Kamis, 13 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Politikus Saling Serang Lewat Puisi, Ini Komentar Prof Kacung

Kamis, 15 Nopember 2018 21:18:57 WIB
Reporter : Dyah Ayu Setyorini
Politikus Saling Serang Lewat Puisi, Ini Komentar Prof Kacung

Surabaya (beritajatim.com)--Menjelang tahun politik 2019, ragam narasi politik dari setiap politikus, termasuk masyarakat, begitu banyak tersebar di media sosial. Bukan hanya itu, dalam beberapa program acara di televisi, diskusi terbuka bertema dua arah dari setiap perwakilan partai politik kerap menghiasi layar televisi nasional. Bahkan tak sedikit terjadinya gesekan antarpendukung yang saling berdebat di media sosial.

Bahkan, isu politik yang paling segar saat ini adalah perdebatan tentang istilah yang dimunculkan Presiden Jokowi melihat geliat politik Indonesia terkini. Presiden menyebut istilah sontoloyo dan genderuwo. Lebih tepatnya untuk menyebut oknum politikus yang menyebarkan isu ketakutan dan menebarkan pesimisme terhadap masyarakat.

Merespons hal itu, Universitas Airlangga melalui Pusat Informasi dan Humas mengadakan Gelar Inovasi Guru Besar di Aula Amerta, Lantai 4, Kantor Manajemen UNAIR, Kamis (15/11/2018).

Diskusi turut mengundang kalangan partai tersebut mengangkat tema ”Masa Depan Politik Indonesia”. Prof. Drs. Kacung Marijan, M.A., Ph.D, dihadirkan sebagai pembicara dalam Gelar Inovasi Guru Besar Bulan November 2018 dengan moderator Aribowo, MS.

Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) Dr. Suko Widodo dalam sambutannya mengakui bahwa terkini arus informasi terkait dengan isu politik begitu marak terjadi di media sosial. Belum termasuk pengangkatan isu-isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) yang juga muncul dalam berbagai narasi-narasi tersebut.

Karena itu, kalangan akademisi menempatkan diskusi terkait hal itu jadi sangat penting dilakukan. Khususnya sebagai upaya menentukan formula baru yang dapat dijadikan rekomendasi bagi pembuat kebijakan. Yakni, secara bersama-sama turut memajukan demokrasi di Indonesia.

Tidak sedikit anggapan yang muncul bahwa narasi politik menjelang pilihan legislatife (pileg) dan pilihan presiden (pilpres) 2019 berlebihan. Namun, melihat konstelasi politik yang terjadi saat ini, Prof Kacung Marijan menggangap hal itu dalam batas wajar.

”Saya kira ini (yang tejadi, Red) masih dalam batas wajar, ya namanya politik,” ungkapnya.

Lalu, soal isu tentang penggunaan istilah sontoloyo dan genderuwo oleh Presiden Jokowi, Prof Kacung menilai tak perlu memperdebatkan hal tersebut secara berlebihan. Aktor politik yang saling memperdebatkan mesti mampu mengambil hal lebih substantif.

”Toh, itu juga konteks guyonan,” katanya saat dimintai tanggapan terkait istilah yang disampaikan Presiden Jokowi.

Justru, Prof Kacung mempertanyakan fenomena politikus yang saling berbalas puisi. Menurut dia, hal tersebut alangkah baik tidak diterus-teruskan. Jauh lebih baik membahas hal lebih subtantif, terutama dalam upaya membangun demokrasi Indonesia lebih baik.[air]

Tag : unair

Komentar

?>