Selasa, 24 April 2018

Ruang Belajar Kurang dan Atap Bocor, Potret Sekolah di Kabupaten Malang

Rabu, 07 Februari 2018 16:42:04 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Ruang Belajar Kurang dan Atap Bocor, Potret Sekolah di Kabupaten Malang

Malang (beritajatim.com) - Kekurangan ruang kelas untuk tempat belajar, masih menjadi problem Sekolah Dasar di Kabupaten Malang. Selain ruang belajar minim, kondisi bangunan pun masih jauh dari kata layak.

Salah satunya, potret SDN Bandungrejo 2 di Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Salah satu Ruangan kelasnya juga bocor yang hal itu, berdampak pada proses belajar mengajar jika hujan melanda kawasan sisi selatan Malang tersebut.

Melihat kondisi itu, Kepala Sekolah SDN Bandungrejo 2, Sutrisno mengatakan, proses belajar mengajar di lembaganya terhambat lantaran hanya menggunakan lima ruangan kelas .

SDN Bandung Rejo mempunyai  128 siswa. Terdiri dari enam rombongan belajar. Sementara hanya ada lima kelas ruangan belajar sehingga kurang ideal untuk sebuah proses mengajar.

“Untuk menyiasati proses belajar, kita bagi dua kelas. Masuk pagi dan masuk siang sekitar pukul 10.00 di ruangan kelas satu dengan jumlah siswa kelas dua ada 23 siswa,” ungkap Sutrisno, Rabu (7/2/2018).

Menurutnya, kondisi mengatur lembaganya juga mengalami persoalan karena kekurangan ruangan seperti ruangan bagi kepala sekolah dan guru, terpaksa dibagi tiga dengan ukuran 6 x 7 meter. Ruangan terpaksa disekat menjadi tiga, satu ruangan untuk kepala sekolah dan guru ,satu ruangan untuk Usaha kesehatan Sekolah yang bercampur dengan dapur. "Yah begini kondisinya, masih jauh dari layak mas," ujar Sutrisno.

Pihaknya berharap pemerintah Kabupaten Malang memperhatikan dengan kondisi kekurangan gedung di SDN Bandung Rejo 2 Bantur, sebagai lembaga pendidikan dasar Negeri.

Selama ini, SDN Bandungrejo 2 untuk kelas 1-4 sudah menggunakan Kurikulum 2013. Sedang kelas 5 dan 6, masih menggunakan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) .

Terpisah, Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Slamet Suyono, menjelaskan, dalam pembangunan sekolah dasar yang rusak lebih memprioritaskan kepada sekolah-sekolah yang kategori rusaknya parah. "Sebagai skala prioritas pembangunan sekolah rusak dengan memperhatikan kategori kerusakannya cukup parah," terang Slamet. (yog/kun)

Komentar

?>