Jum'at, 23 Februari 2018

Duh! Pemuda Gangguan Jiwa di Kediri Ditolak Puskesmas

Selasa, 13 Februari 2018 01:52:57 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Duh! Pemuda Gangguan Jiwa di Kediri Ditolak Puskesmas

Kediri (beritajatim.com) - Dianggap sebagai pecandu narkoba, meskipun tanpa diagnosa yang koprehensif, seorang pemuda di Kabupaten Kediri ditolak oleh sebuah pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Nasib malang ini dialami Basuki Ramat, warga Dusun Mergosono RT 2 / RW 1, Desa Banyakan, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri.

Pemuda kelahiran 1993 itu sempat mengalami 'pingpong'. Dia sempat dikirimkan ke tempat rehabilitasi, tetapi akhirnya dikembalikan ke Puskesmas Tiron, di Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri karena hasil tes urinnya dinyatakan negatif narkoba.

Kepala Desa Banyakan, Agung Sutrisno mengaku peristiwa itu terjadi, pada Kamis (8/2/2018). Awalnya, dia mendapat laporan dari warganya apabila Basuki Rahmat mengamuk. Anak yatim piyatu kemudian mengajak Tiga Pilar Keamanan di desa untuk membawanya ke Puskesmas Tiron.

Akan tetapi, Basuki Rahmat tidak mendapatkan pelayanan terbaik. Puskesmas menolak untuk menangani pasien dengan alasan sebagai pencandu narkoba. Ditengah kebingungan, akhirnya pasien dibawa ke Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Eklesia Kediri. Klinik rehabilitasi ini hanya diperuntukkan bagi para pencandu Napza.

"Salah satu anak kita, masyarakat kami sedang mengamuk. Kita istilahnya langsung bersigap. Kita bawa ke puskesmas, ternyata puskesmas mengatakan karena narkoba. Akhirnya mereka tidak berani menangani. Saya sendiri bingung, akhirnya bersama Camat, Danramil dan Polsek memutuskan bagaimana langkah terbaiknya. Akhirnya kita kirim ke IPWL," aku Agung Sutrisno disela penyerahan kembali pasien ke Puskesmas Tiron, Senin (12/2/2018).

Setelah berada di Klinik IPWL Eklesia, pasien langsung diberi suntikan penenang. Tetapi, dari hasil tes urine, Basuki Rahmat dinyatakan negatif narkoba. Dia didiagnosa sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Itu sebabnya, pihak klinik mengembalikan pasien ke Puskesmas Tiron, sebagai fasilitas kesehatan primer di desa.

"Kemarin sempat ditolak oleh Puskesmas Tiron dengan alasan sebagai pecandu narkoba. Padahal, tanpa dilakukan assasment kalau dalam istilah di klinik kami. Setelah dari Puskesmas ditolak, kemudian dia dibawa ke Badan Narkotika Nasional (BNN) dan dikirim ke klinik kami. Kita tidak bisa menolak adanya pengiriman pasien. Kita tampung, lalu kita assament dan kita lakukan tes urine, ternyata hasilnya negatif. Oleh karena itu, hari ini kita kembalikan ke Puskesmas," jelas Jesica Yeni Susanti, selaku Ketua IPWL Eklesia Kediri.

Jesica menyayangkan tindakan Puskesmas Tiron yang tidak melakukan penanganan terhadap pasien ODGJ. Puskesmas mudah menyimpulkan bahwa pasien sebagai pecandu narkoba tanpa pemeriksaan yang teliti. Padahal undang-undang jelas mengatur tentang fasilitas pelayanan kesehatan terhadap ODGJ.

"Sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa. Bahwa, fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak memberikan pelayanan kesehatan dan obat psikofirmaka terhadap orang dengan gangguan jiwa dapat dikenai sanksi. Sanksi berupa adminitrasi berupa teguran lisan, teguran tertulis, pembekuan kegiatan, pencabutan izin bahwa hingga penutupan," kecam Jesica.

Setelah sempat terjadi perdebatan, akhirnya proses penyerahan kembali Basuki Rahmat dilaksanakan. IPWL Eklesia Kediri menyerahkan pasien ke Puskesmas Tiron untuk bisa ditangani lebih lanjut. Penyerahan ini disaksikan oleh Kepala Desa Banyakan, Bhabinkamtibmas Banyakan dan Babinsa setempat.

Terpisah, Kepala UPTD Puskesmas Tiron, Sri Muntamah membantah bermaksud menolak pasien ODGJ Basuki Rahmat. Dia tidak dapat menangani Basuki Rahmat karena memiliki riwayat sebagai pecandu narkoba. Bahkan, menurut keterangan keluarganya, sebelum dia mengamuk, sempat mengkonsumsi obat sakit kepala E-10 dalam jumlah banyak.

"Dari keluarga bilang bahwa pasien sering konsumsi obat terlarang, karena ketergantungan. Kemudian dari hasil pemeriksaan petugas kami, diduga pasien memang kecanduan obat terlarang, maka larinya ke rehabilitasi. Kemudian sudah tenang, tetapi malamnya ngamuk lagi. Dari puskesmas menganjurkan ke BNN agar dilakukan tes urine," jawab Sri Muntamah.
 
Paska dikirim ke BNN untuk dilakukan tes urine pada Kamis lalu, imbuh Sri Muntamah, pihaknya menunggu hasil tes. Tetapi, hingga hari Minggu (11/2/2018) kemarin, BNN tidak kunjungi mengirimkan hasil tes kepada Puskesmas Tiron. Menurutnya, apabila Basuki Rahmat memang negatif narkoba dan dinyatakan ODGJ, pihaknya sanggup untuk merujuknya langsung ke rumah sakit jiwa.

"Kami tunggu hasilnya sampai hari jumat, sabtu, hingga minggu. Tetapi tidak ada kabar. Kemudian hari ini, infonya sudah dibawa ke Ngronggo (IPWL Eklesia Kediri). Ternyata hari ini kami kedatangan IPWL dan menyatakan bahwa hasil tes urine Basuki Rahmat negatif, dia dinyatakan sebagai pasien ODGJ, sehingga dibawa kembali ke puskesmas," jelasnya.

Masih kata Sri Muntamah, pihaknya langsung memberikan tindakan terhadap Basuki Rahmat. "Akan kita tangani. Tetapi apabila kami tidak mampu, dan memang harus dirujuk, akan kami rujuk ke faskes yang lebih tinggi. Namun, kami berpesan supaya keluarganya mendukung, karena dalam penanganan pasien ODGJ ini keluarga sangat berperan, kemudian lingkungan sekitar," jelasnya.

Sementara itu, menurut hasil penelusuran IPWL Eklesia Kediri, sedikitnya ada 28 orang warga di wilayah Banyakan yang memiliki gejala menyerupai Basuki Rahmat. Bahkan, berdasarkan temuan, jumlah penderita ini di Kabupaten Kediri paling banyak di wilayah Jawa Timur. [nng/suf]

Komentar

?>