Sabtu, 25 Februari 2017

Satpol PP Ngawi Enggan Tutup Lokalisasi, Begini Alasannya

Kamis, 12 Januari 2017 09:42:15 WIB
Reporter : Pramita Kusumaningrum
Satpol PP Ngawi Enggan Tutup Lokalisasi, Begini Alasannya
Petugas Satpol PP menunjukkan surat peringatan penutupan lokalisasi

Ngawi (beritajatim.com) - Walaupun sudah resmi ditutup awal tahun, Minggu (1/1/2017) lalu, lokalisasi di Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi tetap beroperasi. Parahnya, Pemkab Ngawi terkesan tidak mau tahu dengan lokalisasi dawung.

Alasannya sepele, karena penggusuran atau penutupan warung esek-esek harus menjalani mekanisme. Yakni ada surat peringatan I sampai III.

"Bukan tidak mau tahu tetapi kami ada aturannya. Kami sendiri harus melewati tahapan yang ada jika sampai surat peringatan ketiga (SP III-red) tidak digubris jelas akan dilakukan tindakan paksa,” terang Arif Setiyono Kasi Penegakan Perda Satpol PP Ngawi, Kamis (12/1/2017).

Hanya saja sampai sekarang, lanjut dia, sesuai mekanismenya baru pada tahapan Surat Peringatan ke II (SP II) dan itu pun belum dilayangkan ke tempat prostitusi tersebut. Baik di Alas Malang masuk Kecamatan Karangjati maupun di beberapa warung di Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo.

Arif mengakui, sesuai perintah Bupati Ngawi Budi Sulistyono memang deadline akhir penutupan tertanggal awal Januari 2017. Tetapi untuk melakukan tindakan operasi saat itu tentunya ada teknis lain yang masih belum terselesaikan hingga kini yakni terkait anggaran.

“Maklum saja kantor ini ada perubahan manajemen nanti kalau sudah mulai tertata pasti apa yang sudah digariskan akan dilaksanakan. Seperti operasi itu sendiri memang harus butuh biaya operasional karena harus melibatkan satuan lain,” beber Arif.

Diberitakan sebelumnya, meski sudah resmi ditutup oleh Pemkab Ngawi per awal tahun, Minggu (1/1/2017) lalu, praktik prostitusi di Ngawi tetap berjalan. Seperti yang terjadi Desa Dawung, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi.

Praktik prostitusi di Dawung seperti biasa, bermodus warung kopi. Selain menyediakan kopi, warkop di Desa Dawung juga menyediakan Pekerja Seks Komersial (PSK) untuk menerima tamu para hidung belang.

Bahkan dari informasi yang didapat beritajatim.com, PSK di Dawung sudah mampu melayani tiga tamu pria hidung belang. Pun si pemilik warkop, menjawab enteng ketika ditanyai masalah penutupan. "Semua urusannya dengan duit. Makanya kami buka," kata Pulung (nama samaran), salah satu mucikari.

Dalam perharinya, ujar si pemilik warung, rata-rata ada dua sampai tiga cewek yang mangkal untuk menunggu para tamu. Diterangkan juga jika para cewek yang dimaksudkan itu semuanya berasal dari luar desanya bahkan luar daerah Ngawi.

"Semua dari luar Ngawi. Ada dari Jawa Tengah. Ada pula dari Surabaya buangan dari Doly," bebernya.

Sebenarnya, lanjut dia, pihaknya sudah buka praktek yang tidak lazim tersebut sudah 30 tahun lamanya. Hanya sekarang ini saja ada larangan untuk ditutup. [mit/suf]

Komentar

?>