Rabu, 22 Agustus 2018

Tim Ekspedisi Bengawan Solo Temukan Kerusakan dan Pencemaran Sungai

Jum'at, 10 Agustus 2018 23:42:34 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Tim Ekspedisi Bengawan Solo Temukan Kerusakan dan Pencemaran Sungai

Bojonegoro (beritajatim.com) - Tim ekspedisi Sungai Bengawan Solo Himapala Unesa mengarungi sungai terpanjang di Pulau Jawa dari hulu ke hilir. Banyak temuan yang menjadi catatan tim selama mengarungi sungai selama 20 hari itu.

Dari sepanjang sungai 498KM, total 10 Mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam (Himapala) Universitas Negeri Surabaya itu mengarungi sungai Bengawan Solo dengan menggunakan satu unit perahu karet dan satu unit perahu rakit berbahan pipa.

Titik awal pengarungan dimulai di Bendungan Serbaguna Wonogiri dengan dilepas oleh Perum Jasa Tirta, tim mengawali pengarungan mereka dengan target hingga 25KM per hari dengan estimasi belum ada kendala yang berarti.

Ketua Tim Pelaksana Ekspedisi Bengawan Solo, M. Syahrul Khoir mengatakan, sejak dari hulu hingga wilayah Sukoharjo, tim menemui Daerah Aliran Sungai (DAS) dipenuhi oleh batuan padas. Juga pendangkalan sungai oleh batuan kecil dan tanah yang berjarak kurang dari 1KM di tiap batuan.

Sehingga, lanjut dia, menciptakan riam-riam air yang cukup membuat perahu rakit tidak dapat melaju dengan lancar. Sementara memasuki daerah Surakarta - Karanganyar - Sragen batuan padas semakin banyak dan menciptakan riam-riam air yang lebih besar. Tak jarang tim harus mengangkat perahu dan logistik ke darat untuk menghindari kerusakan pada perahu.

Memasuki Minggu ketiga pengarungan, tim melintasi kawasan Bojonegoro, Jawa Timur yang memiliki penampang sungai yang lebih lebar dan sungai yang cukup dalam. Kendala angin kencang dari arah berlawanan juga cukup menghambat perjalanan.

"Kami mencatat ekosistem sungai dan kebudayaan yang berkembang selama masa pengarungan dari hulu ke hilir. Dari temuan itu akan menjadi sebuah bahan penelitian," ujarnya saat bersinggah di Taman Bengawan Solo.

Muatan Pengamatan Air dan Analisa Ekososbud tim ekspedisi Bengawan Solo Hulu-Hilir mencatat, adanya pencemaran sungai sepanjang hulu-hilir Bengawan Solo terjadi sejak daerah Sukoharjo, Jawa Tengah hingga daerah Ngawi, Jawa Timur. Pencemaran sungai didominasi oleh limbah rumah tangga hingga limbah industri rumahan dan pabrik.

"Limbah industri yang ditemukan adalah limbah industri tekstil dan limbah bahan kimia. Sejak wilayah Sragen hingga Ngawi warna air sungai hitam pekat disertai bau menyengat. Apabila menyentuh kulit terasa gatal dan air sungai sudah tidak layak konsumsi. Selain itu tim juga kerapkali menemui ikan-ikan di sungai munggut akibat pencemaran limbah industri," terangnya.

Memasuki kawasan Bojonegoro, warna air kembali coklat warna normal air sungai sejak pertemuan antara anak sungai Bengawan Solo di daerah Cepu - Padangan. Namun ditemukan adanya tumpahan minyak di aliran sungai yang diperkirakan berasal dari tumpahan oli dari penambang pasir yang mendominasi sejak daerah Margomulyo hingga kawasan Kalitidu.

Daerah Aliran Sungai memberi pengaruh besar terhadap warga sekitar bantaran sungai Bengawan Solo, melalui analisa tim terbukti di sepanjang aliran sungai Bengawan Solo masih menjadi sumber air induk untuk irigasi persawahan dan masih menjadi sumber air alami untuk warga di sekitaran Margomulyo, Bojonegoro.

Tambang pasir masih menjadi pencaharian utama bagi warga di sekitaran Sragen dan Bojonegoro namun perbedaan jelas terlihat antara keduanya dimana penambang di daerah Sragen masih menggunakan alat manual untuk menambang pasir sedangkan di kawasan Bojonegoro sudah menggunakan mesin sedot untuk menambang pasir dari dasar sungai.

"Disamping mata pencaharian sebagai pencari ikan dan penambang pasir, warga bantaran sungai juga memiliki struktur budaya masing-masing di setiap daerah serta masih ada sumber potensi pariwisata di DAS Bengawan Solo," ungkapnya. [lus/suf]

Ciri Pencemaran Sumber Terdeteksi di Kota/Kabupaten

1. Sukoharjo, Surakarta:
Pencemaran bahan pewarna kain, limbah rumah tangga, bau fermentasi, warna air keruh. Limbah industri tekstil kain pantai, industri ciu, limbah warga bantaran sungai.
2. Karanganyar, Sragen:
Warna air hitam pekat, bau menyengat, terasa gatal di kulit, ikan-ikan munggut. Limbah industri sepanjang daerah Palur, Karangnyar hingga kawasan Sragen.
3. Ngawi:
Warna air hitam pekat, bau menyengat, terasa gatal di kulit, ikan-ikan munggut. Aliran limbah dari kawasan Jawa Tengah
4. Bojonegoro:
Terlihat tumpahan minyak, air didominasi warna coklat kehijauan, berwarna keruh. Tumpahan oli pelumas mesin penambang pasir.

Berita Terkait

    Komentar

    ?>