Minggu, 18 Nopember 2018

Bersekolah Lagi, Solusi Hilangkan Trauma Pelajar Korban Gempa Sulteng

Jum'at, 19 Oktober 2018 10:37:55 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Bersekolah Lagi, Solusi Hilangkan Trauma Pelajar Korban Gempa Sulteng

Jember (beritajatim.com) - Segera bersekolah kembali. Itu adalah solusi untuk menghilangkan trauma pada diri pelajar yang menjadi korban gempa di Sulawesi Tengah.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Cabang Jember Lutfi Isa Ansori mengatakan, ada satu warga Jember yang berstatus pelajar sekolah menengah atas yang menjadi korban bencana gempa bumi. "Kemarin masuk ke SMA Negeri Pakusari. Saya instruksikan kepadan kepala sekolah untuk menerima," katanya.

Siswa tersebut masih duduk di kelas 12. "Nanti kami data, dan datanya kami kirim ke Pemerintah Provinsi Jatim. Pemprov yang akan mengoneksikan terkait Dapodik (Data Pokok Pendidikan)-nya. Ini agar menjelang ujian nasional, yang bersangkutan bisa mengikuti ujian di SMA Pakusari," kata Lutfi.

Siswa tersebut diminta segera bersekolah dengan mendapat fasilitas seragam dan peralatan belajar gratis. "Untuk menghilangkan trauma, biar bersekolah dengan teman-temannya di SMA Pakusari," kata Lutfi.

Lutfi mengatakan, tak ada pendampingan khusus untuk penyembuhan trauma dari sekolah. "Bagi kami, akan lebih baik dia segera bersosialisasi dengan teman-teman (sekolah) di sini. Kalau pendampingan khusus malah tak efektif. Yang paling penting adalah sekolah segera menjemput bola dan mencukupi kebutuhan (belajar) siswa, sehingga anak tinggal datang, mendapat teman baru, mendapat komunitas baru. Itu akan lebih cepat menghilangkan trauma," katanya.

Lutfi meminta kepada warga Jember yang menjadi korban gempa Sulteng agar segera menuju sekolah yang diinginkan. "Nanti kepala sekolah yang akan ke Cabang Dinas Pendidikan. Dokumen-dokumen belakangan, nanti kita bisa tarik dari Dapodik. Yang penting anak itu bisa segera bersekolah," katanya.

Anggota Komisi D DPRD Jember Siti Romlah mengatakan, ada tujuh orang siswa SD dan dua orang siswa SMP yang menjadi korban gempa di Sulteng. "Dinas Pendidikan sudah sigap. Bahkan ada pendampingan. Mungkin guru BK (Bimbingan dan Konseling) kurang menyentuh. Mungkin lebih pada psikiater, karena anak-anak ini barangkali bisa juga tinggal satu-satunya (yang tersisa), jika ayah dan ibunya sudah meninggal. Harta sudah ludes," katanya.

Romlah berharap sikap responsif ini tak hanya ditunjukkan Dinas Pendidikan, tapi juga Kementerian Agama Jember yang membawahi madrasah. Ia menyarankan agar Kemenag bekerjasama dengan anggota DPRD untuk mengetahui adanya pelajar madrasah yang selamat dari gempa Sulawesi Tengah dan tinggal di Jember.

Romlah mengingatkan, anak-anak korban gempa tengah berada pada masa emas. "Mereka jangan terlalu lama menderita," katanya.

Wakil Ketua Komisi D Suwignyo Widagdo meminta agar sekolah-sekolah di Jember tak hanya menampung warga kota itu, tapi juga warga asli Palu yang ingin pindah ke Jember. "Kita adalah bagian dari NKRI. Siapapun yang jadi korban perlu kita fasilitasi," katanya. [wir/suf]

Tag : gempa

Komentar

?>