Jum'at, 14 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Unicef: Jatim Investor Tertinggi Kesehatan Dasar Anak

Kamis, 15 Nopember 2018 23:48:43 WIB
Reporter : Dyah Ayu Setyorini
Unicef: Jatim Investor Tertinggi Kesehatan Dasar Anak

Surabaya (beritajatim.com) - Unicef mengadakan acara High Level Meeting and Multi-Stakeholders Panel dengan tema "100% Profit: Komitmen Bersama Jawa Timur Melanjutkan Investasi pada Kesehatan Anak", di Convention Hall Oak Wood Hotel (One East Residence) Raya Kertajaya 79, Surabaya, Kamis (15/11/2018).

Kegiatan yang berfokus pada investasi anak atau kepedulian terhadap kesehatan dan kebutuhan dasar anak ini dihadiri Sekda Jatim Heru Cahyono, Bupati Trenggalek Emil E. Dardak, Kepala Dinas Kesehatan Jatim Kohar, Pakar Statistik dan Bisnis ITS Kresnayana Yahya dan Chief Field Officer Unicef Jatim Arie Rukmantara.

Dalam pertemuan itu juga hadir perwakilan dari berbagai perusahaan yang turut berkontribusi terhadap investasi anak. Dalam pertemuan tersebut dibahas tentang keberlangsungan investasi anak karena di Jawa Timur terdapat pergantian pemerintahan dan dinamika ekonomi.

Terkait hal tersebut CFO Unicef Jatim, Arie Rukmantara ingin memastikan bahwa nilai investasi anak di Jatim tetap tinggi, karena menurut data yang dimiliki Unicef, Jawa Timur merupakan daerah dengan investasi anak paling tinggi se-Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan kemampuan Jawa Timur merespon dengan cepat segala kebutuhan anak, seperti imunisasi, kawasan ramah anak, tindakan solidaritas perlindungan anak dari kekerasan dan sebagainya.

"Misalnya di 2017 Jawa Timur mampu mengimunisasi 9.000.000 anak sudah hampir ratusan miliar yang disubsidi oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan bantuan operasional oleh pemerintah kabupaten kota. Di Tahun ini 98 Miliar sudah dikeluarkan untuk Difteri. Itu cuma untuk imunisasi saja loh, belum yang lain seperti taman terbuka, gizi, stunting, pendidikan. Jadi investasi Jawa Timur untuk anak itu tinggi sekali," ujar Arie.

Dari sisi ekonomi biasanya investasi itu besar dari privat sektor atau pihak swasta, sehingga Unicef bersama-sama pihak swasta untuk saling merasa memiliki tanggung jawab terhadap anak di Indonesia. Sehingga investasi anak akan terus semakin besar.

"Bayangkan saja kalau dalam satu perusahaan memiliki seribu karyawan dan ibaratkan saja dari seluruh karyawan itu didapati bahwa jumlah anak anak dari para karyawan itu mencapai seribu juga. Jika kita memberikan pemahaman ke perusahaan-perusahaan itu bahwa investasi anak sangat diperlukan maka kita bisa menyejahterakan dan menyelamatkan  masa depan seribu anak tersebut," tambahnya.

Arie juga menambahkan bahwa nilai investasi anak di Jatim sangat tinggi terlihat dari imunisasi Campak Rubela pada 2017, penolakannya sedikit, keberhasilan 100 persen, dan sedikit drama. Kesadaran pentingnya investasi anak sudah terbangun dengan bukti lain yakni imunisasi difteri di tahun 2018.

Pada 2018, imunisasi difteri diadakan selama 3 kali berturut-turut dalam satu tahun dengan target yang sama yakni 11.000.000 anak di di Jatim. Menurut Arie, dua fase pertama difteri berlangsung sukses, keberhasilan pada fase pertama sebesar 95 persen dan pada fase ke dua 98 persen, untuk fase ke tiga sendiri akan dilakukan pada November - Desember ini.

Unicef bersama pemerintah pusat dan provinsi memastikan semua hak dasar anak termasuk hak sehat harus dipenuhi oleh Pemerintah pusat, provinsi, daerah, orang tua dan keluarga. Arie juga menegaskan bahwa visi misi Unicef akan terus berupaya untuk membuat pemenuhan hak dasar anak menjadi semacam suatu norma yang secara otomatis dilakukan oleh masyarakat khususnya di Jawa Timur karena ia merasa Jatim merupakan investor tertinggi hak dasar anak di Indonesia.

"Saya melihat bahwa Jatim sebagai investor tertinggi dari contoh kota layak anak 80 persen kota di Jatim itu sudah termasuk kota layak anak. Jika dibandingkan DKI Jakarta yang memiliki APBD lebih tinggi dan jumlah penduduk lebih rendah ternyata Jatim masih lebih banyak berinvestasi terhadap hak dasar anak," ungkap Arie.

"Secara respon, Jatim juga sangat cepat dibanding daerah lainnya. Oktober 2017 proyek difteri ini dijabarkan dan disetujui oleh Gubernur, pada Januari 2018 anggaran APBD turun sebanyak 49 M dan ditambah 49 M lagi dari 38 kabupaten kota di Jatim. Hal ini membuktikan bahwa anak menjadi prioritas di Jatim saat ini," ungkap Arie. [adg/suf]

Tag : anak kesehatan

Komentar

?>