Senin, 20 Agustus 2018

Tiga Jenazah TKI asal Jember Pulang Kampung Bersama

Rabu, 13 Juni 2018 23:23:52 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Tiga Jenazah TKI asal Jember Pulang Kampung Bersama

Jember (beritajatim.com) - Dua hari jelang Idul Fitri, tiga jenazah tenaga kerja Indonesia asal Kabupaten Jember, Jawa Timur, dipulangkan. Kargo mereka tiba di Bandara Juanda, Surabaya, Rabu (13/6/2018).

Tiga jenazah itu adalah Amintyas Wahyudi (Desa Sumuran, Kecamatan Ajung), M. Kabit Arifin (Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan), dan Ahmad Nuryasin (Desa Pondok Waluh, Kecamatan Kencong). Ketiga jenazah ini menyisakan cerita yang berbeda-beda saat tiba di Bandara Juanda.

Jenazah Amintyas dijemput Sekretaris Jenderal Forum TKI Sarikat Buruh Muslimin Indonesia Mohammad Rosul dan Camat Ajung Slamet Wijoko. Sempat terjadi perdebatan tentang siapa yang harus menandatangani berkas tanda terima kargo tersebut.

Slamet merasa mendapat perintah dari Bupati Faida, sementara Rosul merasa berhak karena sudah mendapat mandat bermaterai dari keluarga Amintyas. Apalagi sejak awal FTKI memang mengurus pemulangan Amintyas setelah sempat terbengkalai selama sepekan setelah keluar dari rumah sakit. Dokumen serah terima jenazah Amintyas akhirnya ditandatangani Rosul, sebelum akhirnya diserahkan kepada Slamet.

Rosul menghormati dan mengapresiasi langkah-langkah Pemkab Jember. "Namun pemulangan almarhum ini tak lepas dari andil berbagai pihak. Pertama, Kementerian Tenaga Kerja. Kedua, Sarbumusi yang mendapat mandat dan kuasa pengurusan jenazah," katanya.

Sementara itu, jenazah Nuryasin dijemput dengan ambulans Pemkab Jember. "(Kepulangannya) ditangani oleh pihak Dinas Tenaga Kerja," kata Rosul.

Nasib berbeda dialami jenazah Kabit Arifin yang diangkut dengan ambulans sewa dari salah satu klinik swasta. Keluarga yang menjemput jenazahnya kebingungan, karena nama kuasa yang mengurusi jenazah tidak tercantum dalam kartu keluarga. "Tadi sempat tersendat karena penerima atas nama Ike tidak ada di sana. Saya mencoba melobi pihak kargo," kata Rosul.

Sukses, persoalan belum kelar. "Biaya sewa ambulans sebesar Rp 2 juta belum terbayarkan," kata Rosul.

Ini yang membuat Rosul prihatin. Pasalnya, sepengetahuannya, Pemkab Jember memiliki banyak ambulans desa. "Sudah jelas ada ambulans desa. Tapi mereka harus bayar sewa. Sampai di sini data tidak lengkap, sehingga harus telepon keluarga. Nah, kenapa yang seperti ini tidak ditangani bupati, sementara (Amintyas) yang sudah kami urus justru ditangani. Kenapa hanya satu (pemulangan jenazah TKI) yang diurusi bupati, kenapa tidak semua," katanya.

Sejak awal pemulangan jenazah Amintyas memang diupayakan oleh FTKI Sarbumusi yang merupakan organisasi sayap Nahdlatul Ulama. Amintyas bertolak ke Malaysia pada 5 November 2017 tanpa dokumen resmi dan bekerja menjadi petugas kebersihan di salah satu perusahaan otomotif. Dia mengalami sakit pada 20 Mei 2018, dan diantarkan salah satu rekan serumahnya ke rumah sakit Hospital Kuala Lumpur.

Ternyata di sana Amintyas terdeteksi mengalami TBC, sehingga harus dirawat intensif selama tujuh hari. Tanggal 27 Mei dini hari, jam 00.08, dia meninggal. Ketiadaan biaya membuat pemulangan jenazah Amintyas terkatung-katung selama berhari-hari, dan akhirnya diurus oleh FTKI Sarbumusi NU.

