Selasa, 30 Mei 2017

Sopir Dumptruk Kaget, Dishub Sosialisasi di Jalan

Rabu, 11 Januari 2017 22:24:35 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Sopir Dumptruk Kaget, Dishub Sosialisasi di Jalan

Banyuwangi (beritajatim.com) - Puluhan sopir armada angkutan material nyaris melakukan aksi protes saat kendaraan mereka dihentikan oleh petugas Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan Banyuwangi, Rabu (11/1/2017). Mereka dihentikan saat melintas di jalan raya Dusun Tegalwero, Desa/Kecamatan Blimbingsari.

Ujung penghentian ini, hampir saja menyulut kemarahan dari para sopir. Terlebih, saat petugas DLLAJ menanyakan surat KIR uji kendaraan sejumlah armada yang dihentikan tersebut. Sehingga kondisi ini, nyaris membuat jalan menuju Bandara Blimbingsari macet total.

"Petugas kami hanya melasanakan tugas untuk mensosialisasikan Undang Undang Nomer 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas jalan," jelas Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi, Kusiyadi.

Sebenarnya, kata Kusyadi, petugasnya itu hanya melakukan sosialisasi kepada para sopir. Namun, tak menyangka justru hal itu membuat para sopir salah paham dan ketakutan. "Sosialisasi itu sengaja dilakukan dengan action turun di lapangan agar kegiatan itu tepat sasaran, dan mengena langsung kepada para sopir armada angkutan material. kita juga memberikan selebaran tentang UU nomer 22 tahun 2009, agar dibaca dan diketahui para sopir," terangnya.

Dalam selebaran yang berisi Undang-undang itu dijelaskan, jalan kelas 3 yakni jalan arteri, kolektor, lokal, di lingkungan yang dapat dilewati kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2,1 meter. Sementara, ukuran panjang tidak melebihi 9 meter, dan ukuran paling tinggi 3,5 meter dan muatan sumbu terberat delapan ton.

"Tahapan sosialisasi itu terus akan ditempuh, tidak hanya kepada para sopir armada angkutan material, tetapi juga angkutan-angkutan lainnya," ungkap Kusyadi.

Sosialisasi itu juga menegaskan pada pengguna jalan khususnya truk muatan berat agar mematuhi peraturan. Selain untuk meminimalisir angka kecelakaan juga sebagai bagian agar kualitas jalan bisa lebih tahan lama.

"Kita ingatkan agar para sopir ini mengangkut barang sesuai dengan tonasenya. Sehingga jalan yang dibangun Pemkab Banyuwangi ini tidak mudah rusak," terangnya.

Kusyadi juga menegaskan, jika setelah sosialisasi ini masih terdapat beberapa yang membandel, maka akan ditindak tegas.

"Kita lakukan penertiban sesuai ketentuan pasal 287 UU nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas angkutan jalan dengan sanksi kurungan 2 bulan,  atau denda Rp 500 ribu," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Angkutan Armada Material Banyuwangi (AAMBI), Jaenuri mengaku sangat mendukung langkah Dishub tersebut. Bahkan pihaknya juga siap mensosialisasikan kepada seluruh anggotanya.

Namun, AAMBI kurang setuju dengan keputusan Dishub dengan adanya pembatasan jalan melewati jalan raya depan bandara Blimbingsari. "Kemarin teman-teman sopir sempat dilarang melewati jalan raya poros depan bandara," kata Jaenuri.

Hal ini sempat menimbulkan salah paham dan ketakutan bagi sejumlah sopir armada material. Sehingga mereka tak berani melintas di jalur tersebut. "Tapi setelah tahu kalau itu hanya sosialisasi kami lega. Dan kami bisa memahami ternyata diperbolehkan lewat depan bandara lagi," punkasnya. [rin/suf]

Tag : lalu lintas

Komentar

?>