Minggu, 19 Agustus 2018

Dam Peninggalan Belanda

Mbah Ngadi Tukang Bersih Rolak Songo Sering Bertemu Sosok Ini

Selasa, 19 Desember 2017 20:00:18 WIB
Reporter : M. Ismail
Mbah Ngadi Tukang Bersih Rolak Songo Sering Bertemu Sosok Ini
Mbah Ngadi sedang membersihkan dam Rolak Songo Tarik

Sidoarjo (beritajatim.com) - Banyak kejadian aneh dan mistis di sekitar lokasi Dam Rolak Songo Tarik Sidoarjo. Dam atau Bendungan Rolak Songo  ini memiliki nilai historis dikarenakan berdiri sejak tahun 1857 pada zaman penjajahan Belanda. 

Dasar pembangunan bendungan ini adalah untuk mengatur debit air agar dapat mengaliri kanal Magetan yang digunakan untuk mengairi persawahan di daerah Kabupaten Sidoarjo.

Selain fungsi tersebut, bendungan Rolak Songo juga digunakan untuk mengatur ketinggian air di anak sungai brantas yaitu kali mas yang berada di Surabaya dan kali Porong yang berada di Sidoarjo.

Sejumlah warga yang tinggal di Bendungan Kali Rolak Songo di Desa Mliriprowo Kecamatan Tarik mengaku menyimpan banyak cerita mistis dan gaib. 

Seperti halnya yang ramai di media sosial (medsos) sebelum kejadian mobil kecemplung kedatangan seorang kakek yang sempat pesan kopi di warung nasi penyet milik Sugianto sebelah barat TKP mobil Supoidi (50) yang tercebur di bendungan ini

Beritajatim.com menemui seseorang yang sudah lama tinggal di sekitar lokasi dan biasa tinggal dan membersihkan Dam Rolak Songo Tarik.

Mbah Ngadi (67) warga RT 21 RW 03  Dusun Sebani Desa Sebani Kecamatan Tarik bercerita terkait dengan bangunan peninggalan Belanda ini. Pria yang dikenal sebagai orang yang biasa bersih-bersih kotoran di Kali Rolak Songo sejak tahun 1971 itu mengatakan, di Kali Rolak Songo itu ada penunggunya. 

Tangga yang ada di sisi tanggul utara pintu air biasanya ada kakek tua. Dan sisi timur masih berada di tanggul bagian utara itu ada seorang wanita. "Kedua-duanya sangat sabar," tutur Ngadi.

Dia menuturkan, baik pria tua dan wanita itu sering ditemuinya. Waktu ketemunya dengan sosok yang dinilai makhluk gaib tidak hanya diwaktu malam saja. Melainkan juga siang hari penah ketemu makhluk tersebut. 

"Usai mencari ikan dan mendapatkan banyak tangkapan ikan, kakek itu menghampirinya dan menawar ikan saya dengan harga murah. Ya tidak saya berikan. Setelah saya sempat berpaling sedikit dan kembali melihat kepadanya, si kakek sudah tidak ada," tuturnya mengisahkan.

Setelah merasakan kakek itu makhluk jelmaan, sambung Ngadi, dirinya sangat menyesal sekali. Ia menyesal, kenapa tidak memberikannya meski tawarannya murah.  "Kalau dikembalikan kepada diri saya sendiri, kalau kemampuannya beli dengan seharga gitu karena untuk kebutuhan makan, belas kasihan saya berarti kurang," tutur mengintropeksi diri.

Sosok pria tua penyabar itu juga pernah di jumpainya membeli kopi di warung milik Simpen (sekarang warungnya sudah jadi bangunan lain),  orang yang minum kopi disampingnya, merasa aneh dan melihat sekejap ada lalu tidak ada, orang itu langsung keluar warung dan lari. 

"Itu orangnya kalau sampean tidak percaya. Tanyakan kepada dia, orangnya masih hidup," kata Ngadi sambil menunjuk kepada laki-laki yang jualan sisi utara bendungan.

Untuk sosok wanita berparas cantik yang biasa hilang di bagian timur tangga, sering dilihatnya keluar sekitar pukul 03.00 dini hari. Pernah bertemu dan Ngadi menawarkan jasa mau kemana diantarkan dengan niatan tulus, wanita itu tidak mau. 

Malahan wanita itu, sambung Ngadi menjawab mau ke pasar. Tapi dia tidak mengejar mau ke pasar mana. 

Kemudian wanita itu berjalan di pinggir pintu air 8 (sisi paling selatan dam) sampai   di pintu air dam nomor dua dari sisi utara, wanita itu hilang. 

Sebelum beranjak ke pasar, ia diberi koran dan wujud koran beneran, tapi koran itu tidak diambilnya. Ngadi juga heran tadinya di tas wanita itu tidak ada koran, berdiri mau beranjak ke pasar  meninggalkan koran. 

"Mungkin saja kalau koran itu saya ambil bisa jadi berupa barang berharga, tapi saya tidak mau. Niatan saya menawarkan diri mau mengantar tulus dan tidak ada niatan mengganggu. Karena mencari ikan untuk nafkah keluarga di kali situ," kata Ngadi.

Yang penting, pesan Ngadi, siapapun orangnya, ketika saat berada di manapun tempat, termasuk di Bendungan Kali Rolak Songo, tidak lupa berdoa meminta perlindungan kepada Allah SWT,  jangan mengganggu baik kepada sesama maupun lainnya. 

Dimanapun tempat dianjurkan Ngadi, tidak boleh mengeluarkan kata-kata sesumbar, bersikap congkak dan berbuat yang tidak baik lainnya. Manusia harus selalu meminta perlindunganNya, selamat bersama keluarga di manapun tempat. 

"Selama saya mencari ikan di sekitar Dam Kali Rolak Songo dan dijual untuk menafkahi anak isteri, meski sering ditemui jelmaan orang yang bukan dari bangsa saya, saya selalu berdoa  dan tidak ada sedikitpun niatan ingin mengganggu," imbuh kakek yang biasa dimintai tolong mengevakuasi mayat jika ada temuan di sekitar Dam Rolak Songo.

Diakhir wawancara dengan wartawan ini, Mbah Ngadi berdoa semoga jasad Supoidi bisa segera diketemukan pada hari ketiga Rabu (20/12/2017) besok atau paling lama hari keempat Kamis (21/12/2017), setelah korban terkena musibah mobilnya tercebur di Kali Rolak Songo bersama keponakannya Helmi Abdillah yang selamat berhasil ditolong warga yang ketepatan berada di sekitar kali. (isa/ted)  

Komentar

?>