Rabu, 12 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Guru Honorer di Kabupaten Malang Hanya Dibayar Rp.300 Ribu

Kamis, 20 September 2018 15:26:45 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Guru Honorer di Kabupaten Malang Hanya Dibayar Rp.300 Ribu

Malang (beritajatim.com) - Ribuan Guru Tidak Tetap (GTT) atau guru honorer Kategori 2 (K2) Kabupaten Malang menggelar aksi unjuk rasa, Kamis (20/9/2018) siang di Kantor DPRD setempat.

Keikut sertaan mereka berunjuk rada, praktis memperpendek tugas mereka sebagai tenaga pengajar disekolah khusus hari ini. Demonstrasi terpaksa dilakukan karena guru honorer ini, menolak rekrutmen CPNS 2018 yang dirasa, tidak mengakomodir nasib GTT.

Ketua Forum Honorer Kategori 2 Indonesia, Ari Susilo mengatakan, aksi damai yang dilakukan oleh GTT/PTT K2 dilakukan untuk menuntut empat hal, antara lain selesaikan GTT/PTT K2 (Non APBN/APBD) dengan segera, kedua tolak Permen PANRB No.36 dan 37 Tahun 2018, ketiga tolak P3K (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) dan terakhir adalah sejahterahkan GTT/PTT dengan SK Bupati dan honor daerah.

"Kita melakukan aksi damai ini bertujuan untuk menyuarakan aspirasi kami. Kami ingin pemerintah pusat memperhatikan nasib kami," katanya.

Ari melanjutkan, Permen PANRB No.36 dan 37 dinilai mengebiri kesempatan para GTT/PTT K2 untuk menjadi ASN bakal sirna.

"Aturan itu dibuat mengacu pada UU ASN No.5 Thn 2014, artinya hanya honorer K2 dengan usia dibawah 35 tahun dan berijasah S1 yang bisa direkrut dalam CPNS 2018. Padahal kebanyakan honorer K2 berumur diatas 35 tahun," jelasnya.

Dengan adanya Permen PANRB No 36 dan 37 Thn 2018, tambah Ari, dinilai telah mengingkari kesepakatan Menpan RB dengan para honorer K2. "Sebelumnya ada kesepakatan antara Menpan RB dengan para honorer untuk tidak mengangkat CPNS umum sebelum permasalahan K2 terselesaikan," tegasnya.

Sementara i, pewakilan GTT dari Kecamatan Dampit, Suyanto (43) menyampaikan pihaknya meminta Pemerintah pusat dan daerah untuk memperhatikan nasib guru honorer. "Tanggung jawab kami untuk mendidik generasi penerus bangsa ini sangat besar, kami ingin agar pemerintah baik pusat maupun daerah memperhatikan nasib kami," terangnya.

Kata Suyanto, dengan gaji yang hanya berkisar Rp 300 ribu, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun meski begitu banyak para GTT yang tetap menekuni profesinya selama puluhan tahun.

"Motivasi kami untuk tetap menjadi honorer adalah untuk mengabdi kepada bangsa dan negara, mendidik penerus bangsa dan berharap suatu saat bisa diangkat menjadi pegawai negeri," pungkasnya. (yog/kun)

Tag : demo honorer

Komentar

?>