Rabu, 21 Februari 2018
Dibutuhkan Wartawan Kriminal di Surabaya, Usia Maks 27 Tahun, S1, Punya Pengalaman, Kirim lamaran ke beritajatim@gmail.com

Sekeluarga Bunuh Diri

Evy Diduga Alami Sindrom Baby Blues

Rabu, 17 Januari 2018 17:20:13 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Evy Diduga Alami Sindrom Baby Blues
Evy Suliastin saat dievakuasi ke RSUD Jombang

Jombang (beritajatim.com) - Secara kejiwaan, Evy Suliastin (26), warga Desa Karobelah, Kecamatan Mojoagung, yang mengajak tiga anaknya bunuh diri dengan minum racun serangga diduga mengalami sindrom baby blues. Pasalnya, Evy masih memiliki bayi berusia empat bulan.

Pandangan itu dilontarkan Denok Wigati S.Psi, dosen Fakultas Psikologi Undar (Universitas Darul Ulum) Jombang. "Sindrom ini muncul pasca melahirkan. Hormon kehamilan menurun dan diganti hormon untuk menyusui," ujar Denok ketika ditemui di rumahnya, Rabu (17/1/2018).

Nah, menurut Denok, perubahan hormonal dalam tubuh ini bisa menimbulkan efek kurang nyaman. Semisal,   memicu perasaan-perasaan negatif, khawatir dirinya tak bisa menjadi ibu yang baik bagi bayi, serta kewalahan berperan sebagai ibu baru.

Dalam kasus Evy, kondisi tersebut semakin parah. Karena berdasarkan kabar yang berkembang, wanita 26 tahun tersebut merupakan sosok yang introvet atau tertutup. Sehingga dia tidak pernah memberitahukan permasalahan yang dihadapi kepada orang lain.

Selama ini, lanjut Denok, orang yang mengalami stres atau banyak tekanan, salah satu solusinya adalah meminta pertolongan kepada orang lain atau bisa juga curhat. Namun itu tidak dilakukan oleh Evy. Padahal, selama ini dia tinggal bersama orangtua dan adiknya.

"Kemungkinan saat Evy menikah dengan F, orangtua sudah mengingatkan. Pasalnya, posisi dia sebagai istri kedua dan terikat pernikahan siri. Sehingga ketika ada masalah keluarga, dia tidak berani membeber problem itu ke keluarga," katanya.

Kondisi tersebut secara tidak langsung membuatnya pesimis dalam menjalani hidup. Ketidakpastian hidup Evy bertambah parah. Sudah begitu, Evy juga mendengar kabar bahwa suaminya menikah lagi. Nah, stres berkepanjangan itulah yang membuat depresi. Apalagi, kondisi datang saat yang bersangkutan pada fase baby blues.

Depresi itu, menurut Denok, lebih parah dari pada stres. Karena orang yang mengalami depresi ada dorongan untuk mengakhiri hidup. Orang yang terkena depresi insting mepertahankan hidupnya sudah nol atau hilang. Bahkan ingin membunuh dirinya sendiri untuk mengakhiri penderitaan.

Mengapa mengajak anak-anaknya untuk bunuh diri juga? Menurut Denok, kemungkinan Evy juga memikirkan anak-anaknya. Sehingga dia tidak rela jika anak-anaknya ke depan juga mengalami penderitaan. "Karena dia berpikiran dengan semua bunuh diri, semua penderitaan akan berakhir," urainya.

"Jadi yang dialami Evy ini bertumpuk-tumpuk. Mulai stres berkepanjangan, suami menikah lagi, baby blues, hingga tidak ada dukungan sosial dari keluarga. Hal-hal tersebut menyebabkan depresi. Dalam depresi, muncul dorongan mengakhiri hidup. Insting mempertahankan hidup sudah hilang," katanya mengulang.

Sayid Mohammad Syaiful Alfaqih (6), Bara Viadinanda Umi Ayu Qurani (4) dan Umi Fauziah (4 bulan) ditemukan meninggal secara tragis di kamar mandi rumahnya, Desa karobelah, Kecamatan Mojoagung, Jombang, Senin (15/1/2018) malam.

Di tempat yang sama, sang ibu Evy Sulistin (26) dalam kondisi kritis. Evy bersama tiga anaknya itu melakukan bunuh diri dengan cara menenggak racun serangga. Hingga saat ini Evy masih menjalani perawatan di RSUD Jombang. [suf]

Tag : bunuh diri

Komentar

?>