Minggu, 28 Mei 2017

Fenomena Sumur Ambles Kediri, Warga Butuh Tanah Urug

Minggu, 30 April 2017 08:54:44 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Fenomena Sumur Ambles Kediri, Warga Butuh Tanah Urug

Kediri (beritajatim.com) - Selain air bersih, warga terdampak fenomena sumur ambles di Desa Manggis dan Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri juga membutuhkan tanah urug. Material tanah ini dimanfaatkan warga untuk menimbun sumur mereka yang ambles.

"Kalau tidak segera diuruk, kami khawatir lubang sumurnya semakin lebar dan mengenai pondasi rumah. Di sumur saya saja, begitu ambles langsung saya urug, tetapi masih berdampak pada bangunan rumah. Seperti ini, terjadi retakan di beberapa tembok," kata Marsimin, warga Dusun Nanas, Desa Manggis, Minggu (30/4/2017).

Untuk satu buah sumur, sekurang-kuranya warga butuh empat hingga lima damp truk tanah. Bahkan, ada beberapa sumur yang lubangnya sudah sangat membesar dan melebar menghabiskan 10 damp truk tanah uruk. Untuk satu damp truk tanah warga membeli dengan harga Rp 200 ribu.

"Saya beli dari tetangga pemilik truk. Dia yang mencarikan tanah uruk. Rata-rata warga yang sumurnya ambles memesan darinya," aku Marsimin. Pria berusia 54 tahun ini sudah menutup sumurnya menggunakan tanah. Bahkan, sudah dua kali ini ia membuat sumur dan ambles.

"Dulu saya buat sumur bersebelahan dengan kamar mandi. Tetapi pada tahun 1975 silam ambles. Bahkan, sebagian kamar mandinya juga ikut terperosok. Kemudian saya tutup dan membuat kembali agak jauh dari kamar mandi. Ternyata sekarang ambles lagi. Langsung saya timbun supaya tidak menjalar kemana-mana," bebernya.

Hingga saat ini jumlah sumur warga yang ambles mencapai 156 buah tersebar dari dua desa yaitu, Desa Manggis dan Gadungan. Sedangkan sumur yang menandakan bakal ambles dengan gejala airnya keruh sebanyak 122 buah. Dengan bertambahnya sumur warga yang ambles ini, kebutuhan air bersih masyarakat juga semakin banyak.

Masyarakat hanya bisa mengandalkan pasokan air dari pemerintah daerah Kabupaten Kediri dan para dermawan. Namun demikian, warga masih harus membeli drum penampungan air bersih. Seperti Mbok Bibit, warga Dusun Nanas dia harus membeli satu drum dengan harga Rp 230 ribu. Rata-rata warga juga melakukan pembelian drum untuk menampung air dropping.

"Kemarin saya beli drum ini seharga Rp 230 ribu. Saya cepat-cepat beli begitu datang air bantuan. Lebih baik keluar uang untuk beli drum, daripada tidak mendapatkan air. Beberapa tetangga juga langsung beli," jelasnya.

Mereka berharap, pemerintah daerah Kabupaten Kediri tergerak hatinya untuk membantu menyediakan tanah uruk dan juga drum penampungan air. [nng/suf]

Komentar

?>