Jum'at, 19 Oktober 2018

Disertasi Gelar Doktor Ilmu Sosial Unair ke 202

Agus Machfud Beberkan Faktor Kemenangan dan Kekalahan Petahana di Pilkada

Kamis, 04 Januari 2018 22:19:12 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Agus Machfud Beberkan Faktor Kemenangan dan Kekalahan Petahana di Pilkada

Surabaya (beritajatim.com) - Agus Machfud Fauzi berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Sosial ke-202, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Ia dinyatakan memperoleh gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan, yakni indeks komulatif 3,66. Dia menuntaskan studi yang ditempuhnya selama enam tahun.

Selain itu, pria yang juga pernah menjabat komisioner KPU Jatim itu berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul 'Faktor-faktor Kemenangan dan Kekalahan Petahana, Studi Tentang Pilkada Empat Provinsi di Indonesia" di hadapan tujuh dewan penguji dan penyanggah pada sidang terbuka di ruang Adi Sukadana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kamis (4/1/2018).

"Pada dasarnya disertasi ini saya ingin mengungkap masalah bagaimana seorang inkumben dapat mempertahankan kepemimpinannya dalam merespon pemilihan di Indonesia. Karena biasanya Implementasi Pilkada menghasilkan dua hal, yakni beberapa diantaranya ada yang menang dan kalah, sebaliknya bagaimana inkumben bisa mendapatkan kekalahan saat lima tahun sebelum meraih kemenangan di Pilkada," ungkap Agus.

Pria yang aktif mengajar di Unesa itu memaparkan latar belakang politik di Indonesia yang mengalami perkembangan dinamis, didukung hadirnya proses desentralisasi dan demokratisasi. Serta rumusan masalah yang bertujuan megetahui kemenangan dan kekalahan petahana.

"Inkumben atau petahana memiliki keunggulan dibandingkan dengan calon penantang, karena selama lima tahun ia memimpin sebagai gubernur. Petahana telah melakukan kampanye tidak dalam arti menyapa dan langsung bertemu dengan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung dengan tampil di berbagai media," jelas pria kelahiran Ponorogo ini.

Ia mengungkapkan, penelitian yang digarapnya itu menjelaskan bagaimana seorang inkumbent harus mampu mempertahankan kemenangannya saat dirinya maju dalam Pilkada. Namun, incumben diharapkan harus siap dan mampu menganalisa para penantang yang telah memiliki tujuan untuk mendapatkan kekuasaan karena kepemimpinan pemerintah yang berkuasa mengambil alih.

"Inkumben harus dapat mengklarifikasi berbagai isu negatif yang biasanya diarahkan kepadanya, bahkan incumbent pun bisa mengubah hambatan menjadi peluang yang bisa diraih kembali. Namun selain itu, dia harus bisa diterima sub kultur yang ada," urainya.

Selain itu, tambahnya, pejabat yang kalah dalam pemilihan periode kedua, diilustrasikan bahwa inkumbent tidak dapat menyajikan keberhasilan program kerjanya, incumbent tidak memiliki program jangka panjang. "Kekalahan petahana biasanya tidak menyadari janjinya, dia tidak dapat berkomunikasi dengan partai politik dan rakyatnya," tegasnya.

Dalam penelitian yang dilakukan dengan metode kualitatif yang tertera di disertasinya, Ia juga mencontohkan beberapa pelaksanaan Pilkada 2012-2013 dengan kemenangan dan kekalahan petahana di empat provinsi, yang meliputi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan Barat.

Seperti di Kalbar, Cornelis sang Petahana yang mampu mempertahankan kemenangannya bahkan dijuluki dengan Cornelis sang pemersatu di wilayah setempat. Di Jatim Pakde Karwo karena keduanya mampu mempraktikkan kinerja positif seperti berhasil menjalankan program kerja, dan mampu melaksanakan sesuai janji kampanye.

Lain halnya, dengan kekalahan petahana, seperti Fauzi Bowo yang gagal terpilih kembali di provinsi DKI Jakarta, dan Bibit Waluyo di Provinsi Jateng. Pasalnya keduanya kurang mampu dalan menjalankan 10 tindakan yang berujung pada meningkatnya perolehan suara saat pemilihan berikutnya.

"Kekalahan dan kemenangan itu ada pada program kerja, program berjangka, tidak mengingkari janji kampanye, mampu memberikan solusi cerdas, mampu membaca kebutuhan rakyat, berkomunikasi baik dengan para parpol baik pengusung maupun lainnya, kemampuan menjaga kebersamaan, melakukan pemasaran politik. Jika itu tidak dilakukan petahana atau inkumbent tidak bakal terpilih," tandasnya.

Diketahui, penguji dan penyanggah diantaranya Dr. Kris Nugroho, Dr Mada Sukmajati, Prof Budi Prasetyo, Prof Bagong Suyanto, Dr Dwi Windyastuti, Dr Hari Wahyudi dan Dr Siti Aminah. Dan juga di hadiri oleh Rektor Unesa Prof. Warsono.

Sementara, sebagai promotor disertasi Agus yaitu Prof Ramlan Surbakti serta Dr Kris Nugroho sebagai Ko-promotor. [ito/suf]

Tag : unair

Komentar

?>