Kamis, 16 Agustus 2018

Alumnus PP Annuqayah Boleh Ikut Aksi 212 di Jember

Selasa, 16 Januari 2018 18:58:44 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Alumnus PP Annuqayah Boleh Ikut Aksi 212 di Jember

Jember (beritajatim.com) - Ketua Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Eks Karesidenan Besuki Muhammad Muslim mendapatkan banyak pesan singkat via ponsel dan WhatsApp dari anggota yang minta izin ikut serta dalam Aksi 212 di Kabupaten Jember, 21 Februari 2018.

"Saya tidak menyuruh dan tidak melarang. Itu bagian dari hak teman-teman. Secara organisasi, IAA tidak bergerak," kata Muslim.

Annuqayah adalah pondok pesantren di Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura yang didirikan pada 1887. Jumlah alumninya di Kabupaten Jember saja, menurut Muslim, lima ribu orang. Mereka kini tersebar di sejumlah tempat dan bekerja dengan berbagai profesi. Mayoritas mereka adalah kiai, ustadz, dan guru ngaji. Mereka juga mendirikan 33 lembaga pesantren.

Wakil Bupati Jember Abdul Muqit Arief adalah alumnus pesantren ini. Dia pernah menjadi ketua senat mahasiswa perguruan tinggi pesantren tersebut. Muslim menyebut, 99 persen anggota IAA adalah pendukung Bupati Faida saat pemilihan kepala daerah 2015.

"Tapi sekarang sebagian besar mereka banyak yang kecewa (dengan kepemimpinan Bupati Faida), kemudian mau turun (berunjuk rasa). Silakan, saya tidak menghalang-halangi," kata Muslim.

Saat dulu ada alumnus yang hendak berunjuk rasa menyambut satu tahun pemerintahan Bupati Faida, Muslim masih mencoba mencegah. "(Dulu saya mengatakan) kita lihat dululah. Tapi ternyata sekarang dua tahun ini kok betul-betul tidak ada perkembangan (pembangunan)," katanya.

Aksi 212 adalah aksi yang digagas sejumlah kiai, salah satunya KH Saiful Rijal atau Gus Saif, keponakan mantan Rois Aam Pengurus Besar NU KH Achmad Shiddiq dan pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shiddiqi Putri. Aksi tersebut dipicu oleh kekecewaan terhadap dua tahun kepemimpinan Bupati Faida.

Mereka menilai banyak persoalan selama dua tahun kepemimpinan, antara lain terlambatnya pembahasan dan pengesahan APBD, belum turunnya surat penugasan untuk guru honorer yang membuat pembayaran gaji tersendat, terpangkasnya nama belasan ribu guru ngaji dari daftar penerima insentif APBD karena perubahan kriteria, dan beberapa persoalan lagi.

Rencananya, pada 21 Februari 2018, para kiai akan menggelar istigosah di depan Pendapa Wahyawibawagraha dan menuju gedung DPRD Jember. Di gedung Dewan, mereka akan meminta anggota parlemen agar mengambil langkah konstitusional untuk mengakhiri persoalan di Jember.

Muslim mengapresiasi inisiatif kiai dan pondok pesantren menggelar Aksi 212. "Pondok pesantren ketika kampanye (pilkada) selalu menjadi obyek. Mereka (duet Faida dan Abdul Muqit Arief) melibatkan para kiai dan santri untuk mencari dukungan. Ketika para santri dan kiai merasa pemimpinnya (yang didukung saat pilkada) tidak sesuai dengan yang diharapkan. Wajar saja mereka protes. Salah satu medianya adalah gerakan Aksi 212 ini," katanya. [wir/but]

Tag : aksi 212

Komentar

?>