Rabu, 22 Nopember 2017

Longsor Ponorogo

Ponorogo Masuk 29 Daerah di Jatim Rawan Tanah Longsor

Sabtu, 01 April 2017 15:37:35 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Ponorogo Masuk 29 Daerah di Jatim Rawan Tanah Longsor
Dr Hendro Wardhono: Ponorogo termasuk daerah rawan bencana tanah longsor di Jatim. [Foto: air/bj.com]

Surabaya (beritajatim.com)--Terjadi musibah tanah longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Diperkirakan masih ada 27 warga korban yang terjebak di material longsoran dan membutuhkan pertolongan cepat untuk dievakuasi.

Tanah longsor yang kerapkali terjadi di Ponorogo tak bisa dilepaskan dari realitas geografi dan topografi daerah itu. Wilayah yang bergunung-gunung dengan intensitas hujan cukup tinggi, maka tanah longsor sangat mungkin terjadi kapan saja dan di mana saja di wilayah Ponorogo.

Anggota Tim Pengarah BPDB Jatim, yang juga Ketua Pokja Bidang Sosiokultural dan Demografi Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Pusat, Dr Hendro Wardhono MS, mengatakan, Ponorogo merupakan termasuk 29 daerah di Jatim yang rawan diterjang bencana alam tanah longsor dan banjir.

"Wilayahnya bergunung-gunung dan tingkat curah hujannya juga cukup tinggi," katanya.

Dia mengatakan, bencana tanah longsor dan banjir di Indonesia, termasuk di Jatim dan Kabupaten Ponorogo, secara makro disebabkan faktor hydrometeorologi. Di mana curah air yang tinggi dengan kondisi permukaan tanah yang rentan dan bersifat terbuka, maka berpeluang terjadinya bencana alam berupa tanah longsor.

"Belum lagi, perubahan fungsi tanah dan jenis tanaman yang ditanam warga di wilayah-wilayah yang tingkat kemiringan tanahnya lebih dari 45 derajat. Itu juga pengaruhnya besar mendorong terjadinya tanah longsor," kata Dr Hendro, yang juga alumni FIA Universitas Brawijaya Malang ini.

Dalam perspektif demikian, tambahnya, yang dibutuhkan oleh banyak stakeholders, terutama warga yang bermukim dan atau menjalankan aktifitas sosial ekonomi, di wilayah rawan bencana tanah longsor, adalah ketangguhan menghadapi kemungkinan tertimpa bencana.

"Mereka mesti tangguh dan pemerintah memberikan pendidikan serta penyadaran terhadap kemungkinan munculnya bencana alam yang datang secara tak terduga," ujarnya.

Ketangguhan menghadapi bencana itu, menurut Dr Hendro, meliputi 5 hal bagi warga yang berada di ring I kawasan rawan bencana. Apa saja?

Pertama, warga di daerah rawan bencana harus tangguh terhadap akses informasi tentang daerahnya yang dipandang rawan menimbulkan masalah bencana alam. Kedua, tangguh dalam konteks daya antisipasi. "Dalam hal ini dibutuhkan pelatihan dan simulasi. Itu pentingnya simulasi dan mesti dilakukan berulang-ulang," katanya.

Ketiga, tangguh dalam konteks self protection. Keempat, tangguh dalam konteks adaption. Artinya, mengetahui dan memahami secara utuh bahwa wilayahnya rawan bencana serta mampu menyelamatkan diri sebelum dan atau saat bencana alam itu datang. Kelima, tangguh dalam konteks daya lenting. "Artinya, mampu bangkit kembali setelah tertimpa bencana alam. Jangan mudah putus asa dan putus harapan setelah tertimpa bencana alam," tegas Dr Hendro. [air]

Komentar

?>