Selasa, 11 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Perusakan Lereng Gunung Kelud, Ribuan Warga Dihantui Krisis Air dan Listrik

Selasa, 02 Januari 2018 09:47:41 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Perusakan Lereng Gunung Kelud, Ribuan Warga Dihantui Krisis Air dan Listrik

Kediri (beritajatim.com) - Krisis air dan listrik menghantui warga di lereng Gunung Kelud, tepatnya di Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri akibat perusakan lahan di perkebunan PT PN XII Ngrangkah Sepawon Desa Damarwulan. Penebangan ratusan pohon mengancam kerusakan ekosistem alam dan sumber mata air.

Juru bicara Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) Kediri dr. Ari Purnomo Adi menyebut ada lima dusun dari tiga desa di wilayah Kecamatan Puncu yang kini terdampak dari penebangan pohon tersebut. Ribuan masyarakat yang tinggal disana terancam kehilangan sumber air dan tenaga listrik.

"Penduduk mendapatkan air dari rembesan air yang keluar dari akar pohon itu (pohon yang telah ditebang). Rembes air kemudian ditampung dan dsalurkan ke masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan air, mereka" kata dr. Ari Purnomo Adi, Selasa (2/1/2018) pagi.

Dengan penebangan ratusan pohon, dr. Adi khawatirkan keseimbangan ekosistem alam menjadi terganggu. Lalu dampak paling buruk adalah hilangnya sumber mata air untuk penduduk.

Selain untuk mencukupi kebutuhan minum, mandi dan kebutuhan sehari - hari, air dari sumber mata tersebut juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan alat turbin. Sumber daya listrik ini disalurkan ke rumah rumah penduduk.

"Rembesan dari tebing gunung ditampung. Dialirkan ke pipa. Untuk air minum dan penggerak generator listrik. Dapar mengcover seluruh rumah di AFD Damarwulan, Puncu," jelas dr. Adi.

Pembangkit listrik tenaga air sederhana ini dibangun, pada 2014 lalu. Pembuatnya adalah dari pabrik. Tenaga perawat nya juga dari pabrik. Keberadaanya sanga dibutuhkan oleh masyarakat setempat.

Masih kata dr. Ari, manfaat air dari rembesan akar pohon juga untuk pengolahan kopi oleh PT PN XII. Apabila air tidak ada, kata Ari, sudah dapat dipastikan produksi kopi akan terganggu.

"GMPK dan Forum Kediri Hijau, SUAR dan Pasak fokus dalam penyelamatan lingkungan.  Adapun konflik hukum antara PT Empat Pilar Anugerah Sejahtera (EPAS) yang bergerak pertambangan dan PT PN XII bukan ranah kami, melainkan kepentingan kedua belah pihak," tutupnya. [nng/suf]

Komentar

?>