Jum'at, 23 Februari 2018

Sudah Masuk Surabaya, Ini Fase Penyakit Kawasaki Pada Bayi

Rabu, 31 Januari 2018 23:09:16 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Sudah Masuk Surabaya, Ini Fase Penyakit Kawasaki Pada Bayi

Surabaya (beritajatim com) - Penyakit Kawasaki memang tergolong unik dan belum pernah diketahui  penyebabnya secara pasti. Penyakit ini pertama kali ditemukan oleh dokter Kawasaki di Jepang.

Namun para orang tua, terutama ibu agar mengetahui fase-fase penyakit yang menyerang balita tersebut. Pasalnya, penyakit tersebut sudah masuk Surabaya. Penyakit Kawasaki dapat mengakibatkan pembengkakan pada kelenjar getah bening dan memacu komplikasi.

Dokter Spesialis Anak RSUD dr Soetomo Surabaya, dr Agus Harianto SpA(K)mmengungkapkan, hingga saat ini belum bisa diketahui secara pasti penyebab penyakit itu. Terlebih belum ada pemeriksaan secara laboratorium yang menemukan penyebabnya.

"Dokter pun masih mengalami kesulitan mendiagnosis penyakit ini. Meski bisa didiagnosis secara klinis, tapi masih jarang ada yang mengetahui. Sekali lagi, ini bukan disebabkan oleh virus," ujarnya ketika ditemui di Siloam Hospital, Rabu (31/1/2018).

Ia mengungkapkan, belum ada pemeriksaan secara laboratorium yang dapat memaparkan hasil pasti mengenai penyakit itu, tapi geja-gejalanya bisa di lihat secara pasti. "Demamnya bisa didiagnosa demam berdarah juga, pembengkakan kelenjar getah bening di leher juga bisa dikira penyakit gondok," urainya.

Sementara itu, penyakit yang paling umum terjadi pada bayi dan anak-anak itu, stadium awal berupa ruam dan demam. Gejalanya berupa demam tinggi dan kulit mengelupas. Pada stadium akhir, ada peradangan pembuluh ukuran darah menengah (vaskulitis). Kondisi ini juga memengaruhi kelenjar limfa, kulit, dan selaput lendir, seperti di dalam mulut.

"Tapi gejala lainnya seperti  kejang bisa dikira meningitis itu juga akan terjadi. Sehingga pemeriksaan penyakit kawasaki paling akurat bisa dilakukan oleh dokter spesialis jantung," ungkapnya.

Ia menjelaskan, ada 3 stadium pada penyakit Kawasaki. Yaitu pada stadium atau fase akut pada 10 hari pertama yang biasanya demam seperti demam berdarah. Demam ini tidak merespons pengobatan antibiotika.

"Selain demam, akan muncul gejala-gejala lainnya yaitu mata merah namun tidak terdapat kotoran mata, bibir tampak memerah dan pecah-pecah, lidah juga tampak sangat merah seperti tomat, disertai kemerahan merata pada rongga mulut," paparnya.

Kemudian fase sub akut pada hari ke-11 hingga ke-25. Pada fase ini penyakit mulai menyerah pembuluh darah dan jantung. Arteri koroner menggelembung, terdapat cairan di rongga selaput jantung, gagal jantung bahkan sampai infark miokard.

"Bahkan jumlah trombosit darah bisa meningkat, terdapat juga pengelupasan kulit di ujung jari tangan dan kaki, kemerahan, demam dan benjolan di leher menghilang. Terakhir fase konvalesen atau penyembuhan pada lebih dari 25 hari," jelasnya.

Ia memaparkan kasus ini memang sulit didetekai dokter jika memang belum pernah menanganinya. Meskipun terbilang langka, dokter yang membuka praktik di area Mulyosari, Surabaya ini menemukan beberapa kasus Kawasaki tiap tahunnya di Surabaya. "Tahun 2017 ada 2 pasien saya yang didiagnosa penyakit ini," pungkasnya.

Berita sebelumnya, Bayi bernama Rayyanza Hamizan Meyfiddanca diduga terjangkit virus langka yang sering disebut virus Kawasaki. Saat ini, putri pasangan Catur Irawan dan Fidhiza Erika Diastika, tengah mendapatkan penanganan intensif di Rumah Sakit Siloam Surabaya. [ito/suf]

Tag : penyakit

Komentar

?>