Senin, 20 Agustus 2018

Baju Baru dan Lebaran dalam Perspektif Budaya

Kamis, 14 Juni 2018 05:53:28 WIB
Reporter : Dyah Ayu Setyorini
Baju Baru dan Lebaran dalam Perspektif Budaya

Surabaya (beritajatim.com)--Pengunjung sebuah mal besar di kawasan tengah Kota Surabaya, Rabu (13/6/2018) malam terlihat dipadati pengunjung. Hal ini bisa dipahami karena Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 15 Juni mendatang, sisa dua hari lagi untuk mempersiapkan diri di hari yang suci.

Pengunjung yang berbondong-bondong memadati mal itu ayoritas datang untuk membeli baju baru. Terlebih lagi karena brand-brand ternama saat ini sedang memberikan diskon besar-besaran. Membeli baju baru memang hal yang biasanya ketika Lebaran tiba.

Melonjaknya jumlah pengunjung di mal berdampak positif, baik pemilik mal dan masyarakat. Menurut Kukuh Yudha Karnanta, budayawan sekaligus dosen Magister Kajian Budaya, budaya membeli baju baru dalam konteks Lebaran merupakan bagian dari praktik konsumsi yang memiliki dimensi misrecognition dan representasi.

Disebut misrecognition karena masyarakat cenderung memahami konteks kembali ke fitri atau menjadi suci pascamenempa diri dalam ibadah Ramadan adalah menjadi pribadi yang fresh.

"Saya lihat masyarakat ini ingin tampil fresh dalam artian keimanan atau rohaniah lantas dikenali sebagai fresh dalam penampilan atau badaniah. Semua agama atau budaya akan memiliki kecenderungan demikian, karena manusia selalu ada naluri untuk memvisualkan apa yang immaterial. Keimanan, seperti juga Tuhan, tentu hal yang abstrak. Dan kehidupan juga kebudayaan, adalah praktik tak henti untuk menerjemahkan yang abstrak tadi menjadi konkret," papar pria yang juga gemar bermain musik ini.[adg/air]

Tag : lebaran

Komentar

?>