Minggu, 21 Januari 2018

Musim Penghujan, Kasus DBD di Kota Kediri Naik

Sabtu, 02 Desember 2017 11:19:49 WIB
Reporter : Nanang Masyhari
Musim Penghujan, Kasus DBD di Kota Kediri Naik

Kediri (beritajatim.com)  - Memasuki musim penghujan di akhir tahun 2017 ini, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Kediri mulai mengalami trend kenaikan. Selama tiga bulan terakhir terjadi lonjakan jumlah penderita lebih dari 100 persen.
 
Data Dinas Kesehatan Kota Kediri menyebutkan, sepanjang bulan November 2017 ini tercatat ada enam kasus DB. Jumlah tersebut melonjak tajam dari bulan Oktober dua kasus dan September hanya satu kasus. Peningkatan jumlah penderita penyakit menular BD ini dipengaruhi musim hujan yang memicu perkembang biakan nyamuk aedes aigepty, penyebab DB.
 
Kasi Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kota Kediri Hendik Supriyanto mengatakan, kasus DB ditemukan pada setiap bulan di sepanjang tahun 2017 ini. Dari bulan Januari hingga akhir November tercatat ada 140 kasus dengan persebaran secara merata di tiga wilayah kecamatan, mojoroto, kota dan pesantren. Jumlah ini sebenarnya lebih sedikit bila dibandingkan tahun 2016 lalu sebesar 338 kasus, karena terjadi ledakan serangan tertinggi pada siklus lima tahunan.
 
“Kasus DBD terkait dengan musim. Sehinga musim penghujan ini terjadi peningkatan, meskipun tidak terlalu tinggi, tetapi bisa kita rasakan.Trend perbulan itu mulai Januari sampai sekarang hampir di semua bulan ada kasus. Menginjak bulan November ada penambahan,” kata Hendik, Minggu (2/12/2017).
 
Dilihat dari wilayah, Kecamatan Mojoroto paling endemik serangan DB. Dari total 140 kasus, 63 diantaranya berada di Kecamatan Mojoroto, disusul Kecamatan Pesantren 39 kasus dan sisanya 38 kasus di Kecamatan Kota. Data ini dipastikan terus bergerak naik pada bulan Desember 2017 ini, karena musim penghujan sedang berlangsung hingga memasuki 2018 mendatang.
 
Hendik mengatakan, wilayah Kecamatan Mojoroto paling endemik karena jumlah penduduknya lebih padat dibanding kecamatan lainnya. Selain itu, di kecamatan ini juga banyak berdiri lembaga pendidikan berbasis agama. Keberadaannya disebut menjadi faktor tingginya serangan DB dibanding kecamatan lain.
 
Terhadap lonjakan serangan penyakit DB ini, Dinas Kesehatan telah melakukan berbagai langkah penanganan. Bila ada temuan kasus baru, sesuai laporan dari rumah sakit, dinkes kemudian melakukan penyelidikan epidemiologi. Metode ini dilakukan untuk mengetahui tempat penularan penyakit DB.
 
“Kita datangi lokasi dimana DB itu muncul. Kita pastian tempat penularannya. Sebab, kadang pasien terjangkiti DB di tempat lain, seperti kalau anak-anak di sekolah atau di tempat neneknya,” jelas Hendik.
 
Setelah dipastikan tempat penularan DB, Dinkes selanjutnya melaksanakan upaya pemberantasan sarang nyamuk atau yang biasa disebut dengan istilah PSN melalui program 3M Plus. Tetapi, apabila dimungkinkan untuk dilakukan pengasapan atau fogging akan dilakukan petugas secara gratis, tanpa ada pungutan biaya.
 
“Kita tetap mendahulukan promotif dan preventif untuk pencegahan dengan melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk,” imbuhnya.
 
Dalam upaya pencegahan tersebut, Hendi menyarankan, masyarakat merubah budaya bangunan bak air di kamar mandi menjadi timba. Menurutnya timba lebih efektif untuk dibersihkan ketimbang bak air dari keramik. Sehinga, jentik nyamuk dengan mudah dibersihkan. Penampungan air rumah tangga memang menjadi tempat perkembang biakan nyamuk. Khusus nyamuk aedes juga bisa berkembang biak di tempat alamiah seperti, lobang di pohon, tunggul bambu dan wadah lingkungan buatan di perkotaan.
 
Sementara itu, untuk kegiatan fogging atau pengasapan kata Hendik seluruhnya ditanggung oleh pemerintah. Dinkes menyediakan obat insektisida, mesin dan juga tenaga fogging. Seluruh kegiatan fogging gratis untuk masyarakat. Dinkes hanya meminta penderita DB patuh saat menjalani perawatan, sehingga temuan kasus DBD dapat dipantau dan ditangani oleh pemerintah.
 
“Peralatan dan obat untuk fogging tidak ada masalah selama ini. Setiap ada kasus, kia tindak lanjuti di masyarakat secara gratis. Bahkan, masyarakat tidak perlu laporan, pokoknya penderitanya patuh, mau rawat inap di rumah sakit, dan rumah sakit melapor ke kami. Kalau penderitanya tidak melapor, dan tidak dirawat, sehingga kami tidak tahu. Sehingga, deteksi dini itu penting bagi masyarkaat, melaksanakan perintah dari dokter, kesannya untuk mangamar dan sebaiknya,” sarannya.
 
Masih katanya, untuk bantuan obat-obatan seperti abate yang ditaburkan ke tempat penampungan air warga, selama ini Dinkes langsung mendistribusikan melalui puskesmas-puskesmas yang ada. Menurut pantauan Dinkes, kebutuhan obat-obatan sudah mencukupi. Tetapi apabila dalam prakteknya terjadi kekurangan, usulan dari masyarakat akan ditampung dan alokasinya ditambah. (nng/kun)

 
Data Kasus DBD Kota Kediri Tahun 2017
 
 
Bulan
Jumlah kasus
 
Total
Kecamatan Mojoroto
Kecamatan Kota
Kecamatan Pesantren
Tahun 2016
169
102
67
338
Januari
12
11
8
31
Februari
12
5
6
23
Maret
11
4
10
25
April
8
4
5
17
Mei
3
8
2
13
Juni
1
3
2
6
Juli
-
1
3
4
Agustus
10
2
-
12
September
-
-
1
1
Oktober
2
-
-
2
November
4
-
2
6
Total
63
38
39
140

Berita Terkait

    Komentar

    ?>