Jum'at, 19 Januari 2018

Guru Ingin Istigosah di Alun-alun Jember, Desak Terbitnya SK Penugasan

Selasa, 02 Januari 2018 21:33:34 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Guru Ingin Istigosah di Alun-alun Jember, Desak Terbitnya SK Penugasan

Jember (beritajatim.com) - Beberapa orang guru ingin menggelar istigosah dan doa bersama di alun-alun Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ini bagian dari ikhtiar untuk mendesak agar surat penugasan guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) segera diterbitkan Bupati Faida.

Permintaan ini disampaikan langsung beberapa perwakilan GTT dan PTT kepada Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jember Supriyono, usai rapat dengar pendapat, di gedung DPRD Jember, Selasa (2/1/2018).

"Kami ingin melaksanakan istigosah di alun-alun. Biar doa kami bisa cepat didengar. Kami tidak mau demo, tapi aksi damai, melakukan istigosah," kata Ratna, salah satu guru honorer dari Kecamatan Gumukmas.

Supriyono mengatakan, masih akan melihat perkembangan. "Nanti kita tata sedemikian rupa, agar yang kita lakukan efektif. Jangan sampai melakukan sesuatu tapi menimbulkan masalah baru. Nanti kita tata ulang. Yang teman-teman kompak dan solid," katanya.

Menurut Supriyono, aksi massa guru tetap akan diagendakan. "Kalau itu memang harus kami lakukan, akan kami lakukan. Gampang, karena guru-guru kita ini kalau dikomando, cepat. Nanti kami akan cari tempat di mana doa kami cepat diterima Allah dan bupati mendengarkan," katanya.

Usai rapat, Supriyono menyampaikan beberapa hasil pertemuan kepada ratusan guru yang menanti di halaman gedung DPRD Jember. Suasana heroik dan mengharukan muncul saat Muhammad, seorang guru asal Kecamatan Ledokombo, membacakan doa penutup.

"Berikanlah petunjuk kepada pemimpin kami yang hatinya masih tertutup. Jadikan kami guru yang tabah. Kami yang dianiaya oleh pemimpin kami, sadarkanlah pemimpin kami, Ya Allah agar apa-apa yang kami minta, SK yang kami minta cepat diberikan oleh bupati yang sekarang tidak hadir. Allahu Akbar," kata Muhammad.

GTT dan PTT memprotes Bupati Faida yang tidak juga menerbitkan surat penugasan sebagaimana diamanatkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2017. Tanpa surat penugasan, para guru dan pegawai honorer ini tidak boleh menerima honor yang berasal dari alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Hingga akhir 2017, mereka belum menerima honor karena persoalan ketiadaan surat penugasan itu. Gara-gara persoalan ini, para guru ini sempat melakukan aksi mogok medio Oktober lalu. [wir/but]

Tag : guru jember

Komentar

?>