Rabu, 19 September 2018

Bergerak ke Arafah, CJH Indonesia Dibagi 3 Gelombang

Minggu, 19 Agustus 2018 07:24:01 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Bergerak ke Arafah, CJH Indonesia Dibagi 3 Gelombang
foto/kemenag.go.id

Makkah (beritajatim.com) - Masa puncak ibadah haji akhirnya tiba. Hari ini lebih dari 3 juta jemaah haji sedunia akan menuju padang Arafah secara bertahap. Mereka akan menempati tenda-tenda khusus untuk melaksanakan wukuf pada Senin (20/8/2018).

Khusus calon jemaah haji (CJH) Indonesia yang berjumlah sekitar 221 ribu orang, mobilisasi ke Arafah dibagi dalam tiga tahap. Gelombang pertama diberangkatkan esok hari setelah subuh hingga dzuhur. Lalu, gelombang kedua dimulai duhur hingga sekitar pukul 16.00. Keberangkatan terakhir pukul 16.00 sampai 18.00. Semuanya Waktu Arab Saudi (WAS) atau ditambah empat jam untuk Waktu Indonesia Barat (WIB).

Keberangkatan jemaah haji akan dikawal oleh petugas haji Indonesia yang jumlahnya 4.520 orang. Jumlah itu terdiri atas 2.535 petugas yang menyertai kloter, 755 orang petugas nonkloter, dan 1.230 personel pendukung. Semuanya akan bekerja sama dengan petugas haji Arab Saudi.

Tahun ini Kerajaan Arab Saudi benar-benar all-out mengawal prosesi haji. Menurut Badan Statistik Arab Saudi, ada ribuan petugas dan puluhan ribu perangkat pendukung yang dikerahkan untuk memperlancar pelaksanaan haji.

Hingga kemarin, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berada di Makkah untuk memantau persiapan keberangkatan jemaah haji menuju Arafah. Dia meminta diadakan sweeping di hotel-hotel yang ditempati jemaah haji.

"Jangan sampai ada jemaah yang ketinggalan. Petugas haji harus memastikan betul seluruh jamaah sudah berada di Arafah pada tanggal itu (19 Agustus)," katanya, dikutip dari kemenag.go.id.

Dia menjelaskan, keberangkatan ke Arafah sengaja dibagi menjadi tiga gelombang untuk menghindari penumpukan jemaah. Sebab, di hari yang sama, jemaah haji dari negara-negara lain juga berangkat ke Arafah. Mereka akan menuju maktab-maktab (area pemondokan) yang lokasinya berdekatan dengan pemondokan khusus jemaah haji Indonesia.

Arab Saudi telah menyediakan 70 maktab untuk Indonesia. Setiap maktab bisa dihuni 2.970 sampai 3.000 orang. ’’Di setiap maktab ada 20 hingga 30 tenda dengan luas bervariasi," jelas Menag sembari mengatakan bahwa pemerintah telah menyediakan 21 bus untuk mengangkut jemaah ke satu maktab.

Sebelum keberangkatan jemaah haji, Media Center Haji (MCH) telah memantau kondisi maktab di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Di sana, tenda-tenda sudah dilengkapi dengan karpet merah. Ukuran tenda berbeda-beda, tergantung kondisi lahan.

Di Arafah, tenda berbahan terpal tidak dilengkapi AC. Hanya ada kipas angin yang bisa mengembuskan uap air alias mist fan. Kamar mandi dan WC juga sudah siap. Namun, mayoritas menggunakan WC jongkok. Hanya sedikit yang memakai WC duduk.

Hal itu kemungkinan menyulitkan jamaah haji yang bertubuh gemuk. Tempat wuduk juga siap pakai. Air kran mengalir deras. Pos kesehatan, musala, dan tempat katering juga telah lengkap. "Insya Allah kita sudah siap 100 persen," kata Menag.

Yang menarik, beberapa maktab di Arafah tampak cukup rindang. Sebab, terdapat puluhan pohon mindi dengan ketinggian sekitar 3 meter. Di Mekkah, tanaman itu dikenal dengan sebutan pohon Soekarno. Sebutan itu muncul karena pada 1960 Soekarno berhaji sambil membawa ribuan bibit pohon mindi untuk ditanam di Arafah. "Saya tidak mengira pohon-pohon ini sudah sebesar sekarang," kata Menag.

Dari Arafah, jemaah haji akan melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah. Di sana mereka akan mabit (bermalam sejenak) dan mengumpulkan kerikil untuk lempar jumrah di Mina. Namun demikian, jemaah haji Indonesia tidak perlu repot mencari kerikil.

Sebab, kerikil itu kini disediakan oleh masing-masing pengurus maktab. Batu kerikil yang diambil per orang sebanyak 70 butir untuk mereka yang memilih nafar tsani dan 40 butir untuk nafar awal. Kerikil-kerikil itu akan dilempar saat masa lempar jumrah ula, wustha, dan aqobah. [suf]

Tag : haji

Komentar

?>