Sabtu, 20 Oktober 2018

Meski Ada Tragedi, Perahu Penyebrangan di Kota Ini Masih Diminati

Minggu, 16 April 2017 10:46:34 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Meski Ada Tragedi, Perahu Penyebrangan di Kota Ini Masih Diminati
Perahu penyeberangan yang melintasi Bengawan Solo Bojonegoro

Bojonegoro (beritajatim.com) - Meski sudah ada tragedi perahu penyebarangan terbalik hingga merenggut nyawa di Sidoarjo, namum alat transportasi air yang ada di Kabupaten Bojonegoro masih diminati warga. Para pengguna transportasi air itu tidak terpengaruh.


Sedikitnya, ada 78 titik penyeberangan yang ada di Sungai Bengawan Solo di wilayah Bojonegoro. Transportasi yang menggunakan perahu tradisional itu masih menjadi pilihan warga.

Namun, menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bojonegoro, Iskandar, transportasi air yang ada di sepanjang Sungai Bengawan Solo itu kondisinya kurang layak. Salah satu titik perahu penyebrangan terdapat di komplek Taman Bengawan Solo di utara pasar kota Bojonegoro.

Setiap hari terutama pada jam berangkat maupun pulang sekolah ,perahu ini selalu ramai di padati ratusan warga, sebagian besar merupakan para pelajar. "Karena akses terdekat yang menghubungkan antara Kecamatan Trucuk dengan Kota Bojonegoro," ujar salah seorang penyeberang, Andi, Minggu (16/4/2017).

Sekali angkut perahu ini bisa di naiki 30 penumpang, padahal sesuai peraturan Dinas Perhubungan setempat, maksimal perahu penyeberangan hanya bisa dinaiki 12 penumpang, kondisi tersebut cukup berbahaya, selain melebihi kapasitas penyedia jasa perahu juga tidak menyediakan pelampung

"Selain lewat perahu tambang bisa lewat jembatan Kaliketek, namun harus memutar sekitar sepuluh kilometer," ungkap pelajar yang berangkat sekolah naik sepeda ini

Kepala Dinas Perhubungan Bojonegoro Iskandar menambahkan, sedikitnya terdapat 78 titik penyedia jasa perahu penyeberangan, mulai hulu hingga hilir Sungai Bengawan Solo. Dari jumlah tersebut hampir semua tak memenuhi standart keselamatan

"Selama ini kita sudah melakukan sosialisasi agar tidak mengangkut melebihi kapasitas, terutama pada saat tinggi muka air sedang naik," terangnya.

Bahkan menurutnya, perahu penyebrangan yang tidak terdaftar diperkirakan jumlahnya lebih banyak, selain memberikan bantuan pelampung pihak Dinas Perhubungan juga memberikan bantuan trap atau dermaga kecil di setap lokasi tambang perahu

"Selama ini kita kesulitan untuk melakukan pemantauan, karena penambang perahu tradisional maupun perahu warga ini jumlahnya banyak,” pungkasnya. [lus/suf]

Komentar

?>