Rabu, 20 September 2017

Rindu Ibunya, Anak TKI Banyuwangi Ini Terus Menangis

Kamis, 09 Maret 2017 10:10:15 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Rindu Ibunya, Anak TKI Banyuwangi Ini Terus Menangis

Banyuwangi (beritajatim.com) - Sega Pratama (16) terus menangis tersengal-sengal kala mengingat sang ibu yang hingga kini tak kunjung pulang. Air matanya menetes tak terbantahkan, jikalau nama ibunya disebut.

Mulutnya tak mampu berucap, karena tertutup rapat oleh seruan tangisnya. Rasa haru itu terbesit lantaran himpitan rasa rindu yang begitu mendalam. Terang saja, karena anak ini terpaksa berpisah dengan orang tuanya sejak belasan tahun lalu.

Kerinduannya seakan tak terbalas sejak ibunya Yuli Astutik memutuskan pergi ke luar negeri menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Taiwan. Tapi sejak terbang ke negeri formosa dengan dalih mencari nafkah, namun tak sekalipun memberi secarik kabar.

Lain kabar juga lain hasil yang dinanti. Meski sang ibu yang dikabarkan telah belasan tahun menjajaki rumput hijau di negeri tetangga, tapi tak selembarpun uang yang dikirim untuk keluarganya.

Sejak kelas 1 sekolah dasar, Sega kecil dititipkan pada Daliyo dan Kasmiyati. Keduanya tidak lain adalah kakek dan neneknya. Kasih sayang yang terbangun hanya didapat dari kehangatan kedua orang itu.

Hingga kini, buah cinta pertama antara Yuli Astutik dan suaminya itu telah menginjak dewasa. Sekolah pun sudah masuk di jenjang kelas 1 sekolah menengah atas.

Sambil menitihkan air mata, hanya satu yang diminta, Sega dapat segera bertemu dengan sang bunda yang kini tak tahu kabar beritanya. Ibarat setetes air setidaknya mampu membasahi ranting yang kering itu.

Melalui sambungan media sosial, penelusuran pun sempat dilayangkan. Bantuan dari jaringan warga TKI Banyuwangi di Taiwan mulai bergerilya. Benar saja, cara ini cukup jitu untuk mendapatkan buah hasilnya.

Beberapa yang menyebut, ada yang mengenali sosok Yuli Astutik warga asli Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi itu. Dalam akun facebook itu, Yuli memiliki nama lain Aryu Lita. Terakhir terlihat beraktivitas di medsos tersebut April 2016 silam.

Tapi, beberapa teman di Taiwan sempat melakukan komunikasi melalui messenger, terlihat akun itu masih aktif. Sambungan komunikasi itu kemudian dilanjutkan dengan penyampaian salam rindu dari keluarganya di rumah.

"Sempat mengucapkan terima kasih telah memberi tahu dirinya. Dan dia akan segera menelpon keluarganya di rumah," ungkap Krishna Adi, sapaan akrab Topan Hadi Sucipto Ketua KAMI Banyuwangi, Kamis (9/3/2017).

Rasa lega sempat muncul selepas komunikasi transparan bersama salah satu pejuang devisa asal Bumi Blambangan tersebut. Tapi, kelam kembali kala beberapa alasan sempat terlontar pada komunikasi di hari berikutnya. "Sampai sekarang belum menghubungi orang tunya kok. Katanya Mbak Yuli alasan tidak punya pulsa, Masya Allah," ujarnya.

Ini yang kemudian membuat sejumlah TKI lain getol setelah melihat postingan pada laman Facebook berisi jawaban dan sikap Yuli tersebut. Besar harapan dari TKI lain di Taiwan sebenarnya meminta agar Yuli segera menghubungi keluarganya. (rin/kun)

Tag : tki banyuwangi

Komentar

?>