Sabtu, 17 Nopember 2018

Krisis Jagung, Peternak Blitar Raya Gelar Demo di Kantor Bupati

Senin, 15 Oktober 2018 22:40:44 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Krisis Jagung, Peternak Blitar Raya Gelar Demo di Kantor Bupati

Blitar (beritajatim.com) - Para peternak ayam petelor di Blitar 'menyerbu' Kantor Pemerintah Kabupaten Blitar, Senin (15/10/2018). Mereka menuntut pemerintah menyediakan stok jagung untuk pakan ternak dengan harga standar sesuai aturan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.

Ketua Paguyuban Peternakan Rakyat Nasional Blitar, Sukarman dalam orasinya mengatakan, peternak se-Blitar Raya mengeluhkan pakan ternak berupa jagung. Pasalnya selain langka, harga jagung juga sangat mahal.

"Peternak se-Blitar Raya menuntut keberadaan jagung, jadi pemerintah harus menyediakan jagung yang cukup dengan sesuai Kemendag, harga yang wajar berkisar antara Rp 3.150 peternak Rp 4.000 per kilogram. Karena kenyataanya jagung langka dan disini harga jualnya Rp berkisar antara Rp 5.200 - 5.300 per kg," katanya.

Selain berorasi, pengunjuk rasa juga membeber sejumlah poster dan spanduk, bertuliskan tuntutan. Salah satu isi tuntutan tertulis meminta stabilitas harga telur dan pakan. Tidak hanya spanduk dan poster, sebagai simbol aksi protes para peternak juga membawa kandang ayam berikut pakan ternak berupa nasi aking.

Masih kata Sukarman, kebutuhan jagung sebagai pakan ternak di Blitar berkisar 1.000-1.500 ton per hari. Sebab, produktifitas telor dari Blitar memasok kebutuhan di Ibu Kota Jakarta. Banyak masyarakat Blitar yang menekuni budidaya ayam ternak.

"Saat ini belum ada statemen dari pemerintah ada jagung. Kami berusaha mencari jagung seadanya. Sebab, kebutuhan pakan ini sangat penting untuk keberlangsungan hidup ayam ternak," tegasnya.

Apabila kondisi ini terus berlarut-latur, hingga dua minggu ke depan, peternak memastikan bakal bangkrut. Kerugian yang mereka derita bakal semakin besar.

"Targetnya 1-2 minggu harus ada jagung, kalau tiak kami akan meluruk Istana Negara. Saat ini, kami sudah ditunggu oleh kelompok peternak lain dari Bogor dan Bandung untuk bersama-sama menuju ke Istana Negara," bebernya.

Jagung yang kini beredar di Blitar dan sekitarnya, kata Sukarman, berasal dari seputaran Nganjuk, Lamongan dan Ponorogo. Tetapi karena harga jual dari daerah asal sudah tinggi sekitar Rp 5.000 per kg, maka sampai di Blitar naik menjadi Rp 5.100 - 5.200 per kg.

Diakui Sukarman, selain jagung ada alternatif jenis pakan lain yakni, nasi aking. Nasi bekas yang dijemur ini harganya lebih murah dibanding jagung. Tetapi, peternak sengaja tidak memakainya karena berdampak terhadap penurunan kualitas telur yang dihasilkan.

"Kalau tidak ada jagung, bisa nasi aking, tetapi warna jelek pada telur, kualitas telurnya menjadi menurun. Sehingga, mayoritas peternak tidak memakai nasi aking," pungkasnya. [nng/suf]

Tag : demo

Komentar

?>