Rabu, 21 Nopember 2018

FPHI: Nasib GTT, Gaji Rendah, Dicerai Istri...

Selasa, 30 Oktober 2018 11:53:00 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
FPHI: Nasib GTT, Gaji Rendah, Dicerai Istri...

Jember (beritajatim.com) - Sekretaris Front Pembela Honorer Indonesia Kabupaten Jember Ilham Wahyudi mempertanyakan kebijakan insentif kesejahteraan dan mutasi guru sekolah yang diterapkan pemerintah daerah.

Ilham mengatakan, tidak semua guru honorer mendaoat surat penugasan kendati sudah bekerja bertahun-tahun. Surat penugasan dikeluarkan secara periodik dalam satu tahun. "Saya sendiri tidak diberi surat penugasan keempat," katanya, dalam rapat dengar pendapat dengan DPRD Jember, di gedung parlemen, Senin (29/10'2018).

Ilham tidak tahu apa alasan Pemkab Jember tidak menerbitkan surat penugasan guru honorer. Padahal, sebelumnya ia sudah mendapat tiga kali surat penugasan sebelumnya. Dari sisi prestasi dan ijazah, ia juga merasa memenuhi kualifikasi. "Saya guru satu-satunya di SMP Balung dan SMP Negeri 2 yang memiliki ijazah S1 Fisika. Saya juga pernah diutus Pemkab Jember untuk bedah ujian nasional di Jakarta," katanya.

Ilham mengatakan, guru honorer tidak keberatan ditugaskan di sekolah mana pun di Jember. "Tapi beri keadilan. Beri surat penugasan. Anggarkan gajinya. Tidak usah banyak-banyak. Kalau bisa sesuai upah minimum kabupaten (Rp 1,9 juta, red), dan terbayar setiap bulan," katanya. 

Saat ini, nasib GTT mengenaskan. Menurut Ilham, realisasi honor yang bersumber dari Program Pendidikan Gratis APBD Jember masih harus menunggu berbulan-bulan. "Ada teman saya yang dicerai istrinya karena tidak mampu membiayai. Kalau saya bohong, tangkap saya. Dia menangis ke saya, kaki saya dipegang. Istrinya meninggalkannya. Kata mertuanya: itu suamimu pakai sepatu, ke barat, ke timur, berapa gajinya? Setelah gaji turun, yang didapat guru honorer tidak sama, ada yang Rp 800 ribu, Rp 900 ribu," katanya. Namun baru-baru ini, para guru honorer sudah diminta menyetor rekening.

"Teman-teman menangis di bawah. Mau dibawa ke mana ini?" kata Ilham. Apalagi penataan dan mutasi tak selalu tepat sasaran. Ada guru dengan kualifikasi tertentu ditugaskan mengajar mata pelajaran yang berbeda. [wir/but]

Komentar

?>