Jum'at, 23 Februari 2018

Masbuhin: Perawat Suntik Mayat di RS Siti Khodijah adalah Hoax

Selasa, 30 Januari 2018 17:33:56 WIB
Reporter : M. Ismail
Masbuhin: Perawat Suntik Mayat di RS Siti Khodijah adalah Hoax

Sidoarjo (beritajatim.com) - Rumah Sakit Siti Khodijah Taman menuding video tentang perawat yang melakukan suntik terhadap mayat almarhumah Supariyah (67) pasien asal Desa Ketegan RT 09 RW 02, kecamatan Taman yang diunggah dan viral media sosial oleh Dawud Hamzah anak almarhumah, adalah berita hoax dan sengaja ingin mencemarkan RS Siti Khodijah dan dokter Hamdan selaku dokter spesialis saraf yang menangani Supariyah.

Pernyataan itu diutatakan Kuasa Hukum RS Siti Khodijah Taman, Masbuhin dalam press release yang digelar di Rumah Sakit Siti Khodijah, Selasa (30/1/2018). 

Masbuhin juga mengatakan, motif penyebaran video yang berdurasi kurang lebih 3 menit 11 detik itu dilakukan secara sistematis, massif dan terstruktur oleh orang berinisial DH (41) untuk mencemarkan nama baik rumah sakit dan dokter spesialis yang menangani. 

"Video yang disebar dan menjadi viral itu, sengaja dibuat untuk mencemarkan nama baik rumah sakit ini dan dokter yang menangani. Kami memiliki bukti dan ucapan sebelum video itu viral, si pengunggah mengancam kepada klien kami," kata Masbuhin.

Masbuhin juga meminta kepada keluarga almarhumah untuk melakukan klarifikasi soal video yang diunggah tersebut. Jika sampai 14 hari kedepan, tidak mempunyai niatan baik, pihaknya akan melaporkan menyebarluaskan informasi elekttonik yang muatan pencemaran nama baik seperti diatur dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE.  

"Itu sangat tidak benar dan hoax kalau dikatakan perawat menyunyik mayat. Berita dan istilah perawat menyuntik mayat itu sengaja dibuat dan disebarkan agar mendapat simpati dan untuk rusaknya nama rumah sakit dan dokter," jelasnya. 

Masbuhin tidak menampik dengan adanya pelayanan kurang prima terhadap para pasien, karena banyaknya pasien tidak sebanding dengan tenaga medis yang ada. 

Namun, hal itu bukan berarti pihak rumah sakit menelantarkan pasien dan sampai melakukan penguntikan terhadap mayat. "Kami selalu menuju perbaikan melakukan koreksi dan pelayanan prima sehingga pasien tertangani dengan baik bahkan pasien merasa puas," terangnya.

Selain itu, apabila memang ada hal-hal yang diluar dugaan seperti pasien meninggal di rumah sakit, pihak rumah sakit juga berempati dan mengucapkan bela sungkawa sesuai tradisi yang ada di RS Siti Khodijah.

"Tidak hanya mengucapkan bela sungkawa, tetapi kami juga melakukan tradisi seperti ikut silaturahim dan ta'ziyah ke rumah duka. Semua itu sudah dilakukan secara sosiologis 1 bulan lalu kepada keluraga almarhumah," katanya.

Masbuhin juga menceritakan catatan medis rumah sakit pada hari kamis tanggal 21 Desember 2017 pukul 22.00 WIB, perawat membangunkan pasien yang sedang tidur untuk tujuan memberikan injeksi, obat vomceran dan OMZ, dimana sebelum dilakukan injeksi, perawat terlebih dahulu melakukan pemeriksaan dan kondisi pasien normal.

Sekitar pukul 22.20 WIB, dr Hamdan melakukan visite dan memeriksa pasien setelah injeksi yang sebelumnya dilakukan perawat dan diketahui nadi, nafas pasien normal dan keluarga mengetahui hal itu. 

Setelah itu, sekitar pukul 22.35, dr Hamdan kembali visite ke pasien lain dan kembali ke ruang perawat sekitar pukul 22.45 WIB. "Nah pukul 22.45, keluarga pasien menghubungi perawat untuk dilakukan pemeriksaan. Dalam pemeriksaan ternyata Sp02 tidak muncul, tensi tidak terukur, nadi tidak teraba," papar Masbuhin.

Mengetahui hal itu, perawat langsung melaporkan ke dr Hamdan. Setelah diperiksa, dr Hamdan melakukan pijat jantung, akan tetapi pasien tidak terselamatkan. "Pasien dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 23.00 akibat cardiac arrest atau serangan jantung," jelas Masbuhin menutup. (isa/ted)

Komentar

?>