Minggu, 24 Juni 2018

PII Kecewa Matinya Pusat Sains dan IPTEK di Sejumlah Daerah

Rabu, 13 Juni 2018 21:30:54 WIB
Reporter : Teddy Ardianto Hendrawan
PII Kecewa Matinya Pusat Sains dan IPTEK di Sejumlah Daerah

Jakarta - Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menyesalkan tidak aktifnya sebagian besar pusat sains dan IPTEK di sejumlah daerah di Indonesia. Bahkan, beberapa dari pusat sains itu ditutup oleh Pemerintah Daerah setempat.

Padahal, pusat sains dan IPTEK seharusnya bisa menjadi sarana bagi masyarakat luas untuk lebih mengenal sains dan IPTEK, sekaligus mendorong generasi muda untuk lebih mencintai sains dan melakukan berbagai eksperimen ilmiah.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Umum PII Heru Dewanto, menanggapi laporan bahwa 15 dari 24 pusat sains dan IPTEK di beberapa daerah yang tidak aktif atau ditutup karena terkendala anggaran dana, kurangnya tenaga kerja, serta perubahan kebijakan dari Pemda setempat.

“Kami menyesalkan sikap Pemerintah Daerah yang tidak memberikan perhatian pada perkembangan sains dan IPTEK bagi masyarakatnya. Penonaktifan atau bahkan penutupan pusat sains dan IPTEK ini secara tidak langsung akan menghambat inovasi dalam negeri. Ketika inovasi itu berhenti, maka bangsa ini selamanya hanya akan menjadi bangsa pengikut atau follower dan sulit menjadi pemimpin dunia,” tegas Heru Dewanto dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (13/6/2018).

Di dalam buku yang ditulisnya berjudul INOVASI, Heru menjelaskan bahwa penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Kemajuan Teknologi merupakan tolok ukur kemajuan dan peradaban bangsa. Kemajuan peradaban manusia hingga hari ini utamanya dihasilkan dari inovasi dan temuan teknologi.

Karena itu, hanya negara-negara yang menguasai IPTEK dan karenanya mampu berinovasi yang mampu menjadi pemimpin di dunia.

Keberadaan pusat sains dan IPTEK di Indonesia juga dinilai bisa membuat masyarakat, terutama generasi muda Indonesia, untuk dapat megenal sains lebih dekat dan dengan cara yang menarik.

Pengenalan terhadap sains, eksperimen dan teknologi juga bisa menarik lebih banyak calon mahasiswa untuk mendalami ilmu teknik di perguruan tinggi.

Data dari PII menyebutkan, saat ini jumlah mahasiswa yang belajar teknik hanya 14% dari jumlah seluruh mahasiswa di Indonesia. Tapi, hanya 50% lulusannya di sektor keinsinyuran.

Data dari Asosiasi Science Center Indonesia menyebutkan, ada beberapa pusat sains yang tidak aktif atau tutup sementara dengan tidak menerima kunjungan dari para siswa sekolah. Ada pula pusat sains yang “mati suri” dengan tidak mengembangkan alat peraga yang ada di dalamnya karena minimnya anggaran dana.

Beberapa pusat sains tersebut antara lain Pusat Sains Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Science Center Sawahlunto dan Graha Teknologi Palembang.

Beberapa pusat sains tidak aktif, seperti di Sulawesi Tenggara dan Cilacap, karena adanya pengalihan pengelolaan akibat restrukturisasi kelembagaan di Pemerintah Daerah.

Pemerintah pusat dan daerah seharusnya mengalokasikan dana khusus untuk pengembangan pusat sains dan IPTEK di daerahnya sebagai upaya meningkatkan inovasi dan memperkenalkan IPTEK kepada masyarakat di daerah.

Selain itu, dibutuhkan pula inovasi dan kreativitas dari dinas atau lembaga pemerintah yang menaungi pusat sains ini untuk menciptakan beragam program dan menambah alat peraga sains yang menarik keingintahuan masyarakat.

Idealnya, pusat sains pun perlu bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi agar rutin menggelar kunjungan dan kegiatan yang mengundang aliran pengunjung. “Program dan alat peraga itu pun seharusnya memiliki relevansi bagi kebutuhan masyarakat di daerah tersebut,” Heru menambahkan.

Membangun sebuah pusat sains atau Tekno Park memang menelan biaya hingga ratusan miliar rupiah.

Tidak murah, namun investasi ini bersifat jangka panjang. Karena itulah, Presiden Joko Widodo dalam Nawa Cita ke-6 menyebutkan untuk membangun sejumlah Science dan Tekno Park di berbagai daerah.

Pemerintah pusat pun telah memiliki program untuk membangun 100 taman sains dalam Rancana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014-2019.

“Agar pusat sains dan IPTEK ini bisa memiliki dampak yang besar bagi masyarakat, perlu sebuah upaya kerjasama antara pemerintah, perguruan tinggi dan pihak swasta untuk mengelola pusat sains ini. Perguruan Tinggi bisa dilibatkan, misalnya dengan memamerkan hasil riset dan karya-karya ilmiah mereka di pusat sains ini. Adapun pihak swasta dapat berperan dengan menampilkan penggunaan teknologi dan inovasi di sektor industri, dan juga mendukung pendanaan”, tukas Heru.[ted]

Tag : iptek

Berita Terkait

    Komentar

    ?>