Rabu, 22 Agustus 2018

Besok, Tim Ekspedisi Bengawan Solo Himapala Unesa Tiba di Ujungpangkah

Sabtu, 11 Agustus 2018 10:10:37 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Besok, Tim Ekspedisi Bengawan Solo Himapala Unesa Tiba di Ujungpangkah

Bojonegoro (beritajatim.com) - Tim ekspedisi Sungai Bengawan Solo Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam (Himapala) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) diperkirakan akan tiba di hilir sungai terpanjang di Pulau Jawa pada Minggu (12/8/2018).

Tim yang terdiri dari 10 orang itu berangkat dari Bendungan Serbaguna Wonogiri dengan dilepas oleh pihak Perum Jasa Tirta, 16 Juli 2018. Dan berakhir di wilayah hilir di Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik.

Dalam pengarungan Sungai Bengawan Solo itu, mereka melakukan penelitian muatan air dan analisa ekonomi, sosial dan budaya masyarakat sekitar sungai. Hasil temuan dari pengarungan Bengawan Solo nantinya akan menjadi bahan penelitian dan buku.

Menurut Ketua Tim Ekspedisi Sungai Bengawan Solo, M. Syahrul Khoir mengatakan, Sungai Bengawan Solo yang melegenda, akan menjadi bahan bagi tim untuk menyelesaikan buku yang akan berisi muatan pengarungan sungai Bengawan Solo dari Hulu-Hilir.

Hasil tulisan tersebut, lanjut dia, rencananya akan disebarkan sebagai bahan bagi pegiat lingkungan, relawan, akademisi dan masyarakat pada umumnya sehingga tim memiliki pesan tersendiri kepada seluruh khalayak umum.

"Bahwa saat ini Bengawan Solo mengundang perhatian khusus ketika sudah banyak kerusakan lingkungan yang terjadi," ujarnya, Sabtu (11/8/2018).

Muatan pengamatan air dan analisa ekososbud tim ekspedisi Bengawan Solo Hulu-Hilir mencatat, adanya pencemaran sungai sepanjang hulu-hilir Bengawan Solo terjadi sejak daerah Sukoharjo, Jawa Tengah hingga daerah Ngawi, Jawa Timur.

Pencemaran sungai didominasi oleh limbah rumah tangga hingga limbah industri rumahan dan pabrik. Limbah industri yang ditemukan adalah limbah industri tekstil dan limbah bahan kimia. Sejak wilayah Sragen hingga Ngawi warna air sungai hitam pekat disertai bau menyengat dan gatal di kulit.

"Apabila menyentuh kulit terasa gatal dan air sungai sudah tidak layak konsumsi, selain itu tim juga kerapkali menemui ikan-ikan di sungai munggut akibat dari pencemaran limbah industri," terangnya.

Memasuki kawasan Bojonegoro, warna air kembali coklat warna normal air sungai sejak pertemuan antara anak sungai Bengawan Solo di daerah Cepu - Padangan. Namun ditemukan adanya tumpahan minyak di aliran sungai yang diperkirakan berasal dari tumpahan oli dari penambang pasir yang mendominasi sejak daerah Margomulyo hingga kawasan Kalitidu.

Daerah Aliran Sungai memberi pengaruh besar terhadap warga sekitar bantaran sungai Bengawan Solo, melalui analisa tim terbukti di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo masih menjadi sumber air induk untuk irigasi persawahan dan masih menjadi sumber air alami untuk warga di sekitaran Margomulyo, Bojonegoro. [lus/kun]

Berita Terkait

    Komentar

    ?>