawasi, namanya manusia mungkin lelah. Saya tanya, memang ada santri keluar tapi tidak tahu apa yang terjadi. Itu terbukti di pesantren tata tertib, hukum jika melanggar disiplin tidak ada yang mengajarkan kekerasan. Santri di sini yang melanggar disuruh menghafal surat pendek, praktik agama,” jelasnya.

Ada denda di Ponpes Mamba’ul Ulum, lanjut Agus, namun dikumpulkan akhir tahun dan untuk kegiatan. Kejadian penganiayaan tersebut bermula karena seringnya korban keluar pesantren, namun saat ditegur tidak mengindahkan. Tidak ada cek-cok sebelumnya antara korban dan pelaku anak, semua spontan untuk penegakan disiplin.

“Dia (pelaku anak, red) dalam rangka mengawasi anggota di kamar. Sering keluar diingatkan dengan kata-kata tapi tetap, namanya anak muda. Tidak ada cek cok, spontan. WN itu ketua kamar tugasnya mengawasi kebersihan kamar, mengatur jadwal kamar. Mungkin, sama-sama mudanya tidak bisa saling mengontrol. Tidak ada masalah pribadi,” tegasnya.

Sehingga dalam hal ini ponpes meminta maaf sebesar-besarnya kepada para wali santri, kepada ponpes-ponpes yang mana kelalaian atau kelengahan ponpes untuk mengawasi santri. Sehingga dalam hal ini pihak ponpes akan meningkatkan pengawasan lebih dalam lagi dan luas.

“Sistem pengangkatan dipilih ketika santri diletakan di kamar tersebut maka memilih pemimpin. Teman-teman internal kamar. Pondok kecolongan. Pondok akan mengikuti proses hukum, terkait masalah hukumnya dikembalikan ke pihak yang berwajib,” pungkasnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar