Rabu, 19 September 2018

Kisah Jemaah Haji Waria, Bagaimana Cara Ibadahnya?

Selasa, 14 Agustus 2018 07:28:08 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Kisah Jemaah Haji Waria, Bagaimana Cara Ibadahnya?
foto/kemenag.go.id

Jeddah (beritajatim.com) - Pekan lalu, petugas haji yang sibuk melayani kedatangan Jemaah haji di Plaza Gate D Bandara King Abdul Aziz Jeddah sempat ‘tertipu’ dengan penampilan salah satu Jemaah haji.

Salah Jemaah asal embarkasi Makassar (UPG) tampil nyentrik. Dia mengenakan batik haji dengan potongan blus layaknya wanita, rambutnya agak panjang berwarna orange menyala tanpa penutup kepala. Saat dia hendak berganti ihram salah satu petugas bergegas menegur agar ganti ihramnya di toilet wanita.

"Bu hajjah, kalau mau ganti ihram kamar mandi perempuan ada di sebelah sana," kata dia kepada sang jemaah sebagaimana dikutip dari kemenag.go.id.

Namun, begitu sang jemaah membalik muka ke hadapannya, ia tersentak. "Eh, maaf, pak. Iya, kalau laki-laki ganti ihramnya di sini saja," kata petugas itu salah tingkah.

Akhirnya, jadilah jemaah bersangkutan berganti pakaian ihram dua lembar kain tak berjahit di lokasi tersebut. Bedanya dengan jemaah laki-laki lain, jemaah yang kemudian mengaku bernama Haji Ari bin Hadi (50 tahun) tersebut melingkarkan dengan lekat sebagian kain ihram bagian atas ke dadanya?

Jemaah ini pun punya cerita unik. Apakah itu? Haji Ari yang mendaftar haji di Kolaka, Sulawesi Tenggara, tanpa ragu mengatakan golongannya. "Iya, golongan saya memang disebut waria," kata dia saat ditemui di Bandara King Abdulaziz saat sedang mengantre menuju bus.

Wajahnya masih penuh bedak saat itu. Bibirnya pun bergincu. Serupa juga foto besar yang ia gunakan sebagai penanda koper. Ada wajah seorang pria dengan peci hitam namun berbedak tebal di situ.

Ia mengatakan, pergi naik haji dengan hasil membuka usaha salon rambut dan kecantikan serta rias pengantin di Soppeng, Sulawesi Selatan. Di Sulawesi Selatan, ada adat istiadat lama soal keberadaan para bissu. Transgender kultural ini ditugasi dalam upacara-upacara adat. Namun Haji Ari mengatakan, ia bukan bagian dari kelompok tersebut.

Tak hanya itu, ada alasan mengapa ia meminta dipanggil Haji Ari. Tahun ini ternyata bukan pertama kalinya ia ke Tanah Suci. "Saya sudah empat kali ke sini," kata dia mantap.

Bagaimanapun, hari itu Haji Ari membuat banyak mata menoleh. "Siapa dia?" tanya para petugas Arab Saudi yang keheranan dengan sosok Haji Ari. Petugas Daker Bandara PPIH Arab Saudi pun kebingungan menjawab. Mereka hanya bisa memikirkan kata-kata Arab yang menggambarkan golongan Haji Ari terlepas dari rerupa konsekuensi fikihnya. "Khunsa...khunsa…".

Menurut Konsultan Pembimbing Ibadah Haji, Ahmad Kartono, dalam Islam dikenal dua jenis waria. Dalam berhaji pun diberikan dua hukum atas waria.

"Waria yang betul-betul waria, hukumnya seperti hajinya kaum wanita," kata mantan Direktur Pembinaan Haji itu saat dihubungi melalui pesan singkat beberapa hari yang lalu.

"Sedangkan waria yang sewaktu-waktu berubah seperti wanita atau laki-laki maka hukumnya disesuaikan dengan kondisi yang bersangkutan pada saat itu, termasuk saat berhaji. Ini yang disebut Huntsa Musykil," pungkas Kartono. [suf]

Tag : haji

Komentar

?>