Berkat koordinasi FTKI dengan Kementerian Tenaga Kerja, biaya kargo Rp 15 juta untuk pengiriman pulang jenazah Amintyas bisa dibayar. Namun di luar sepengetahuan kedua belah pihak, ternyata ada biaya perawatan rumah sakit yang harus dilunasi sebesar kurang lebih Rp 50 juta.

Rosul pun melakukan lobi kepada rumah sakit di Kuala Lumpur agar bisa mendapat keringanan biaya. Rumah sakit bersedia memangkas biaya lima puluh persen, dengan syarat bukan dibayar oleh pemerintah RI. FTKI pun bergerak untuk menggalang biaya.

Kisah Amintyas ini beredar di media sosial. Minggu kemarin (10/6/2018), Rosul dihubungi Pemerintah Kabupaten Jember. Pemkab siap menanggung biaya perawatan. Namun karena ada kendala aturan soal transfer uang milik daerah ke luar negeri dan diterimakan kepada FTKI, menurut Rosul, akhirnya disepakati uang itu dirupakan bantuan untuk keluarga dan diberikan langsung kepada keluarga Amintyas.

Namun belakangan Rosul terkejut, karena Bupati Faida justru memutuskan berangkat sendiri ke Malaysia untuk melunasi biaya rumah sakit Amintyas. Bahkan akhirnya pengurusan kepulangan jenazah yang sejak awal diurus FTKI langsung diambilalih Pemkab Jember dengan dikeluarkannya surat kuasa pemulangan jenazah yang ditandatangani Sekretaris Pertama Konsuler KBRI di Malaysia Yulisdiyah K. Nuswapadi. Dalam surat itu, Camat Ajung Slamet Wijoko yang menangani.

Rosul berharap ada pelajaran bersama yang bisa diambil dari persoalan pemulangan jenazah Amintyas. Dia mengapresiasi langkah Bupati Faida yang melunasi biaya perawatan Amintyas. Namun ke depan, dia berharap, langkah yang diambil bisa lebih bijak dan terukur.

Menurut Rosul, seandainya skenario pelunasan biaya rumah sakit Amintyas berjalan sesuai rencana, yakni melalui keluarga dan FTKI, negara bisa lebih berhemat karena tidak perlu membayar penuh. Selain itu, bupati dan rombongan pejabat Pemkab tidak perlu bersusah-payah ke Malaysia yang memakan biaya lebih besar.

Kedua, Rosul berharap, kepekaan pemerintah daerah terhadap kasus-kasus yang menimpa TKI tidak hanya dipicu karena maraknya pemberitaan di media sosial. "Kasus Amintyas booming dulu di media sosial, baru bupati turun tangan. Sementara yang tidak booming (seperti Kabit Arifin, red), jangankan bupati, kepala desa dan camatnya tidak ada yang mengurus. Masalah dokumennya tidak lengkap, sehingga kami yang mengurus. Kalau data-data tidak lengkap, pihak bandara tidak mau mengeluarkan," katanya.

Sementara itu, Slamet Wijoko selaku perwakilan pemerintah daerah mengatakan, proses serah terima jenazah Amintyas berjalan lancar walau membutuhkan waktu agak lama. "Di dokumen (serah terima kargo jenazah) ada dua nama: Pak Slamet Wijoko atau Pak Rosul. Prinsip saya, jenazah segera sampai (ke rumah duka). Tidak penting siapa nama yang ada di situ," katanya.

Slamet meminta persoalan serah terima jenazah Amintyas tidak diperpanjang. "Kontribusi Mas Rosul juga besar, saya juga begitu, melayani masyarakat. Saya hanya melaksanakan tugas dari pimpinan saya. Ini urusan mayat, sudahlah jangan diperpanjang. Kita ikut berkontribusi. Sudahlah tidak usah diperpanjang," katanya. [wir/kun]

Tag : tki

Komentar

?>