Senin, 18 Desember 2017

Pasca Longsor, Banaran Ponorogo Dibangun Dengan Rasa NKRI

Kamis, 07 Desember 2017 11:03:38 WIB
Reporter : Pramita Kusumaningrum
Pasca Longsor, Banaran Ponorogo Dibangun Dengan Rasa NKRI

Ponorogo (beritajatim.com) - Tragedi Sabtu, 1 April 2017 pagi tak bisa terlupakan oleh warga Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo.

Di pagi itu, ketika hujan rintik-rintik membasahi desa tersebut, warga melakukan aktifitas seperti biasa. Ada yang bertani, ada yang santai di rumah, ada pula yang berangkat sekolah.

Tak ada pertanda apapun, sampai akhirnya suara dentuman tanah longsor terdengar kencang. Secepat kilat longsoran tanah itu membuat 36 rumah dan 28 warga tertimbun tanah.

Sepekan kemudian, 9 April 2017, longsor susulan terjadi tapi tidak ada korban dalam longsor susulan tersebut. Tapi 4 rumah kembali tertimbun longsor.

Longsor susulan itu menganggu psikis warga Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, sebab saat itu ada 20'an korban peristiwa pertama yang belum ditemukan.

Tapi, semua berangsur-angsur pulih. Kesedihan hanya sesaat. Badai itu sudah berlalu. Tidak ada lagi kata sedih saat matahari terbit dari ufuk timur Desa Banaran, Kecamatan Banaran, Kecamatan Pulung, Kamis (7/12/2017) pagi.

2.000 warga sudah beraktifitas seperti biasa. Ratusa korban terdampak sudah tinggal di 37 rumah yang baru selesai dibangun dengan rasa NKRI. Rumah-rumah terlihat megah dan tegap berdiri dengan cat kuning dan hijau.

Salah satu warga, Misnan segera menyiapkan alat perangnya untuk bertani jahe. Dengan memakai kaos putih, celana pendek, Misnan mengendarai kendaraan bututnya ke perkebunan jahe.

Dia tidak sendiri, ada puluhan warga lain yang juga akan memanen jahe. Tidak terlihat ada trauma, padahal beberapa bulan lalu, teman, saudara mereka terkubur hidup-hidup.

"Kami sudah bangkit dari keterpurukan. Kami sudah harus menghidupi keluarga. Bangkit pilihan satu-satunya dan paling utama," kata Misnan di tengah-tengah ladang jahe.

Dia menceritakan, saat ini di antara 2.000 warga, 30 persennya memilih untuk kembali bercocok tanam. Selebihnya, melakukan aktivitas lain.

Mereka tetap hidup di Desa Banaran, Kecamatan Pulung. Ini pilihan mereka karena sayang dengan tanah kelahiran.

"Mau gimana lagi. Kami dari kecil disini. Termasuk saya. Dari lahir ceprot di Banaran. Bertani juga di Banaran," bebernya.

Dia mengaku, dua bulan lalu, masih ada unsur TNI, Polri dan banyak ormas di Banaran. Mereka membangun rumah hunian tetap bagi warga Banaran.

"Kami bahu-membahu. Tidak cuma TNI saja. Tapi ada warga. Ada Polisi. Ada juga ormas yang membantu membangun rumah bagi saudara kami," kata Bapak dua orang anak ini.

Rumah Rasa NKRI
Kenangan dua bulan membangun hunian tetap bagi warga Banaran tidak bisa dilupakan, Sertu Pamuji, anggota Kodim 0802 Ponorogo. Sertu Pamuji harus berangkat pagi dari rumahnya di area kota. Menempuh 30 km dari rumahnya.

Namun, itu yang membuat dia rindu. Karena kehangatan yang dia terima. Ketika membangun, walupun harus kerja lebih keras tapi semuanya dilakukan secara bersama-sama.

"Rasanya jadi ringan. Apalagi dikerjakan secara bersama-sama. Dibalut dengan NKRI," tambah Sertu Pamuji.

Dia mengaku, tidak mudah membangun rumah hunian tetap. Karena memang sudah ada pakemnya, namun warga bisa meminta sesuai keinginannya.

Seperti, rumah yang dia tangani, pemilik ingin memiliki rumah bertingkat. Tapi, tingkatnya itu dibasement. "Akhirnya juga memerlukan waktu yang lebih lama," ujarnya.

Sertu Pamuji, berkisah, jika waktu membangun rasa NKRI nya kental. Sama dengan saat dirinya bertugas di Timor-Timor yang saat itu masih menjadi satu di Indonesia.

Cuma bedanya, di Banaran, dia mengaku, benar-benar akrab dengan warga sekitar. Mereka menyediakan makan, minum. "Bahkan terkadang makan bersama. Kami anggota dengan warga lain," tambahnya.

Jika dulu, lanjut dia, warga tidak tahu rumah mereka gimana. Di Banaran, lain, si pemilik rumah juga ikut menjadi tenaga kasar.

"Dulu di Timor-Timor, banyak yang tidak suka. Karena ada yang pengen merdeka. Kalau di Banaran tidak. Mereka membantu," tambahnya.

Sementara, Dandim 0802 Ponorogo, Letkol Inf Slamet Sarjiato, mengatakan, pembangunan selesai dalam dua bulan.

Dia menjelaskan, pembangunan hunian tetap juga penuh perjuangan anggotanya, anggota polisi, ormas dan warga Banaran sendiri.

Ada 40 rumah yang mereka kerjakan hingga selesai. "37 rumah di wilayah Desa Banaran. 23 lainnya di Desa Bekiring," katanya.

Dia membeberkan, personil yang diturunkan setiap harinya 200 personil. Awalnya, memang ada kesulitan. Apalagi, jika letak rumahnya di perbukitan.

"Kan rumahnya itu tidak jadi satu. Mencar-mencar. Ada yang harus mengantarkan dengan roda dua. kemudian di angkat. Semua kami kerjakan bersama. Rasa NKRI nya kuat," pungkasnya. (mit/ted)

Komentar

?>