Senin, 10 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

5 Mahasiswa Unair Jadi Tim Forensik di Palu

Jum'at, 12 Oktober 2018 19:05:34 WIB
Reporter : Dyah Ayu Setyorini
5 Mahasiswa Unair Jadi Tim Forensik di Palu

Surabaya (beritajatim.com) - Sebanyak lima mahasiswa Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga ikut ambil bagian dalam proses identifikasi forensik korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Mereka berasal dari mahasiswa magister Ilmu Forensik yang tergerak untuk membantu korban bencana di Palu dan Donggala.

Salah satu dari lima mahasiswa ilmu forensik yang berada di sana adalah Pudji Hardjanto. Dari Palu, Pudji mengatakan bahwa Lima mahasiswa ilmu forensik Unair bergabung dengan tim Disaster Victims Identification (DVI) Mabes Polri untuk melakukan fungsi identifikasi jenazah korban gempa dan tsunami Palu-Donggala. Ada lebih dari 800 jenazah yang telah diidentifikasi. Dalam sehari, sekitar 100 jenazah.

Keterangan yang didapat dari Pudji adalah situasi korban pada hari-hari awal setelah bencana terjadi, saat itu pembusukan jenazah masih tampak wajar. Hari ketiga dan seterusnya semakin rusak. Tim DVI hanya mengandalkan sidik jari saja, dan properti yang masih melekat di tubuh jenazah.

Namun, kebanyakan pakaian sudah terlepas dan hilang dari jenazah. Banyak jenazah telanjang yang ditemukan. Salah satu jenazah yang berhasil diidentifikasi adalah warga asing dari korea yang diidentifikasi melalui sidik jari. Identifiaksi forensik dilakukan di RS. Bhayangkara Palu.

Karena banyaknya jenazah, tidak semua bisa teridentifikasi dengan baik. Selain mahasiswa forensik Unair, tim lain yang bekerja di bawah kepolisian antara lain mahasiswa forensik dari dari Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Diponegoro, dan beberapa universitas lain yang memilikui studi forensik.

Saat ini, identifikasi forensik sudah ditutup karena memang jenazah sulit untuk dikenali. Satu-satunya adalah melalui DNA, namun butuh waktu dan sampel. Selanjutnya, tim DVI melakukan identifikasi jika ada konflik yang menyangkut hukum. Seperti yang pernah terjadi, rebutan jenazah dari dua keluarga karena kondisi jenazah yang mirip.

Kini, mahasiswa forensik Unair bersama tim DVI menunggu identifikasi jika memang ada konflik. Sambil menunggu, mereka melaksanakan fungsi sosial dengan mendatangi pengungsi-pengungsi terkait kebutuhan yang mereka butuhkan. Serta turut menyalurkan bantuan kepada para pengungsi, termasuk bantuan yang datang dari Unair dalam bentuk tenda dan bahan makanan.

"Harapannya, apa yang kami lakukan membantu terkait fungsi forensik. Lebih lanjut kami bisa membantu masyarakat di sini, baik berupa materi maupun moril. Ketika kami bertemu pengungsi, kami komunikasi ke mereka, memberikan harapan baik, memberikan semangat kepada mereka bahwa kami semua berbagai elemen membantu. Selain itu, ke depan nama baik Unair bisa dibanggakan oleh almamater maupun masyarakat," ujarnya kepada beritajatim.com, Jumat (12/10/2018).

Kondisi terkini di Palu-Donggala, kegiatan ekonomi sudah mulai baik, penjual makanan mulai ada, toko mulai buka, listrik lancar, BBM juga lancar. Bantuan tidak seperti kemarin-kemarin yang harus mencari ke sana kemari. Sekarang sudah banyak bantuan datang.

Sementara itu, Wakil Direktur I Sekolah Pascasarjana UNAIR Prof., Dr., Anwar Ma'ruf, drh., M.Kes membenarkan bahwa ada lima mahasiswanya yang telah berangkat membantu proses identifikasi jenazah di Palu-Donggala. Kelima mahasiswa tersebut berangkat atas seizin pimpinan, pun dalam hal ini ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Unair.

"Mereka sudah kordinasi dengan pimpinan. Dan saya kordinasi dengan ketua LPM UNAIR. Ada lagi yang mau bergabung dari UNAIR, yaitu dari psikologi terutama terkait trauma healing. Harapannya, semoga mahasiswa forensik ikut membantu saudara-saudara kita yang ada di Palu-Donggala, karena tenaga dari forensik sangat diperlukan dalam bencana seperti ini. Di sana mahasiswa bisa membantu sambil belajar," ujar Anwar.

Sebelumnya, atas bencana yang terjadi di Lombok, juga ada mahasiswa forensik UNAIR yang berangkat namun secara individual. Selain itu, Ketua Prodi Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana UNAIR Christrijogo Sumartono, dr., Sp.An.KAR, juga ada di sana. Berangkat bersama Kapal Ksatria Airlangga. Sehingga saat ada bencana seperti ini, Sekolah Pascasarjana UNAIR aktif memberikan bantuan, baik dari segi manajemen bencana maupun forensik. [adg/but]

Tag : unair

Komentar

?>