Sabtu, 17 Nopember 2018

Bonek ke NTB: Tinggalkan Istri Hamil Tua Hingga Bikin Polisi Geleng Kepala

Minggu, 26 Agustus 2018 12:59:00 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Bonek ke NTB: Tinggalkan Istri Hamil Tua Hingga Bikin Polisi Geleng Kepala

Surabaya (beritajatim.com)--Dahlan Iskan, mantan pemimpin Harian Jawa Pos yang juga pernah menjadi manajer Persebaya Surabaya, adalah orang pertama yang memunculkan kata 'Bonek': Bondo Nekat, Bermodal Kenekatan. Dia hendak menggambarkan karakter suporter Persebaya yang berani berkorban dan punya nyali.

Sebutan itu tak keliru jika melihat kenekatan sejumlah Bonek yang menjadi relawan ke Nusa Tenggara Barat untuk menyalurkan bantuan langsung ke korban gempa bumi. Ada dua kelompok yang menerjunkan relawan, yakni Arek Bonek 1927 dan Green Nord.

Dua kelompok ini menaungi ratusan komunitas suporter Persebaya dan menerima donasi dari masyarakat maupun hasil penggalangan dana di jalanan. Mereka menyalurkan bantuan bernilai ratusan juta rupiah yang digalang dari masyarakat.

Mereka dari berbagai latar belakang yang beragam. Namun kenekatan dan nyali tidak diklasifikasi berdasarkan latar belakang sosial, ekonomi, maupun pendidikan.

Agus Raharjo, salah satu Bonek relawan, meninggalkan istrinya yang sedang mengandung anak keempat dan dalam usia kehamilan tujuh bulan. "Ada yang lebih membutuhkan saya di Lombok saat ini. Istri saya pun ikhlas, saya didoakan," katanya.

Sementara itu, Muhammad Marzuki, salah satu Bonek asal Waru, meninggalkan pekerjaan di bengkel depan rumahnya untuk berangkat ke Lombok.

"Sementara ini libur total. Untunglah ini bengkel sepeda motor usaha pribadi. Jadi, bisa saya tinggal," kata pria yang masih bujangan ini.

Mayoritas Bonek yang menjadi relawan tidak punya latar belakang petugas lapang tanggap darurat terlatih. Ada beberapa yang punya pengalaman naik gunung.

"Tapi kan rata-rata teman-teman ini dasarnya suporter sepak bola. Awal datang ke NTB ada gempa, ya banyak yang lari juga menyelamatkan diri. Tapi akhirnya lama-lama terbiasa," kata Marzuki.

"Banyak yang kaget, termasuk relawan dan LSM, Bonek sampai ke Lombok. Anggota-anggota TNI yang bertugas malah sering menyapa lebih dulu, waktu kendaraan pengangkut logistik kami lewat: Weee, Bonek, Bonek. Wani. Wani," kata Priyanto, salah satu dedengkot Bonek yang akrab disapa dengan panggilan Cak Grandong.

Begitu rombongan relawan Bonek sampai di pelabuhan, salah satu petugas dari TNI langsung menyalami mereka.

Kenekatan dan nyali juga ditunjukkan saat mendistribusikan bantuan ke daerah terpencil dengan pikap yang memiliki medan sulit. "Kami naik turun gunung, dan kanan-kiri jalan adalah jurang. Bahu jalan banyak yang longsor. Kebablas sedikit ya masuk jurang," kara Marzuki.

Saat terjadi gempa, Marzuki dan kawan-kawan tetap nekat berangkat untuk mendistribusikan bantuan ke daerah pelosok, sementara relawan lain memilih menunda hingga situasi memungkinkan. Gempa memang masih sering terjadi dalam skala variatif.

"Satu hari kami bisa merasakan sampai lima kali gempa. Alhamdulillah, arek-arek tidak kena apa-apa," katanya.

"Polisi sampai geleng-geleng kepala, karena Bonek mau mengantarkan logistik sampai daerah pegunungan yang susah diakses kendaraan roda empat," kata Cak Grandong.

Marzuki juga menegaskan tetap akan bertahan di NTB hingga kondisi tenang. "Pantang pulang sebelum tenang. Itu semboyannya," katanya.

Situasi bencana tidak berarti harus melupakan sepak bola. Saat pertandingan sepak bola Asian Games, Indonesia melawan Hongkong, Bonek menggelar nonton bareng warga di posko induk Dusun Kencong, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. "Mereka terlihat gembira saat Timnas menang. Ada rasa bangga. Mereka tetap melihat kiprah timnas," kata Marzuki.

Sayang, saat itu jaringan streaming yang disambungkan ke layar lebar agak tersendat saat itu. "Sinyalnya kurang bagus," kata Marzuki.

Bonek lebih banyak menggelar nonton film bareng daripada sepak bola yang disiarkan langsung via streaming. "Kami harus berhemat paket internet. Kalau kehabisan, susah carinya dan harus minta kawan-kawan di Surabaya untuk mengisikan pulsa paketan," kata Marzuki.

Marzuki senang melihat sambutan warga. "Orang-orang tak membicarakan kejelekan Bonek. Mereka justru berterima kasih kami mau datang dan membantu, karena menunggu bantuan dari posko induk kadang agak lama," katanya. [wir/air]

Tag : gempa bumi

Komentar

?>