Minggu, 18 Nopember 2018

Unair Gelar Simposium Cendekiawan Dunia

Kamis, 16 Agustus 2018 22:24:56 WIB
Reporter : Dyah Ayu Setyorini
Unair Gelar Simposium Cendekiawan Dunia

Surabaya (beritajatim.com) - Universitas Airlangga (Unair) menggelar Simposium Cendekia Kelas Dunia Tahun 2018, Kamis (16/8/2018). Acara ini menjadi ajang memperdalam dan memperluas Research dan iklim akademik di Perguruan Tinggi di Indonesia melalui jaringan cendekiawan diaspora yang berada di negara-negara maju dunia.

Acara tersebut merupakan program dari Kemenristek-Dikti. Ada dua diaspora yang datang ke Unair untuk sharing dan berbagai informasi seputar riset dan pendidikan tinggi. Keduanya adalah Deden Rukmana dan Cortino Sukotjo. Dua peneliti asal Indonesia itu telah berkiprah di level internasional.

Rektor Unair Prof. Moh. Nasih dalam sambutannya mengatakan bahwa Indonesia memiliki ahli dan ekspert yang sekarang banyak berkontribusi di luar negeri, terutama di negara maju. Kemudian, Kemenristek-Dikti memiliki inisiatif agar para diaspora ikut berkontribusi untuk bangsa dan negara. Nah, Unair menjadi salah satu jujugan para diaspora.

"Kami ingin mereka berkontribusi untuk kampus melalui berbagai macam program, seperti join riset; memberi pelatihan untuk dosen dan juga mahasiswa. Hal ini kita harapkan mempersempit gap pendidikan anatara Indonesia dengan perguruan tinggi luar negeri," ujarnya.

Selama ini Unair telah melakukan kerjasama dengan para cendekiawan diaspora untuk Fakultas Kedokteran Gigi (FKG). Deden Rukmana juga sudah menyiapkan kolaborasi riset dengan Prodi Ilmu Sejarah yaitu terkait dengan urban histori.

Kerjasama tersebut dalam bentuk beberapa proposal untuk melakukan riset bersama. Hal itu menurut Deden Rukmana merupakan upaya yang dilakukan untuk merangkul potensi diaspora untuk bersinergi dengan mitra dalam negeri.

"Untuk bisa maju, kita tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan sendiri, harus memanfaatkan network dan menggandeng mitra untuk kerjasama. Salah satunya dengan diaspora," ujar Deden.

Pemerintah ingin mengoneksikan kedua belah pihak, antara diaspora di luar negeri dengan kerbutuhan dosen dan mahasiswa dalam negeri. Fokusnya pada pengembangan kapasitas dosen dan peneliti di Indonesia. Seperti melakukan riset dan publikasi di jurnal internasional yang bereputasi.

Dari data yang dihimpun beritajatim.com, tiga tahun ini jumlah publiksi yang terindeks Scopus semula berada di bawah Thailand, sekarang sudah di atas Thailand.

"Berikutnya, kita kejar Malaysia atau Singapura. Saya amati tiga tahun terakhir terlihat semangat teman-teman Indonesia melakukan publikasi," tambah Deden.

Kerjasama ini bukan hanya untuk dosen, tapi juga mahasiswa S2 maupun S3 yang ingin mengembangkan riset. Sementara itu, Cortino Sukotjo mengatakan diaspora bukan hanya dikirim ke kampus di Jawa, tapi juga luar Jawa.

"Peneliti Indonesia sebetulnya sudah mampu jika disandingkan dengan peneliti luar negeri dari kampus ternama. Hanya saja, kebanyakan dari mereka belum tahu jalannya seperti apa," pungkas Cortino. [adg/suf]

Tag : unair

Komentar

?>