Jum'at, 15 Desember 2017

Masuk dan Jalani Profesi Jurnalistik Itu Hakikatnya Tak Mudah

Kamis, 23 Nopember 2017 00:15:11 WIB
Reporter : Misti P.
Masuk dan Jalani Profesi Jurnalistik Itu Hakikatnya Tak Mudah
Sampaikan materi perkembangan pers dan UKW di Institut Pesantren KH Abdul Halim. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com)-- Direktur Utama Beritajatim.com, Ainur Rohim menjadi narasumber dalam workshop jurnalistik dengan tema 'Mengawal Demokrasi Melalui Jurnalistik' di Institut Pesantren KH Abdul Chalim, Desa Bendungan Jati, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Di hadapan ratusan mahasiswa, Ainur Rohim menjelaskan tentang dunia jurnalistik di tataran nasional hingga munculnya kebijakan atau program tentang uji kompetensi wartawan (UKW).

Wakil Ketua Bidang Pendidikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur ini menjelaskan mulai dari pasang surut dan sejarah pers di Indonesia, UKW yang menjadi satu kebutuhan serta konten uji kompetensi wartawan yang dinilai cukup penting bagi wartawan di tataran praktis agar profesional dan bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya.

"Dulu, orang masuk dunia pers tak gampang karena dunia ini merupakan lahan aktualisasi ide. Namun tahun 1980, media mulai bergerak ke industri dan setelah 1998, kita memasuki era kebebasan dunia pers, yang tentu ada nilai positifnya dan tak sedikit nilai yang tak kita harapkan dan mesti diatasi bersama," ungkapnya di hadapan para peserta workshop jurnalistik, Rabu (22/11/2017).

Ainur menjelaskan, perkembangan pers di Indonesia mulai koran, televisi masih hitam putih sampai ke media online. Menurutnya, berita yang disajikan dulu dan saat ini sudah mulai berubah. Jika dulu, berita sama maka penulisannya berbeda, namun saat ini sudah jarang ditemui karena di media online dalam satu hari bisa menyajikan puluhan angle berita untuk satu tema berita.

"Pers mempunyai lima fungsi yakni sebagai informasi, pendidikan, hiburan, sosial kontrol dan ekonomi bisnis. Diperlukan uji kompetensi wartawan karena sebagai kunci menjalankan profesi secara profesional dan bertanggung jawab membawa mengawal kepentingan publik. Wartawan harus paham Undang-undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan ketentuan lain yang digariskan Dewan Pers. Hakikatnya untuk menjadi wartawan profesional itu tidak mudah," ingatnya.

Meski sebagai pengisi materi di akhir workshop jurnalistik, namun para peserta masih antusias mendengar dan bertanya. Seperti berita di media sosial (Medsos) yang antara judul berita dengan isi yang tidak sama, apakah termasuk produk jurnalistik dan melanggar Undang-undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

Peserta workshop jurnalistik merupakan himpunan mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Institut Pesantren KH Abdul Chalim serta Lembaga Pendidikan Amanatul Ummah tingkat menengah atas.

Tahun ini, Institut KH Abdul Chalim menerima 300 mahasiswa, selama berjalan tiga tahun total 700 mahasiswa, ada tiga fakultas dengan 10 progran studi (prodi).

Sementara itu, wokshop jurnalistik yang kali pertama digelar ini, berlangsung selama dua hari, mulai tanggal 21-22 November 2017. Sejumlah narasumber lain yang mengisi materi dalam workshop jurnalistik tersebut di antaranya dosen sosiologi komunikasi Unesa Surabaya dan Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jatim Machmud Suhermono.

"Kita membutuhkan sinergi dengan media massa agar pemahaman mahasiswa tentang komunikasi dan penyiaran lebih lengkap," kata Muhammad Chabibi Lc, M.Hum, Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam. [tin/air]

Tag : pers

Komentar

?>