Rabu, 19 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Jadi Korban Gempa-Tsunami Palu, Warga Ponorogo Dapat Santunan

Jum'at, 12 Oktober 2018 23:32:12 WIB
Reporter : D. Istimora
Jadi Korban Gempa-Tsunami Palu, Warga Ponorogo Dapat Santunan

Ponorogo (beritajatim) – Selain APBD dan APBD-P-nya, Pemkab Ponorogo segera memberikan bantuan kepada korban gempa dan tsunami Palu. Tepatnya kepada korban bencana yang berasal dari Ponorogo dan kini telah kembali ke kampung halamannya.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ponorogo Sumani mengatakan, saat ini sudah ada 47 jiwa lengkap dengan identitasnya yang akan diberi bantuan. Mereka adalah warga Ponorogo yang sudah merantau ke Palu sejak bertahun-tahun. Mereka juga sudah ber-KTP Palu.

"Tapi sekarang mereka pulang ke Ponorogo beberapa hari lalu setelah selamat dari gempa. Kembali ke sini setelah kehilangan semua harta bendanya. Dan mereka tidak ingin merantau lagi ke sana. Mereka trauma, takut, katanya seperti sudah jelas melihat kiamat di sana," ujar Sumani, Jumat (12/10/2018).

Untuk tiap jiwa, direncanakan mencapat bantuan sebesar Rp 5 juta. Bila jumlah ini dipenuhi maka Pemkab Ponorogo akan mengeluarkan dana sebesar Rp 235 juta. Rinciannya, Rp 190 juta untuk korban selamat gempa Palu asal Kecamatan Ngrayun sebanyak 38 jiwa dan Rp 45 juta untuk sembilan jiwa dari dua keluarga untuk korban selamat gempa Palu asal Kecamatan Sawoo.

Hanya saja, Sumani belum bisa menjelaskan sumber dana untuk bantuan ini. Yang ia tahu dana on call atau dana darurat Pemkab Ponorogo dalam APBD 2018 masih ada hampir Rp 1 miliar. Sedangkan dana bantuan di dinasnya hanya ada sekitar Rp 200 juta.

"Sekarang kita verifikasi dan mungkin tidak lama lagi turun. Disposisi dari bupati sudah turun," ungkapnya.

Namun persoalan baru muncul. Saat ini tiba-tiba banyak warga yang mengaku korban selamat dari gempa di Palu. "Tapi kami tidak begitu saja memberikan bantuan. Kami tetap lakukan verifikasi ketat. Kami mengecek ke data di BPBD atau BNPB di Palu sana," ucapnya.

Sebab ternyata banyak juga orang-orang asal Ponorogo yang memang menjadi korban tapi mereka bukan warga Palu, artinya tidak ber-KTP Palu. Mereka hanya bekerja di Palu untuk jangka waktu tertentu atau sementara saja. "Kalau yang begitu ya tidak masuk kriteria yang bisa dapat bantuan," katanya.

Ia mencontohkan, ada kabar warga Desa Gandukepuh, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, yang jadi korban gempa Palu. Tapi saat diverifikasi, ternyata warga ini hanya bekerja sementara di sana dan sekarang ikut suaminya ke Trenggalek. "Beberapa data baru juga begitu, saat diverifikasi juga bukan ber-KTP Palu," pungkasnya. [dil/suf]

Tag : gempa

Komentar

?>