Jum'at, 21 Juli 2017

Yang Tersisa dari Yadnya Kasada 2016 Gunung Bromo

Jum'at, 22 Juli 2016 02:03:36 WIB
Reporter : Rahardi Soekarno J.
Yang Tersisa dari Yadnya Kasada 2016 Gunung Bromo

Probolinggo (beritajatim.com) - Tokoh adat Tengger yang juga anggota DPRD Kabupaten Probolinggo Supoyo mengatakan, ada empat hal yang ditaati dan dihormati oleh suku Tengger di dunia ini. Yakni, pertama leluhur, kedua orang tua, ketiga guru, dan keempat pemerintah.


Upacara Ritual Yadnya Kasada yang puncaknya digelar pada Kamis (21/7/2016) hari ini adalah bentuk ketaatan dan penghormatan suku Tengger kepada leluhurnya. "Leluhur memerintahkan, agar setiap tanggal 14-15 bulan Kasada, warga Tengger memberikan sesaji berupa hasil bumi ke kawah Gunung Bromo. Mereka melontarkan persembahan ke kawah," katanya kepada beritajatim.com

Puluhan ribu warga Suku Tengger hidup di lereng Gunung Bromo di 38 desa, yang menyebar di empat kabupaten di Jatim. Yakni, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang, Lumajang dan Kabupaten Pasuruan. Saat upacara Yadnya Kasada mereka berkumpul di lautan pasir gunung Bromo untuk menggelar sembahyang di Pura Luhur Poten dan melontarkan persembahan di kawah Gunung Bromo.

Di balik pengorbanan masyarakat Tengger itu, ada puluhan orang warga suku Tengger yang berjuang menantang maut mencari 'sesuap nasi' dengan berlarian di atas kawah Gunung Bromo. Tanpa mempedulikan erupsi Bromo yang saat ini berstatus Waspada, mereka berebut sesaji persembahan yang dilempar ke kawah dalam upacara Yadnya Kasada.

Apapun jenis sesaji yang berhasil ditangkap dan mereka kumpulkan, seperti hasil bumi kentang, kubis, wortel, dan hasil peternakan seperti ayam dan kambing. Mereka juga mengumpulkan uang koin atau kertas yang dilempar oleh pemilik sesaji.

Mereka seakan tidak mempedulikan bahaya yang sewaktu-waktu mengintainya seperti jatuh ke kawah atau pingsan karena menghirup abu vulkanik Bromo.

Para pemburu persembahan sesaji ini membawa alat seperti jaring, bahkan ada yang meletakkan terpal yang dipasang secara non permanen, di atas kawah gunung dengan harapan bisa menjaring lebih banyak sesaji yang dilempar.

Siswanto (26), salah seorang perebut sesaji, sengaja datang jauh-jauh dari Desa Manyu Meneng, Kecamatan Tosari, Pasuruan, ke bibir kawah Bromo untuk ikut merebut sesaji. "Kalau tahun kemarin saya dapat 75 ribu dan sayur-sayuran. Kalau sekarang belum dihitung," ujarnya.

Saat berburu sesaji,  mengenakan sarung yang diikatkan di punggung untuk menyimpan sesaji yang didapatnya. "Ini merupakan berkah Gunung Bromo," tuturnya.

Proses larung sesaji ke kawah Gunung Bromo berlangsung Kamis sore. Ritual tersebut menutup rangkaian upacara Yadnya Kasada tahun ini. Upacara yang selalu digelar setiap tanggal 14-15 malam bulan purnama penanggalan Kasada itu selalu menjadi daya tarik wisata lokal maupun mancanegara.

Rangkaian acara Yadnya Kasada di Kecamatan Sukapura Probolinggo digelar sejak 16 Juli lalu dengan acara Jalan Santai Bersarung, Off Road, Bromo Trails, Pawai Obor, hingga resepsi Yadnya Kasada di Pendopo Agung Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura yang digelar Rabu malam kemarin dan dihadiri anggota DPR RI Hasan Aminuddin yang merupakan Sesepuh Masyarakat Tengger (suami Bupati Probolinggo Tantriana Sari). (tok/ted)
Tag : gunung bromo

Komentar

?>