Rabu, 23 Mei 2018

Membaca dan Menulis Kunci Kebangkitan Peradaban Islam

Minggu, 21 Januari 2018 21:40:34 WIB
Reporter : Samsul Arifin
Membaca dan Menulis Kunci Kebangkitan Peradaban Islam
Membaca dan menulis kunci penting kebangkitan Islam. [Foto: Samsul/bj.com]

Pamekasan (beritajatim.com)--Membaca dan menulis diibaratkan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan lainnya, sebab keduanya menjadi poin penting dalam sejarah kebangkitan dan peradaban Islam.

Hal itu disampaikan salah satu Pengurus Komunitas Baca Rakyat Madura Rijal Mumazziq saat mengisi materi Ngaji Membaca dengan tema 'Kajian Spirit Iqra' dalam Mengawal Kebangkitan Islam dalam program Pekan Ngaji 3 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Minggu (21/1/2018).

"Membaca merupakan salah satu perintah pertama dalam Islam, sehingga dalam perkembangannya membaca dan menulis juga menjadi salah satu cara membangkitkan semangat umat Islam, khususnya dalam aspek kebangkitan dan peradaban," kata Rijal Mumazziq.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan bahwa membaca maupun menulis sudah menjadi tradisi sejak keberadaan Islam, sekalipun Rasulullah Muhammad SAW merupakan sosok nabi ummy (tidak bisa membaca dan menulis). Wahyu pertama yang diturunkan Tuhan berupa Iqra' (bacalah).

"Aktivitas membaca dan menulis sudah sangat lama dipraktikkan oleh para sahabat Nabi maupun generasi tabi'in dan seterusnya. Sehingga menghasilkan mahakarya besar seperti kitab suci al-Qur'an yang kita baca saat ini," ungkapnya.

Tidak hanya itu, kebiasaan membaca dan menulis juga diterapkan oleh generasi berikutnya pasca masa tabi'tabi'in. Termasuk juga ribuan hadits Nabi hingga karya ulama yang masih dikaji hingga saat ini, itu menandakan sebagai salah satu pentingnya membaca dan menulis, tegasnya.

Dari itu pihaknya mengajak para santri untuk tetap bersemangat sekaligus memotivasi diri agar gemar membaca dan menulis.

"Saat ini seyogyanya kita harus meneladani sifat dan hobi para sahabat Rasulullah atau bahkan tabi' tabi'in, mereka senantiasa aktif membaca dan menulis hingga akhirnya mampu melahirkan beberapa mahakarya yang masih riil untuk kita pelajari hingga saat ini," jelasnya.

Bahkan yang tidak kalah penting, dalam aktivitas membaca dan menulis yang dilakukan oleh para sahabat hingga para ulama. Mahakarya mereka justru dikenang hingga saat ini.

"Padahal karya-karya yang mereka gagas sudah ditulis sejak ribuan tahun silam," pungkasnya.

Kegiatan Ngaji Membaca dalam rangka event internasional pesantren Bata-Bata, juga menghadirkan pemateri yang berasal dari Ma'had Aly Paiton Probolinggo, Abdul Basid. Sementara para peserta melibatkan ribuan santri yang diletakkan di musala utama pesantren. [pin/air]

Komentar

?>