Selasa, 19 Juni 2018

Warga Pakisaji Desak Pabrik Pengolahan Plastik Ditutup

Rabu, 14 Maret 2018 14:19:35 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Warga Pakisaji Desak Pabrik Pengolahan Plastik Ditutup

Malang (beritajatim.com) - Warga Jalan Kauman, Desa Pakisaji, Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang mendesak pabrik pengolahan plastik diwilayah mereka ditutup. 

Hal itu disebabkan limbah udara dan bau yang menyengat dari pembakaran plastik, dianggap warga sangat mengganggu. 

Pabrik pengolahan plastik milik CV Jaya Makmur yang berlokasi di pemukiman warga RT 08/ RW 02 Jalan Kauman, Desa Pakisaji,  menyebabkan warga sesak napas.

Gianti (60), salah satu warga RT 09 RW 02 Jalan Kauman, mengaku , perusahaan plastik yang dikelola CV jaya Makmur menimbulkan bau sangat menyengat apabila proses pembakaran di malam hari hingga memicu sesak napas."Coba sampean rasakan sendiri rumah saya dekat dari lokasi pabrik, baunya bisa sampai ketimur. Baunya semakin menyengat saat plastik dibakar pada malam hari dan memicu sesak napas,” terang Gianti, Rabu (14/3/2018).

Kata dia, apabila terjadi pembakaran berdampak kepada tidak lakunya makanan yang dijual. Sementara proses pembakaran pada malam hari, menimbulkan sesak napas yang menimpa warga Jalan Kauman.

"Saya tidak mau dibantu secara kesehatan, percuma kalau tetap beroperasi dan saya minta hengkang dari Kauman,” harap Gianti.  

Hal serupa juga dikatakan Atok. Salah satu warga di Jalan Kauman menuturkan, sebenarnya prosedur sudah dilakukan dengan memediasi agar dampak dari pembakaran plastik tidak mengganggu masyarakat. 

Akan tetapi pemilik pabrik, Ko Han tidak menghiraukan dan orangnya terkesan cuek  apalagi dia bukan warga sini.

Sebagai wujud penolakan,  beberapa warga sudah membubuhkan tanda tangan agar pemerintah daerah menutup perusahaan ini dengan memberitahu dinas lingkungan hidup Kabupaten Malang.

Warga juga meminta kepada pemilik  CV Jaya Makmur sebagai pengelola pembuatan plastik, secepatnya hengkang dari kampung mereka karena sudah tidak kooperatif. "Kami warga jalan Kauman menuntut perusahaan hengkang dan pindah dari kampung kami. Warga tidak meminta kompensasi apapun baik yang ditawarkan kesehatan atau apapun," tegasnya.

Atok melanjutkan, kompensasi pernah ditawarkan kepada warga  baik berupa biaya kesehatan atau apapun. Tetapi warga tidak bergeming karena percuma selama perusahaan masih beroperasi, maka sesak nafas akan berlanjut dan menimpa warga Kauman.

Warga sejauh ini sudah membubuhkan tanda tangan penutupan perusahaan tersebut. 

Anehnya, pabrik diam-diam justru beroperasi saat malam hari. Sedang pekerjanya, bukan warga setempat melainkan dari luar Malang. "Kami tidak minta kerja di pabrik ini, tetapi sampean boleh tanya agar perusahaan ini keluar dan pindah dari kampung kami,” pungkasnya.

Apabila penutupan tidak segera dilakukan, tambahnya, warga mengancam akan memblokade jalan menuju lokasi pabrik  dan mencegat truk pengangkut sampah plastik. (yog/ted)

Tag : demo malang

Komentar

?>