Kamis, 13 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Si Galih, Sistem Deteksi Dini Katarak dari Kemenkes

Jum'at, 12 Oktober 2018 00:32:40 WIB
Reporter : Dyah Ayu Setyorini
Si Galih, Sistem Deteksi Dini Katarak dari Kemenkes

Surabaya (beritajatim.com) - Penyakit Katarak masih perhatian yang serius. Hal itu terlihat dari program yang dicanangkan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F Moeloek.

Progam ini berbentuk sistem yang diberi nama 'Sigalih' atau Sistem Informasi Penanggulangan Gangguan Penglihatan Nasional. "Diharapkan sistem ini akan terhubung dengan rumah sakit sehingga tindak lanjut terhadap pasien yang telah dirujuk dapat tertangani baik," ungkap Menkes Nila di Puslitbang Humaniora & Manajemen kesehatan jalan Indrapura, Kamis (11/10/2018).

Sistem yang berbasis web atau android ini berfungsi sebagai pelapor dan pencatat hasil skrining gangguan penglihatan masyarakat Indonesia yang melakukan deteksi dini mata, khususnya di Pos Pembinaan Terpadu untuk Penyakit Tidak Menular (Posbindu).

"Saat ini prevalensi katarak di Indonesia mencapai 4,4 persen yang sudah diselesaikan, jadi sekitar 90 ribuan," lanjutnya.

Dengan adanya Sigalih diharapkan memudahkan pendataan gangguan penglihatan. Sigalih juga digunakan pada puskesmas dan rumah sakit.

"Ini sudah disosialisikan pada kader sehingga dapat meningkatkan upaya pencegahan gangguan penglihatan dengan deteksi dini gangguan penglihatan. Seperti mata minus, penglihatan buram, dan katarak. Pencatatan dan pelaporan gangguan penglihatan di puskesmas dan rumah sakit dapat meningkatkan informasi dan koordinasi untuk pelayanan lanjutan pasien," paparnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dr Kohar Hari Santoso mengungkapkan, Jatim merupakan provinsi tertinggi di antara provinsi yang lain. Tetapi Kohar mengklaim dari capaian yang sudah dikerjakan juga yang paling tinggi. "Jadi banyak kegiatan kami yang jalan kemudian penanganannya juga sudah bagus,"urainya.

Menurut dr Kohar, Sigalih turut memberikan data gangguan penglihatan sebagai masukan pengambilan atau penerapan kebijakan. "Saat ini adacpembatasan BPJS untuk operasi katarak. Jadi kami berusaha menggandeng swasta agar setelah dideteksi dini bisa langsung ditangani," urainya.

Spesialis Mata, dr Hendrian D Soebagjo SpM (K) menjelaskan, Jatim menjadi provinsi dengan penderita katarak terbanyak merupakan faktor geografisnya. Sebab,di Jatim banyak daerah pantai sehingga banyak masyarakat yang terpapar ultraviolet.

"Tetapi adanya program dari dinas kesehatan dengan mengadakan kerjasama bakti sosial maupun rutin operasi klinik dan rumah sakit, maka angka itu bisa turun ke depannya," lanjutnya.

Ia menegaskan katarak merupakan kebutaan yang bisa disembuhkan dan hampir 100 persen operasi katarak berhasil dilakukan. [adg/suf]

Tag : katarak

Komentar

?>