Senin, 19 Nopember 2018

Jauh dari Fasilitas Kesehatan

4 Hari di Pulau Moa, RST KA Tangani 470 Pasien

Jum'at, 09 Nopember 2018 19:25:57 WIB
Reporter : Dyah Ayu Setyorini
4 Hari di Pulau Moa, RST KA Tangani 470 Pasien

Surabaya (beritajatim.com) - RST KA (Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga) milik IKA UA (Ikatan Alumni Universitas Airlangga) saat ini tengah berada di Pulau Moa, salah satu pulau terluar di Provinsi Maluku. Sejak kedatangannya di pulau Moa seminggu lalu, tim dokter RST KA pun langsung diserbu oleh masyarakat yang ingin berobat.

Kepada beritajatim.com Dr. Henry Wibowo selaku Sekretaris RST KA mengatakan bahwa sebelum kapal berhenti di Pulau Moa, kapal berkunjung terlebih dahulu ke beberapa pulau di sekitar Moa, yakni Pulau Masela, Babar, Sermata, Luang Timur dan Barat serta Pulau Lakor. Dalam 4 hari pertama kunjungan ke pulau-pulau tersebut, RST KA telah menerima sebanyak 400 pasien rawat jalan dan 70 pasien operasi atau bedah.

"Jadi mulai hari Jumat lalu (minggu lalu) Kapal sebenarnya sudah sampai Pulau Moa, dan kru baru datang hari Sabtunya. Tapi dari Pulau Moa mereka langsung balik ke Pulau Sermata, Babar dan Masela. Dari pulau-pulau itu saja RST KA hanya dalam waktu 4 hari sudah mendapatkan 400 pasien rawat jalan dan 70 pasien bedah. Jadi stok obat semakin menipis," ujar Dr. Henry.

Setelah dari 3 pulau tersebut, RST KA menuju Pulau Luang Barat dan Timur, Pulau Lakor, dan Pulau Moa dengan teknis Kapal tetap berada di Pulau Moa dan ada beberapa tim dokter yang menuju Pulau Luang Barat dan Timur serta Pulau Lakor dengan menggunakan kapal kecil.

"Untuk mengefisienkan waktu, ada tim yang menuju Luang dan Lakor dengan menggunakan kapal kecil. Sedangkan Kapal tetap berada di Moa. Nanti kalau ada butuh dirawat intensif akan dibawa ke Moa dengan kapal kecil itu," ungkapnya.

Tidak adanya Fasilitas Kesehatan yang melayani bedah di Pulau Moa dan sekitarnya membuat masyarakat setempat, menurut Dr. Henry, benar-benar ingin memanfaatkan fasilitas medis RST KA dengan maksimal.

"Di sana tidak ada Fasilitas Kesehatan lanjutan, yang ada hanya puskesmas dan klinik kecil. Ada Rumah Sakit di Moa tapi tidak ada dokter bedah hanya ada dokter kandungan saja. Jadi banyak masyarakat yang sudah sakit menahun langsung menyerbu RSTKA untuk ditangani bahkan dioperasi. Saya tidak dapat memberikan keterangan rinci terkait operasi apa saja yang 70 itu, karena datanya juga belum sampai ke saya karena signal disana buruk sekali, yang pasti yang banyak adalah hernia, lipoma," ungkap dokter spesialis Andrologi ini.

Terkait dengan obat yang semakin menipis, RST KA telah melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah dan Rumah Sakit Daerah di Ambon. Sehingga obat-obatan yang susah dikirim dari Jawa bisa langsung diambil di RSUD.

Sebelumnya Dr. Henry mengatakan bahwa di Pulau Moa nantinya akan ada operasi katarak dan bibir sumbing. Tetapi karena keterbatasan alat dan obat-obatan, rencana tersebut ditunda.

"Untuk penanganan katarak dan bibir sumbing belum bisa kami lakukan, karena kami sudah kewalahan saat di pulau-pulau awal. Obat-obatan sudah menipis. Terlebih lagi akses di Moa ternyata sangat sulit, tidak memungkinkan untuk membawa alat alat besar yang diperlukan untuk operasi mata. Kan kalau operasi mata, kita harus mensterilkan ruang. Jadi ruangan itu dibungkus dengan plastik biar tidak terkena debu dan sebagainya. Jadi kami fokuskan untuk penanganan yang bisa dilakukan. Saat ini kami data dulu, sudah punya alamat nya jadi di agenda lain waktu kami bisa langsung menghubungi pasiennya," tambahnya. [adg/but]

Tag : unair

Komentar

?>