Senin, 18 Desember 2017

9 Tahun, Yayasan Wings Peduli Kasih Komitmen Bangun Impian Anak Penyandang Craniofacial

Kamis, 07 Desember 2017 12:25:15 WIB
Reporter : Kuntoro Rido Astomo
9 Tahun, Yayasan Wings Peduli Kasih Komitmen Bangun Impian Anak Penyandang Craniofacial

Surabaya (beritajatim.com) - Yayasan Wings Peduli Kasih milik Wings Corporation, masih fokus dan komitmen memberikan bantuan medis secara cuma-cuma dengan mengoperasi sejumlah penyandang craniofacial (cacat wajah, red) yang kebanyakan adalah anak-anak berusia di bawah lima tahun. Tercatat, sejak 2008 mereka telah membantu hampir 200 penyandang craniofacial.

Menurut Luciana Tanoyo, Direktur Yayasan Wings Peduli Kasih, pihaknya memutuskan untuk concern kepada isu craniofacial karena secara medis, penyandang craniofacial hanya mengalami kelainan fisik, bukan mental.

Sehingga akan sangat disayangkan apabila penyandang craniofacial yang masih dalam usia sekolah tidak dapat mengenyam pendidikan semestinya hanya gara-gara rendah diri atau minder karena kelainan wajah yang dideritanya.

"Kami mengutamakan pengobatan untuk anak dan remaja usia sekolah. Pertimbangannya karena dukungan untuk mereka tidak akan berhenti pada tahap pengobatan dan tindakan medis saja, tetapi anak-anak tersebut juga akan mendapatkan beasiswa pendidikan," ujarnya dalam penandatanganan kerjasama dengan 4 pilar yakni Yayasan Wings Peduli Kasih, Yayasan Citra Baru Surabaya, RS Premiere Surabaya dan Tim Dokter RSUD Dr. Soetomo di RS Premiere Surabaya, Kamis (7/12/2017) siang.

Dalam penandatanganan kerjasama bersama, RS Premier Surabaya sebagai pendukung fasilitas, sarana dalam pelayanan medis, Yayasan Wings Peduli Kasih sebagai pendukung dana, dan Yayasan Citra Baru Surabaya sebagai pekerja sosial dalam tatalaksana organisasi bantuan sosial.

Menurut salah satu anggota Tim Dokter dalam program ini, dr Lobredia Zarasade SpBP RE(KKF), craniofacial adalah penyakit kelainan pada tulang wajah dan jaringan lunak daerah kepala yang merupakan kecacatan bawaan lahir yang diduga disebabkan oleh multifaktoral di antaranya faktor keturunan karena mutasi dari gen yang diturunkan seperti apert syndrome, crouzon syndrome dan sebagian dari bibir sumbing.

"Faktor lingkungan juga sangat besar. Misalnya si Ibu yang bekerja, bisa jadi kekurangan nutrisi seperti asam folat, infeksi virus, radiasi dan kekurangan vitamin B," ujar dr Lobredia yang tergabung dalam Tim Craniofacial RSUD Dr. Soetomo Surabaya di bawah pimpinan Prof. Dr. dr. Djohansjah Marzoeki, SP.BPRE(K).

Selain itu, lanjutnya, craniofacial juga bisa disebabkan jika sang ibu minum obat-obatan bebas tanpa resep dokter pada kehamilan trimester pertama sehingga mengganggu pembentukan pertumbuhan janin terutama pada wajah seperti meningocele dan facial cleft (sumbing pada wajah).

Oleh karena itu, kompleksnya kelainan yang diderita pasien craniofacial, ditambahkan Ketua Yayasan Citra Baru Surabaya, Prof.Dr.dr.David.S.P,Sp.BPRE(K), membutuhkan penanganan terpadu oleh satu tim dokter dari berbagai spesialisasi.

"Jadi semua berkaitan untuk menangani pasien craniofacial, mulai dokter spesialis bedah plastik, bedah syaraf, anestesi, anak, mata, radiologi, THT, patologi kiinik, rehabilitasi medik, dan dokter gigi spesialis orthodonti. Karena kelainan craniofacial ini merupakan kelainan anatomi yang biasanya merupakan kasus bedah dan butuh tindakan operatif," jelasnya.

Sementara itu, Ibu dari Rafania Asyifa Cahya (2), salah satu balita penyandang craniofacial asal Kecamatan Manyar, Gresik, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya setelah sang buah hatinya mendapat bantuan medis. Benjolan sekepal tangan di wajah Rafania, kini telah hilang setelah menjalani operasi. "Saya tidak bisa berkata apa-apa. Hanya terima kasih sedalam-dalamnya yang bisa saya ucapkan," ungkapnya tanpa bisa menahan air mata. [kun]

Berita Terkait

    Komentar

    ?>