Rabu, 17 Oktober 2018

Komunitas Timur Lawu Gelar Lokakarya Visualisasi Sejarah

Senin, 30 Juli 2018 01:39:56 WIB
Reporter : Dyah Ayu Setyorini
Komunitas Timur Lawu Gelar Lokakarya Visualisasi Sejarah

Surabaya (beritajatim.com) - Menjelang bulan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, Komunitas Timur Lawu bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Lokakarya Visualisasi Sejarah di Museum 10 Nopember Surabaya. Itu merupakan kegiatan pembuka rangkaian panjang “De Grote Postweg” yang akan berlangsung sampai akhir 2018.

Komunitas Timur Lawu secara khusus mengundang empat orang pemateri profesional dalam bidang sejarah,  fotografi, dan film di Surabaya. Yakni, Ikhsan Rosyid (Dosen Ilmu Sejarah Univ. Airlangga, peneliti sejarah kawasan Pantai Utara Jawa Timur), Rojil Nugroho (Dosen Pend. Ilmu Sejarah Univ. Negeri Surabaya, esais sejarah Sepak Bola), Ayos Purwoaji (Penulis dan Kuragor Fotografi), dan Yogi Ishabib (Kurator film Sinema Intensif).

Kegiatan ini dibuka oleh Syukur Asih Suprojo, selaku Kasubdit Program Evaluasi dan Dokumentasi di Direktorat Sejarah Kemendikbud. Syukur Asih brharap kegiatan tersebut menjadi jalan keterlibatan publik dalam bidang kebudayaan. Di Kementerian ada 39 satuan kerja yang tentu saja berhubungan dengan sejarah.

"Masyarakat perlu mengenal sejarah sebagai produk pengetahuan dan hal tersebut membutuhkan tindak lanjut diseminasi produk kepada publik. Kami berusaha membawa kegiatan belajar sejarah menjadi ekosistem bukan sekadar euforia.Tujuan dasarnya di kementerian adalah sebagai upaya menghadirkan negara dalam gerak kebudayaan," ujarnya.

Ada 107 kelompok masyarakat yang difasilitasi oleh Kemendikbud untuk bidang kesejarahan yang dibagi kepada penulis sejarah perorangan, guru bidang sejarah, komunitas kesejarahan, dan tim pembuatan film sejarah. Komunitas Timur Lawu merupakan bagian dari 107 kelompok tersebut. Kemendikbud merancangkan keberlanjutan pengawalan bagi komunitas-komunitas tersebut untuk terus aktif dalam kegiatan kesejarahan.

Lokakarya Visualisasi Sejarah ini ditujukan kepada masyarakat umum yang telah maupun belum melek sejarah. Peserta terbatas untuk 35 pendaftar pertama yang telah memenuhi persyaratan pendaftaran sejak kurang lebih satu bulan yang lalu.

Akhmad Ryan Pratama selaku Direktur Eksekutif Komunitas Timur Lawu menuturkan, pembatasan tersebut dilakukan untuk menjaga kondusifitas kegiatan yang berlangsung sampai sore hari. Ryan yang aktif dalam penelitian sejarah lingkungan di Kalimantan tersebut menyatakan bahwa bidang keilmuan sejarah identik dengan stigma membosankan dan usang.

Konsumennya sangat terbatas dari kalangan akademisi sejarah, aktivis, pecinta sejarah, dan pelaku sejarah sendiri. Hanya sejumlah kecil orang-orang di luar itu yang tertarik dalam bidang ini.

"Situasi yang bisa dibilang menyedihkan ini, berhimpit dengan fakta perkembangan literasi dan teknologi. Bukan sebuah kenyataan yang sulit dibuktikan lagi bahwa orang-orang muda kita lebih mudah terhisap oleh bentukan produk visual ketimbang tulisan," tutur Ryan. 

"Sementara selama ini sejarah cenderung disampaikan dalam narasi tulis dalam buku, ensiklopedi, ataupun museum. Karena itu kami ingin mengenalkan secara serius wujud baru historiografi yang bisa dinikmati oleh kalangan muda tanpa barus menepikan sejarah sebagai ilmu dan ruang kontemplatif," sambungnya.

Selanjutnya, Lokakarya akan ditindaklanjuti dengan rangkaian lomba serta pameran video dan foto yang dilaksanakan pada Agustus-September. Komunitas Timur Lawu berkomitmen untuk membawa sejarah menjadi lebih ramah kepada masyarakat awam.  Mengutip penjelasan Ikhsan Rosyid dalam sesi materinya, "Sejarah yang ramah gadget, ramah sosial media". [adg/suf]

Tag : sejarah

Komentar

?>