Sabtu, 19 Agustus 2017

8 Warga Jember Tewas dalam Kecelakaan Maut di Bali

Percakapan Terakhir Subagyo dengan Sang Istri Sebelum Maut di Bali

Minggu, 18 Juni 2017 21:00:37 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Percakapan Terakhir Subagyo dengan Sang Istri Sebelum Maut di Bali

Jember (beritajatim.com) - Mujayanah sama sekali tidak tahu jika suaminya, Subagyo, hendak pergi ke Bali, Sabtu (17/6/2017). Kini ia hanya bisa menangis karena sang suami kembali ke rumah mereka di Desa Suci, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember dalam keadaan tak bernyawa.

Subagyo adalah pemilik kendaraan Isuzu Elf bernopol S 7485 yang disewa untuk menjemput sejumlah warga Jember yang berprofesi sebagai pekerja bangunan di Bali untuk mudik. Kendaraan tersebut mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju Gilimanuk, Sabtu malam. Bertabrakan dengan truk pengangkut semen, delapan orang penumpang Elf meninggal dunia dan lima orang lainnya terluka.

Selain bekerja sebagai pengemudi mobil sewaan, Subagyo biasa bekerja sebagai pesuruh di Kebun Sentul. Jadi, Mujayanah, sang istri, tak terlampau heran saat ia pamit hendak mengantarkan mobil ke Desa Bunut, Kecamatan Panti, Sabtu pagi.

Sehari sebelum berangkat, Subagyo sebenarnya sedang tak enak badan. "Mau dikeroki, Pak?" tanya Mujayanah.

"Tidak usah. Lebih baik saya yang meninggal duluan ketimbang kamu," kata Subagyo.

Husnul Khotimah, anak satu-satunya Subagyo dan Mujayanah, menceritakan kembali percakapan itu, Minggu (18/6/2017). Dia tak menyangka inilah percakapan terakhir dan benar-benar terbukti. Sabtu malam, Mujayanah mencoba menelepon Subagyo. Ponsel sang suami tidak aktif.


Berikutnya adalah kecemasan. Mujayanah dan Khotimah mendapat kabar dari salah satu kerabat bahwa Subagyo mengalami kecelakaan. Semula tak ada yang memberitahu Mujayanah jika sang suami sudah meninggal dunia. Begitu tahu jika suaminya tiada, menurut Khotimah, "Ibu jerit-jerit." [wir/kun]

Foto: Husnul Hotimah

Komentar

?>