Selasa, 23 Oktober 2018

Selewengkan Dana Bencana Lombok, Nabila: Kok Sampai Hati!

Minggu, 16 September 2018 13:28:41 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Selewengkan Dana Bencana Lombok, Nabila: Kok Sampai Hati!
Nabila Mondir, bakal caleg PKB untuk DPR RI dapil Madura.

Bangkalan (beritajatim.com)--Beberapa hari lalu, Kejari Kota Mataram melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang melibatkan anggota Komisi IV DPRD, oknum Dinas Pendidikan, dan seorang kontraktor setempat.

Beberapa barang bukti (BB) ikut disita, termasuk sejumlah uang dan kendaraan bermotor yang diduga merupakan permintaan dari seorang anggota dewan terkait dengan anggaran dana rehabilitasi bencana alam gempa bumi Lombok untuk pembangunan kembali gedung sekolah yang rusak.

Realitas itu memprihatinkan banyak pihak, termasuk bakal caleg DPR RI PKB dari daerah pemilihan (Dapil) Madura, Nabila Mondir. Nabila mengatakan, dia kaget dan sangat menyayangkan kejadian itu.

Terlebih-lebih, katanya, penyalahgunaan kewenangan itu berhubungan dengan tanggung jawab dan kewajiban pejabat publik terkait dengan penanganan korban bencana alam. "Kok sampai hati ya," tukas Nabila dalam pers rilisnya kepada beritajatim.com, Minggu (16/9/2018) siang.

Nabila yang kini sedang menempuh pendidikan program Magister (S-2) Ilmu Politik FISIP, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini, mengungkapkan, "Jujur hal ini sangat mengagetkan dan saya yakin akan membuat kecewa banyak pihak, terlebih masyarakat Mataram dan juga Lombok."

Bencana alam gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa dan luka-luka. Hingga Agustus 2018, dilaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi ini mencapai 515 orang, sedang korban luka-luka total 7.145 orang. Jumlah pengungsi mencapai 431.416 orang. Para pengungsi ini tersebar di sejumlah titik lokasi pengungsian.

Selain itu, bencana alam ini merusakkan 73.843 unit rumah dan 798 fasilitias umum dan sosial. Tingkat kerugian akibat gempa di Lombok mencapai Rp 7,7 triliun. Hal itu berdasar perkiraan BNPB. Besaran kerugian itu mencakup 5 faktor: Pemukiman penduduk, infrastruktur, ekonomi produktif, sektor sosial, dan lintas sektor. Tingkat kerugian di sektor perumahan penduduk mencapai 65% dari total kerugian.

BNPB juga mencatat hingga hari Selasa (21/8/2018) sudah terjadi 1.005 kali gempa susulan. Dari gempa 7 SR, sampai dengan kejadian dari gempa 6,9 SR pada 19 Agustus 2018 malam itu, ada 825 kali gempa.

"Rekan-Rekan kami yang mayoritas mahasiswa, menyisihkan uang sakunya dan juga semangat melakukan penggalangan bantuan untuk bisa membantu saudara-saudara kita di sana. Eh kok ternyata masih ada yang justru memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi," tambah Nabila, yang juga Ketua Gerakan Pemuda Sosial Peduli.

"Saat masyarakat Lombok terus bertahan dan mau bangkit akibat gempa, saat berbagai elemen bersatu untuk membantu saudara di sana, Pemerintah Indonesia juga telah mengusahakan berbagai cara untuk percepatan pemulihan Lombok, saya rasa sangat tidak pantas jika masih ada oknum yang memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Langkah penegakan hukum bersifat tegas harus diterapkan dalam menyelesaikan masalah ini," ingat Nabila. [air]

Tag : gempa bumi

Komentar

?>