Sabtu, 29 April 2017

GUISS Gelar Aksi Bela Aqidah 213

Selasa, 21 Maret 2017 12:08:41 WIB
Reporter : Temmy P.
GUISS Gelar Aksi Bela Aqidah 213

Sumenep (beritajatim.com) - Sekitar 300 umat Islam yang tergabung dalam Gerakan Umat Islam Sumenep (GUISS) menggelar aksi ke Pemkab dan Polres setempat, Selasa (21/03/2017).

Unjuk rasa bertajuk Aksi Bela Akidah 213 tersebut diawali dari Taman Adipura (alun-alun kota Sumenep: red). Para peserta aksi yang mayoritas merupakan ulama kharismatik di Sumenep melakukan 'long march' dari Taman Adipura menuju Pemkab dan DPRD.

Peserta aksi sebagian besar mengenakan jubah putih dan bersorban. Sepanjang jalan, tak henti-hentinya mengumandangkan takbir dan Sholawat Nabi.

"Pemberian bingkisan pada siswa SD oleh Yayasan Sejahtera Bangsa Mulia itu merupakan penodaan dan penistaan agama. Karena isi bingkisannya mengarah pada agama lain selain Islam," kata Korlap Aksi, Ach. Farid Azzyadi.

Pada tanggal 21 Februari 2017, dilakukan sosialisasi wawasan kebangsaan di sejumlah SD di Sumenep. Penyelenggara sosialisasi kebangsaan tersebut adalan Dewan Harian Cabang (DHC) Badan Pembudaya Kejuangan 45 Sumenep, yang dikemas dalam kegiatan 'Sosialisasi Jiwa Semangat Nilai-nilai Kejuangan 45 (JSN 45)/ Wawasan Kebangsaan, Love Sex Dating (LSD), dan Pemberian Paket Hadiah'. Kegiatan tersebut merupakan kerja sama DHC 45 dengan Yayasan Sejahtera Bangsa Mulia, Gresik.

Pembagian bingkisan tersebut sudah dilakukan di 4 SD di Kecamatan Manding, dan 5 SD di Kecamatan Kota Sumenep. Penerima bingkisan tersebut adalah siswa kelas IV, V, dan VI

Sosialisasi wawasan kebangsaan tersebut mendadak ramai diperbincangkan, karena bingkisan yang diberikan pada siswa di akhir acara, diduga disisipi ajaran agama tertentu. Tiap bingkisan berisi barang variatif, yang merupakan produk dari luar negeri, seperti Amerika, China, Singapura, Vietnam. Di antaranya alat tulis, kaos, jaket, kaos kaki, handuk, sandal, makanan ringan, dan permen.

Barang-barang tersebut bertuliskan simbol agama lain selain Islam. Padahal, di Sumenep mayoritas penduduknya muslim. Akibatnya, sejumlah orang tua siswa menolak dan mengembalikan bingkisan tersebut. Kegiatan itu mendapatkan 'restu' dari Dinas Pendidikan setempat, yang tertuang dalam surat resmi ditandatangani Kepala Dinas pendidikan Sumenep.

"Kepala Dinas Pendidikan harus bertanggung jawab, karena telah lalai dan berani mengeluarkan rekomendasi sosialisasi kebangsaan yang membagikan bingkisan berisi atribut agama lain. Kalau perlu, Bupati harus mencopot Kepala Dinas Pendidikan," ujar Farid.

Selain itu, para pengunjuk rasa juga menuntut agar Polres Sumenep melakukan penyidikan secara profesional dan transparan terkait kasus dugaan penodaan dan penistaan agama tersebut.

"Yayasan Sejahtera Bangsa Mulia sebagai pemasok bingkisan telah melakukan penodaan agama. Karena itu, aparat polres Sumenep harus bersikap tegas pada oknum-oknum yang terlibat," tandasnya.

Ia juga meminta agar Polres Sumenep segera menetapkan tersangka atas kasus tersebut, karena telah menimbulkan keresahan dan kerugian secara moral dan aqidah terhadap anak didik. "Kasus ini sudah terjadi satu bulan lalu. Tapi sampai sekarang polisi belum menetapkan tersangka. Ini benar-benar janggal," ucapnya.

Massa aksi di Pemkab ditemui Asisten Pemerintahan Setkab Sumenep, Cartok. Sementara di Polres, massa ditemui langsung Kapolres Sumenep AKBP H. Joseph Ananta Pinora. Massa kemudian menyerahkan selebaran berisi tuntutan GUISS kepada Bupati dan Kapolres. (tem/kun)

Tag : demo sumenep

Komentar

?>