Kamis, 15 Nopember 2018

Sosok Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo (2-Habis)

Dari Misteri Penembakan di Jalan hingga Mafia Pungli KTP

Kamis, 08 Nopember 2018 21:10:10 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Dari Misteri Penembakan di Jalan hingga Mafia Pungli KTP

Jember (beritajatim.com) - Malam belum menjelang pagi. Baru pukul 01.45 WIB. Sebuah Pistol Revolver menyalak di depan bekas mal Hardis, Jalan Sultan Agung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (11/3/2017), pukul 01.45 WIB.
 
Dor! Dedi, seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember asal Bima, Nusa Tenggara Barat, tewas dengan rahang tertembus pelor.

Ini kasus pembunuhan pertama di depan umum yang dihadapi Ajun Komisaris Besar Kusworo Wibowo, sejak dilantik menjadi Kepala Polres Jember, 15 Desember 2016. Tersangka pembunuhan kabur. Keluarga besar warga Bima di Jember mendesak polisi bertindak cepat mengusut peristiwa tersebut.

Sialnya, Kusworo baru saja masuk rumah sakit dan harus diinfus beberapa jam sebelum penembakan. Dokter mengharuskannya istirahat total setelah didiagnosis terkena tipus.

Jam tiga dini hari, Kusworo nekat keluar dari rumah sakit dengan kantong infus tertancap di tangan menuju lokasi kejadian. Ia memimpin langsung olah tempat kejadian perkara dan menginterogasi beberapa saksi. Begitu memperoleh gambaran peristiwa itu, ia memberikan instruksi dan membagi tugas anggota Satuan Reserse dan Kriminalitas, sebelum akhirnya kembali ke rumah sakit.

Jam tujuh pagi, Kusworo bertemu dokter dan meminta untuk cabut infus agar bisa ke lapangan. Semula dokter melarangnya. Namun salah satu dokter melihat Kusworo tak akan tenang jika tetap berada di rumah sakit. Ia memutuskan Kusworo boleh keluar rumah sakit dengan jarum infus tetap menempel dan harus kembali ke rumah sakit pada malam hari.

Penyelidikan memasuki hari ketiga. Polisi sudah mengantongi nama pria tersangka kuat kasus tersebut. Namun mereka masih kesulitan membekuknya. Seusai salat Subuh, Kusworo menemui keluarga terduga pelaku. Ia minta dipertemukan dengan kekasih terduga pelaku. Sang kekasih setuju untuk bertemu di rumahnya di Banyuwangi.

Semua petugas reserse sedang berada di lapangan. Kusworo memutuskan berangkat sendiri ke Banyuwangi bersama ajudan dan sopir, dan mengontak beberapa anggota reserse mobil untuk menyusul. Di sana, ia melihat sebuah mobil dengan spesifikasi yang sama dengan mobil yang dicurigai milik pelaku sedang parkir. Bedanya, velg mobil itu berwarna hitam.

Kusworo memerintahkan ajudannya untuk mengelupas cat velg. Dugaannya benar: merah. Cat hitam baru saja disemprotkan untuk menutupi warna dasar velg tersebut. Kini tugas berikutnya adalah membuat pelaku menyerah tanpa perlawanan.

Salah satu kelebihan Kusworo adalah kemampuan persuasif, yang itu dibuktikan dalam beberapa kali pendekatan terhadap aksi massa. Dia berhasil meredam sejumlah kepala desa yang hendak menyegel balai desa karena kecewa terhadap bupati. Aksi itu buyar tanpa bersusah-payah melakukan aksi represif.

Kemampuan persuasif ini yang ditunjukkan saat mengamankan pelaku penembakan mahasiswa Unmuh. Ia berhasil membujuk pelaku melalui sang kekasih untuk menyerahkan diri. Kasus itu terungkap dalam waktu tiga hari, dan Kusworo akhirnya bisa menginap kembali di rumah sakit dengan tenang.

Komunikasi adalah kunci bagi Kusworo. "Pola komunikasi yang intensif dan baik adalah penghormatan terhadap sesama manusia dan tidak merasa lebih daripada yang lain," katanya.

Kemampuan Kusworo berkomunikasi dengan banyak orang ditunjukkan melalui sejumlah program, seperti siskamling elektronik (E-Siskamling) untuk membangkitkan semangat warga untuk kembali intensif menggelar ronda keliling, maupun program diskusi dengan nelayan dan mahasiswa.

Popularitas Kusworo pun melambung. Medio Desember 2017, ia diganjar Suara Rakyat Award dari Radio Prosalina. Jajak pendapat terhadap pendengar radio tersebut menempatkannya sebagai sosok yang memiliki dedikasi untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan rakyat sepanjang 2017. "Saya terkejut juga," katanya. Penghargaan ini melengkapi penghargaan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM) dari pemerintah pusat.

Tahun ini, predikat 'problem solver' agaknya bakal makin kuat melekat pada Kusworo, setelah sukses melakukan operasi tangkap tangan (OTT) pungli pengurusan KTP dan administrasi kependudukan lainnya. Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jember Sri Wahyuniati ditetapkan menjadi tersangka bersama seorang aktivis Relawan No Eks Birokrasi (Noeb) Abdul Kadar.

"Sebelumnya, kami sudah berkomunikasi dengan pemerintah daerah tentang adanya keluhan warga masyarakat berkaitan dengan panjangnya antrean (pemohon KTP) maupun praktik pungli untuk mendapat kemudahan dan percepatan berkas. Setelah kami berkoordinasi tidak ada hasil, kami merasa bahwa kami tidak bermanfaat dan memegang amanah, seandainya proses (pungli) ini terus berjalan dan kami tidak berbuat apa-apa," kata Kusworo.

Kusworo memerintahkan penyelidikan dugaan pungli tersebut dan memantau langsung perkembangannya setiap hari selama dua bulan. Hasilnya: Markas Kepolisian Resor Jember panen pujian dan karangan bunga berisi ucapan selamat dan terima kasih dari warga. Ini OTT keenam selama hampir dua tahun masa jabatannya sebagai Kapolres. Tapi tugas masih belum selesai. Dan ini hanya satu langkah kesekian dari hari-hari panjang Kusworo. [wir/but]

Komentar

?>